Sumber: Associate Press | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
Di media sosial Rusia, kemarahan meluap. Sejumlah blogger militer menuding Kremlin gagal menunjukkan ketegasan. Bahkan ada usulan agar kontraktor militer swasta ditempatkan di kapal-kapal tanker guna mencegah penyitaan di masa depan.
Namun Fried menilai Rusia berada dalam posisi lemah. Selain invasi ke Ukraina, klaim hukum Rusia atas kapal tersebut juga rapuh karena izin bendera Rusia bersifat sementara.
“Secara strategis, Rusia sedang terlalu terbebani dan rentan,” ujarnya. “Mereka bertahan dalam perang Ukraina yang tidak mereka menangkan, sementara ekonomi mereka terpukul.”
Fried menambahkan, Putin kemungkinan enggan memprovokasi Trump secara langsung.
“Putin justru sering mendapatkan hasil lebih baik ketika ia merayu Trump,” katanya.
Di tengah meningkatnya ketegangan ini, Senator AS Lindsey Graham mengungkapkan bahwa Trump telah memberi lampu hijau untuk rancangan undang-undang sanksi baru terhadap Rusia, yang ditujukan untuk melumpuhkan ekonomi Moskow.
Tonton: AS Tangkap Presiden Venezuela, Amankah Pasokan BBM Indonesia?
Kesimpulan
Penyitaan kapal tanker Rusia oleh Amerika Serikat menjadi titik nyala baru dalam hubungan Moskow–Washington, mempertegas kerasnya konfrontasi geopolitik di tengah perang Ukraina dan konflik energi global. Meski Rusia melontarkan kecaman tajam, ruang geraknya terbatas, sementara AS tampak semakin percaya diri menegakkan sanksi. Insiden ini berpotensi menjadi preseden berbahaya bagi keamanan pelayaran internasional sekaligus memperdalam jurang ketegangan antara dua kekuatan besar dunia.













