Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Nina Dwiantika
KONTAN.CO.ID - LONDON. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas. Iran dikabarkan mendekati kesepakatan dengan China untuk membeli rudal jelajah antikapal CM-302, di saat Amerika Serikat (AS) mengerahkan armada laut besar ke sekitar perairan Iran.
Mengutip laporan Reuters (25/2), kesepakatan pembelian rudal supersonik CM-302 buatan perusahaan milik negara China, China Aerospace Science and Industry Corp. (CASIC), telah memasuki tahap akhir. Meski demikian, belum ada kepastian terkait jumlah rudal yang dibeli maupun jadwal pengirimannya.
Rudal CM-302 memiliki jangkauan sekitar 290 kilometer dan dirancang terbang rendah dengan kecepatan tinggi untuk menghindari sistem pertahanan kapal. Dua pakar persenjataan menilai, jika benar terealisasi, akuisisi ini akan secara signifikan meningkatkan daya gempur Iran terhadap armada laut AS di kawasan Teluk.
“Ini akan menjadi game changer jika Iran memiliki kemampuan supersonik untuk menyerang kapal di kawasan,” ujar Danny Citrinowicz, peneliti senior Iran di lembaga think tank Israel Institute for National Security Studies, sekaligus mantan perwira intelijen Israel. Menurut dia, rudal jenis ini sangat sulit untuk dicegat.
Negosiasi disebut telah berlangsung setidaknya dua tahun terakhir dan meningkat tajam setelah perang 12 hari antara Israel dan Iran pada Juni lalu. Sejumlah pejabat tinggi militer dan pemerintahan Iran bahkan dilaporkan telah berkunjung ke China pada musim panas lalu, termasuk Wakil Menteri Pertahanan Iran, Massoud Oraei.
Langkah ini terjadi di tengah eskalasi tekanan dari Washington. Presiden AS Donald Trump sebelumnya memberi ultimatum 10 hari kepada Teheran untuk mencapai kesepakatan baru terkait program nuklirnya atau menghadapi aksi militer. Seorang pejabat Gedung Putih menegaskan, opsi tindakan keras tetap terbuka jika diplomasi gagal.
Di sisi lain, AS telah mengerahkan kapal induk USS Abraham Lincoln dan gugus tempurnya, serta USS Gerald R. Ford ke kawasan yang sama. Kedua kapal tersebut mampu membawa lebih dari 5.000 personel dan sekitar 150 pesawat tempur, mempertegas sinyal kesiapan militer Washington.
Baca Juga: UEA Danai Kompleks Perumahan di Gaza, Puluhan Ribu Warga Dapat Hunian
Jika terealisasi, penjualan rudal ini akan menjadi salah satu transfer alutsista paling canggih dari China ke Iran dalam dua dekade terakhir. Langkah tersebut juga berpotensi menabrak rezim sanksi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang kembali diberlakukan pada September lalu.
Analis menilai, potensi transaksi ini mencerminkan semakin eratnya hubungan militer China dan Iran, sekaligus memperlihatkan keberanian Beijing untuk memperluas pengaruhnya di kawasan yang selama ini didominasi kekuatan militer AS.
Selain CM-302, Iran juga disebut tengah menjajaki pembelian sistem rudal pertahanan udara, rudal panggul (MANPADS), hingga senjata antibalistik dan antisatelit dari China.
Bagi pasar global, eskalasi ini menambah daftar panjang risiko geopolitik yang dapat memicu volatilitas harga energi, terutama minyak mentah. Kawasan Teluk merupakan jalur vital distribusi minyak dunia, sehingga setiap peningkatan tensi militer berpotensi langsung tercermin pada pergerakan harga komoditas dan sentimen pasar keuangan global.
Dengan negosiasi yang hampir rampung dan armada AS sudah siaga di sekitar Iran, Timur Tengah kembali menjadi titik panas yang patut dicermati pelaku pasar dalam beberapa pekan ke depan.
Baca Juga: Transformasi Keuangan Berbuah Hasil, Manchester United Cetak Laba Kuartalan













![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)