kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.670.000   19.000   0,72%
  • USD/IDR 17.981   -32,00   -0,18%
  • IDX 5.876   131,22   2,28%
  • KOMPAS100 765   20,79   2,79%
  • LQ45 582   16,29   2,88%
  • ISSI 204   4,37   2,19%
  • IDX30 329   8,59   2,68%
  • IDXHIDIV20 406   11,61   2,94%
  • IDX80 87   2,30   2,72%
  • IDXV30 110   2,89   2,69%
  • IDXQ30 106   3,06   2,97%

China tuding laporan AS soal kepatuhan AS pada WTO tidak berdasarkan fakta


Rabu, 06 Februari 2019 / 15:20 WIB


Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -  BEIJING. China menentang sebuah laporan dari Kantor Perwakilan Dagang Amerika Serikat (AS) tentang kepatuhan AS terhadap Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Kementerian Perdagangan China menilai laporan tersebut tidak konsisten dan tidak didasarkan pada data faktual.

Mengutip Reuters, China menuding laporan Kantor Perwakilan Dagang AS kepada Kongres AS beberapa waktu lalu hanya didasarkan pada hukum domestik AS dan bukan pada perjanjian WTO dan aturan multilateral.

"Sebagian besar tuduhan terhadap China dalam laporan tersebut melampauhi komitmennya kepada WTO dan tidak memiliki dasar hukum dan fakta yang jelas," sanggah Kementerian Perdagangan China dalam sebuah pernyataan Selasa (5/2) malam.

China menyatakan pihaknya tegas mendukung sistem perdagangan multilateral dan berpartisipasi dalam reformasi WTO. China juga menegaskan pihaknya menentang unilateralisme dan proteksiionisme.

China kemudian mengingatkan bila ada upaya menegosiasikan aturan WTO baru dengan tujuan mengendalikan praktik perdagangan China, maka itu akan sia-sia. Pernyataan China ini diduga ada hubugannya dengan pernyataan Kantor Perdagangan Administrasi Trump pada hari Senin yang berjanji akan mengejar pendekatan sepihan dengan China untuk melindungi pekerja, petani dan bisnis AS.

Sementara Presiden AS Donald Trump mengatakan, pekan lalu, kalau dia akan bertemu dengan Presiden China Xi Jinping dalam beberapa pekan mendatang untuk mencoba menyegel kesepakatan perdagangan yang komprehensif dengan Beijing. Namun ia mengakui belum jelas apakah mereka akan mencapai kesepakatan atau tidak terkait perdagangan.




TERBARU

[X]
×