Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Scott Bessent optimistis ekonomi AS tetap solid dan berpotensi tumbuh di atas 3% hingga 3,5% pada 2026, meskipun terdampak konflik Iran.
“Saya pikir fundamental ekonomi tetap kuat. Pertumbuhan bisa dengan mudah melampaui 3% hingga 3,5% tahun ini,” ujar Bessent dalam acara WSJ Opinion Live di Washington dilansir Reuters, Selasa (14/4/2026).
Baca Juga: Wapres AS JD Vance: Ketidakpercayaan AS-Iran Tak Bisa Diselesaikan Semalam
Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran global akibat perang Iran yang mendorong lonjakan harga energi dan mengguncang pasar keuangan.
Bessent juga menilai pemangkasan proyeksi pertumbuhan global oleh International Monetary Fund dan World Bank sebagai reaksi berlebihan.
Sebelumnya, IMF memangkas outlook pertumbuhan global akibat lonjakan harga energi yang dipicu konflik tersebut.
Dampak Geopolitik Masih Membayangi
Konflik di Timur Tengah turut berdampak besar pada sektor energi global, terutama setelah terganggunya distribusi melalui Selat Hormuz, jalur vital yang sebelumnya dilalui sekitar 20% ekspor minyak dan gas dunia.
Baca Juga: Bank Dunia Siapkan Dana Hingga US$ 100 Miliar untuk Negara Terdampak Perang
Kondisi ini menyebabkan harga minyak naik dan meningkatkan tekanan inflasi di berbagai negara.
Meski demikian, pemerintah AS tetap melihat ekonomi domestik cukup tangguh untuk menyerap guncangan tersebut.
Tarif Berpotensi Kembali Naik
Selain itu, Bessent juga menyinggung kebijakan tarif perdagangan AS. Ia menyebut tarif impor berpotensi kembali ke level sebelumnya pada Juli mendatang.
Hal ini menyusul putusan Mahkamah Agung AS pada Februari yang menyatakan, Presiden Donald Trump melampaui kewenangannya dalam menerapkan tarif global secara luas melalui undang-undang darurat.
Baca Juga: Partai Demokrat AS Kembali Dorong Pembatasan Wewenang Perang Trump di Iran
Pemerintah AS kini tengah mempertimbangkan jalur lain, termasuk penyelidikan berdasarkan Section 301 dari Trade Act 1974, untuk mengembalikan kebijakan tarif tersebut.
Dengan kombinasi faktor domestik yang kuat dan kebijakan ekonomi yang adaptif, pemerintah AS tetap optimistis dapat menjaga momentum pertumbuhan meski di tengah tekanan geopolitik global.













