Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Pemerintah China menyiapkan suntikan modal hingga 54 miliar dollar AS kepada delapan perusahaan asuransi dan bank milik negara.
Langkah ini dilakukan untuk memperkuat permodalan perusahaan sekaligus meningkatkan ketahanan mereka menghadapi risiko.
Melansir Reuters Jumat (11/9/2026), dari jumlah tersebut, lima perusahaan asuransi milik negara akan menerima suntikan modal hingga 70 miliar yuan atau sekitar US$10,4 miliar dari Kementerian Keuangan China.
Baca Juga: AI Makin Canggih, Sam Altman Buka Opsi Rem Pengembangan OpenAI
Untuk mendanai suntikan modal tersebut, Kementerian Keuangan China akan menerbitkan obligasi khusus.
Ini menjadi pertama kalinya China menggunakan instrumen tersebut untuk mendukung perusahaan asuransi.
Lima perusahaan asuransi yang menerima suntikan modal terdiri dari empat kelompok asuransi komersial milik pemerintah pusat dan satu perusahaan asuransi kebijakan.
Perusahaan-perusahaan tersebut dikendalikan oleh Kementerian Keuangan China atau Central Huijin Investment, perusahaan investasi milik negara.
China Life Insurance Group, induk perusahaan asuransi jiwa terbesar di China akan menerima 35 miliar yuan. Sementara China Taiping Insurance Group akan memperoleh 7 miliar yuan.
Adapun China Export & Credit Insurance Corp atau Sinosure akan mendapatkan 10 miliar yuan.
PICC Group, perusahaan asuransi properti dan kecelakaan, berencana menghimpun hingga 15 miliar yuan melalui private placement saham A kepada Kementerian Keuangan. Sementara China Reinsurance Group Corp akan menghimpun hingga 3 miliar yuan.
Perusahaan-perusahaan tersebut menyatakan dana hasil aksi korporasi akan digunakan untuk memperkuat permodalan dan meningkatkan ketahanan terhadap risiko.
Baca Juga: Yield US Treasury Nyaris 5%, Pasar Mulai Waspadai Efeknya ke Saham
Mengapa China Suntik Modal?
Langkah tersebut dilakukan ketika perusahaan asuransi menghadapi tekanan terhadap rasio solvabilitas inti akibat penurunan yield obligasi pemerintah China bertenor panjang.
Kondisi tersebut membatasi kemampuan perusahaan asuransi untuk memenuhi dorongan pemerintah China agar meningkatkan investasi di pasar saham.
PICC mengatakan sejumlah faktor, termasuk volatilitas suku bunga, fluktuasi pasar saham serta tekanan dalam mencocokkan aset dan liabilitas, terus memberikan tekanan terhadap tingkat permodalan perusahaan.
Dorongan regulator agar perusahaan asuransi meningkatkan investasi di pasar saham juga berpotensi meningkatkan konsumsi modal.
Tekanan permodalan tersebut semakin besar karena aturan solvabilitas yang lebih ketat mulai berlaku penuh pada 2026 setelah melewati masa transisi.
Aturan baru membatasi porsi keuntungan polis yang diperkirakan akan diterima di masa depan serta aset berisiko, seperti ekuitas perusahaan nonpublik dan properti, yang dapat diperhitungkan sebagai modal inti.
Meski demikian, perusahaan asuransi milik negara berskala besar masih memiliki tingkat solvabilitas yang memadai dan berada jauh di atas batas minimum regulator.
Karena itu, analis menilai suntikan modal tersebut lebih bersifat langkah preventif untuk memperkuat neraca, bukan sebagai upaya penyelamatan atau bailout.
"Rekapitalisasi ini memperkuat fleksibilitas keuangan perusahaan asuransi milik negara berskala besar dan meningkatkan kapasitas mereka untuk mendukung stabilitas industri jika diperlukan," kata Mengyuan Wang, Senior Analyst Fitch Ratings.
Menurut Wang, perusahaan asuransi besar milik negara juga memainkan peran penting dalam membantu menyelesaikan persoalan perusahaan asuransi lain yang mengalami masalah.
Baca Juga: Prancis Cabut Dukungan untuk Infantino, FFF Sebut FIFA Rusak Citra Sepak Bola
Apakah Dana Baru Akan Masuk ke Saham?
Tambahan modal tersebut memang memberikan ruang lebih besar bagi perusahaan asuransi untuk meningkatkan investasi di pasar saham.
Namun, analis memperkirakan peningkatan alokasi saham tidak akan dilakukan secara agresif atau dalam waktu singkat.
Risiko investasi saham menjadi salah satu pertimbangan utama perusahaan asuransi. JPMorgan mencatat laju peningkatan alokasi ekuitas perusahaan asuransi China melambat pada kuartal II 2026 dibandingkan tiga bulan sebelumnya.
"Hal ini menunjukkan kapasitas untuk meningkatkan alokasi ekuitas lebih lanjut mulai semakin terbatas," tulis analis JPMorgan dalam risetnya.
Alokasi saham perusahaan asuransi milik negara China juga masih berada di bawah target pemerintah untuk mengarahkan 30% premi baru ke pasar saham.
Pada akhir Juni 2026, saham dan reksa dana menyumbang 19,1% dari total aset investasi China Life yang mencapai 7,95 triliun yuan. Porsi tersebut meningkat dari 16,9% pada akhir 2025.
Baca Juga: Saham Enflame Melonjak 200% di Debut Bursa, Valuasi Tembus 185 MiliarYuan
Sementara itu, porsi saham dan dana investasi mencapai 15,4% pada PICC dan 18,1% pada China Taiping.
Dengan demikian, suntikan modal tersebut berpotensi memberikan ruang bagi perusahaan asuransi China untuk meningkatkan eksposur ke pasar saham, tetapi langkah tersebut diperkirakan berlangsung bertahap mengingat risiko yang melekat pada investasi ekuitas.














