kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.584.000   35.000   1,37%
  • USD/IDR 16.799   18,00   0,11%
  • IDX 8.945   11,20   0,13%
  • KOMPAS100 1.232   5,57   0,45%
  • LQ45 871   6,27   0,72%
  • ISSI 324   1,18   0,37%
  • IDX30 444   0,97   0,22%
  • IDXHIDIV20 521   5,04   0,98%
  • IDX80 137   0,69   0,51%
  • IDXV30 144   1,30   0,91%
  • IDXQ30 142   0,82   0,58%

China dan Rusia Tolak Langkah Eropa Memulihkan Sanksi terhadap Iran


Senin, 01 September 2025 / 21:20 WIB
China dan Rusia Tolak Langkah Eropa Memulihkan Sanksi terhadap Iran
Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden China Xi Jinping berbincang selama pertemuan di Kremlin di Moskow, Rusia, 8 Mei 2025. China dan Rusia, mendukung Iran pada hari Senin (1/9/2025) dalam menolak langkah negara-negara Eropa untuk memberlakukan kembali sanksi PBB.


Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - DUBAI. Anggota Tetap Dewan Keamanan PBB, China dan Rusia, mendukung Iran pada hari Senin (1/9/2025) dalam menolak langkah negara-negara Eropa untuk memberlakukan kembali sanksi PBB terhadap Teheran yang telah dilonggarkan satu dekade lalu berdasarkan perjanjian nuklir.

Sebuah surat yang ditandatangani menteri luar negeri China, Rusia, dan Iran menyatakan bahwa langkah Inggris, Prancis, dan Jerman untuk secara otomatis memulihkan sanksi di bawah apa yang disebut "mekanisme snapback" adalah "cacat secara hukum dan prosedural".

China dan Rusia adalah penandatangan perjanjian nuklir Iran tahun 2015 dengan negara-negara adidaya, bersama dengan tiga negara Eropa, yang dikenal sebagai E3. Presiden AS Donald Trump menarik Amerika Serikat dari perjanjian tersebut pada masa jabatan pertamanya di tahun 2018.

Baca Juga: Rusia Kecam Langkah Eropa untuk Aktifkan Kembali Sanksi PBB terhadap Iran

Eropa meluncurkan "mekanisme snapback"minggu lalu, menuduh Iran melanggar perjanjian tersebut, yang telah memberikan keringanan sanksi keuangan internasional dengan imbalan pembatasan program nuklir Iran.

Surat yang diterbitkan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi dalam sebuah postingan di X pada hari Senin mengatakan bahwa langkah yang diambil Inggris, Prancis, dan Jerman menyalahgunakan wewenang dan fungsi Dewan Keamanan PBB.

Iran telah lama melanggar batasan produksi uranium yang ditetapkan dalam kesepakatan 2015, dengan alasan bahwa tindakan tersebut dibenarkan sebagai konsekuensi dari penarikan diri Washington dari perjanjian tersebut. 

Kesepakatan tersebut berakhir pada bulan Oktober tahun ini, dan mekanisme snapback akan memungkinkan sanksi yang dicabut berdasarkan kesepakatan tersebut untuk berlaku kembali.

Baca Juga: Trump Isyaratkan AS akan Melonggarkan Sanksi Minyak Iran

Iran dan E3 mengadakan perundingan yang bertujuan untuk mencapai kesepakatan nuklir baru setelah Israel dan AS mengebom instalasi nuklir

Iran pada pertengahan Juni. Namun, E3 menilai bahwa perundingan di Jenewa pekan lalu tidak menghasilkan sinyal kesiapan yang cukup untuk kesepakatan baru dari Iran.

"Surat bersama kami dengan rekan-rekan saya, menteri luar negeri Tiongkok dan Rusia, yang ditandatangani di Tianjin, mencerminkan posisi tegas bahwa upaya Eropa untuk menerapkan snapback tidak berdasar secara hukum dan merusak secara politik", kata menteri luar negeri Iran dalam postingannya di X.


Tag


TERBARU
Kontan Academy
Mastering Management and Strategic Leadership (MiniMBA 2026) Global Finance 2026

[X]
×