kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.893.000   30.000   1,05%
  • USD/IDR 17.162   18,00   0,10%
  • IDX 7.696   19,65   0,26%
  • KOMPAS100 1.065   2,27   0,21%
  • LQ45 765   0,97   0,13%
  • ISSI 279   1,74   0,63%
  • IDX30 408   1,41   0,35%
  • IDXHIDIV20 493   1,67   0,34%
  • IDX80 119   0,18   0,15%
  • IDXV30 138   1,28   0,94%
  • IDXQ30 130   0,35   0,27%

AS Tuduh China Timbun Minyak Saat Perang, Sebut Mitra Global Tak Dapat Diandalkan


Rabu, 15 April 2026 / 08:15 WIB
AS Tuduh China Timbun Minyak Saat Perang, Sebut Mitra Global Tak Dapat Diandalkan
ILUSTRASI. Bendera AS dan China (Ng Han Guan/Pool/REUTERS)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Scott Bessent menuding China sebagai mitra global yang tidak dapat diandalkan karena menimbun pasokan minyak selama konflik di Timur Tengah.

Menurut Bessent, langkah China tersebut memperburuk ketidakseimbangan pasokan energi global di tengah lonjakan harga minyak akibat perang Iran.

“China telah menjadi mitra global yang tidak andal tiga kali dalam lima tahun terakhir,” ujarnya, merujuk pada penimbunan alat kesehatan saat pandemi COVID-19 serta pembatasan ekspor mineral tanah jarang sebelumnya dilansir dari Reuters Rabu (15/4/2026).

Baca Juga: Kapal Perang AS Cegat Dua Tanker Minyak Iran, Blokade Mulai Diuji Efektivitasnya

Timbun Minyak di Tengah Krisis Energi

Bessent menyebut China terus membeli dan menimbun minyak, meskipun sudah memiliki cadangan strategis yang besar.

Ia menilai, langkah ini tidak membantu meredakan kekurangan pasokan global.

Kondisi pasar energi global memang tengah tertekan setelah Iran menutup Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dunia.

Bahkan, menurut Bessent, China membeli lebih dari 90% minyak Iran, yang menyumbang sekitar 8% dari total impor minyak tahunannya.

Baca Juga: Kekuasaan Perang Trump Terancam? Senat AS Gelar Voting Penting

Hubungan AS-China Tetap Dijaga

Meski melontarkan kritik, Bessent menegaskan hubungan antara Presiden Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping tetap baik.

Ia menyebut komunikasi menjadi kunci stabilitas hubungan kedua negara, terutama menjelang rencana kunjungan Trump ke Beijing pada pertengahan Mei.

“Saya pikir pesan utamanya adalah stabilitas. Komunikasi adalah kunci,” kata Bessent.

Baca Juga: Menkeu AS: Ekonomi Masih Kuat, Pertumbuhan Bisa Tembus 3,5% Meski Ada Perang Iran

China: Fokus Hentikan Konflik

Menanggapi tudingan tersebut, pihak Kedutaan Besar China di Washington menilai gangguan pasar energi global disebabkan oleh eskalasi konflik di Timur Tengah.

China menyerukan penghentian segera operasi militer agar dampak terhadap ekonomi global tidak semakin meluas.

Beijing juga mengklaim terus berupaya memainkan peran konstruktif dalam meredakan konflik.

Baca Juga: Goldman Sachs Rilis ETF Bitcoin Saat Harga Anjlok

Risiko Perburuk Krisis Global

Sejumlah lembaga internasional seperti International Monetary Fund, World Bank, dan International Energy Agency sebelumnya telah mengingatkan negara-negara untuk tidak menimbun energi atau membatasi ekspor, karena dapat memperparah guncangan terbesar dalam pasar energi global.

Di sisi lain, blokade AS terhadap pelabuhan Iran turut memperketat pasokan energi, dengan harga minyak sempat melonjak di atas US$ 100 per barel.

Ketegangan ini menambah risiko terhadap stabilitas ekonomi global, terutama jika konflik berkepanjangan dan aksi balasan antarnegara terus meningkat.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×