Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia kembali melemah untuk hari kedua berturut-turut pada Rabu (15/4), seiring meningkatnya harapan dimulainya kembali perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran.
Melansir Reuters, harga Brent Crude turun 0,55% menjadi US$ 94,27 per barel, setelah sebelumnya anjlok 4,6%.
Sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) terkoreksi 1,1% ke level US$ 90,24 per barel, usai merosot 7,9% pada sesi sebelumnya.
Baca Juga: AS Tuduh China Timbun Minyak Saat Perang, Sebut Mitra Global Tak Dapat Diandalkan
Penurunan ini dipicu optimisme pasar bahwa negosiasi antara AS dan Iran dapat segera dilanjutkan, yang berpotensi membuka kembali pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah.
Presiden Donald Trump sebelumnya menyatakan bahwa pembicaraan damai bisa kembali digelar di Pakistan dalam waktu dekat, setelah perundingan sebelumnya gagal dan memicu blokade terhadap pelabuhan Iran.
Selat Hormuz Masih Terganggu
Meski ada harapan diplomasi, kondisi di lapangan masih belum stabil. Penutupan Selat Hormuz, jalur vital distribusi minyak global masih membatasi arus pengiriman energi.
Lalu lintas kapal di kawasan tersebut masih jauh di bawah normal, hanya sebagian kecil dari sekitar 130 kapal yang biasanya melintas sebelum konflik terjadi.
Bahkan, kapal perang AS sempat menghentikan dua tanker yang mencoba keluar dari Iran, menegaskan ketatnya implementasi blokade.
Baca Juga: Kapal Perang AS Cegat Dua Tanker Minyak Iran, Blokade Mulai Diuji Efektivitasnya
Pasar Masih Dibayangi Ketidakpastian
Analis menilai, pasar minyak saat ini masih mencerminkan ketidakpastian tinggi, bukan pemulihan penuh pasokan.
“Pasar masih memperhitungkan risiko gangguan pasokan, bukan kembali ke keseimbangan,” tulis analis The Schork Group.
Selain itu, potensi berkurangnya pasokan juga muncul setelah pemerintah AS dikabarkan tidak memperpanjang pengecualian sanksi terhadap minyak Iran dan Rusia.
Baca Juga: Kekuasaan Perang Trump Terancam? Senat AS Gelar Voting Penting
Fokus ke Data Stok AS
Pelaku pasar kini menantikan data resmi persediaan minyak AS dari Energy Information Administration (EIA).
Survei Reuters memperkirakan stok minyak mentah AS naik tipis, sementara persediaan bensin dan distilat justru menurun.
Sumber pasar juga menyebut stok minyak AS telah meningkat selama tiga pekan berturut-turut.
Ke depan, arah harga minyak akan sangat bergantung pada perkembangan negosiasi geopolitik serta dinamika pasokan global yang masih rapuh.













