Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga minyak mentah kembali menguat dan berpeluang mencatat penutupan mingguan di atas level US$ 100 per barel untuk pertama kalinya dalam hampir empat bulan.
Pada perdagangan Jumat (11/9/2026), harga minyak Brent naik US$ 1,05 atau 1% menjadi US$ 108,68 per barel pada pukul 00.45 GMT.
Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat (AS) menguat 95 sen atau 1% menjadi US$ 103,45 per barel.
Baca Juga: Harga Minyak Tembus US$ 109, Pasar Global Kembali Dibayangi Inflasi
Kenaikan tersebut melanjutkan lonjakan harga minyak pada perdagangan Kamis yang mencapai lebih dari 6%. Secara mingguan, kedua benchmark minyak tersebut telah menguat hampir 13%, sekaligus menjadi kenaikan mingguan terbesar sejak pekan yang berakhir 17 Juli.
Penguatan harga minyak dipicu meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan akibat eskalasi konflik di Timur Tengah, terutama di jalur pelayaran strategis.
Kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran mengambil alih pelabuhan Mocha di Yaman pada Kamis. Kondisi tersebut meningkatkan risiko terhadap lalu lintas kapal di Laut Merah, sementara aktivitas pelayaran di kawasan Teluk masih terbatas akibat gangguan di Selat Hormuz.
Serangan terhadap kapal tanker di kawasan tersebut juga meningkat dalam beberapa hari terakhir.
Serangan dari Yaman terhadap fasilitas energi Arab Saudi menambah kekhawatiran pasar bahwa gangguan pasokan minyak dapat berlangsung lebih lama dan meluas ke kawasan lain.
Baca Juga: Dolar AS Bertahan di Level Tertinggi Sepekan Jumat (11/9), Minyak Tembus US$100
"Seiring situasi yang terus memburuk dan Iran menunjukkan kesediaannya untuk memperluas konflik, semakin besar kemungkinan harga minyak WTI kembali menguji level tertinggi US$ 119,48 per barel yang dicapai pada awal Maret," ujar analis IG Tony Sycamore.
Presiden AS Donald Trump juga memperingatkan bahwa AS dapat menyerang Pickaxe Mountain, lokasi yang berada di dekat fasilitas pengayaan uranium Natanz milik Iran yang telah mengalami kerusakan berat.
Trump juga menyebut perang tersebut akan berakhir setelah pemilihan umum paruh waktu AS pada November.
Iran sebelumnya mengatakan telah menyerang 10 kapal di sekitar Selat Hormuz pada Rabu. Pernyataan tersebut muncul setelah AS menyerang lima kapal tanker minyak Iran.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) juga memperingatkan akan meningkatkan respons apabila terjadi serangan lanjutan.
Harga energi AS ikut melonjak
Tekanan terhadap pasokan energi juga tercermin dari kenaikan harga bahan bakar di AS. Harga rata-rata nasional solar di AS menembus US$ 6 per galon untuk pertama kalinya, berdasarkan data pelacak harga GasBuddy.
Kenaikan tersebut terjadi ketika perang AS-Iran serta serangan Ukraina terhadap kilang minyak Rusia memperketat pasokan produk energi global.
Baca Juga: Bukan Indonesia, 3 Negara Tetangga Ini Masuk 10 Negara Terbaik untuk Pensiunan 2026
Namun, keberlanjutan reli harga minyak masih akan sangat bergantung pada permintaan dari China. Sebagai importir minyak mentah terbesar dunia, tingkat pembelian China menjadi faktor penting yang dapat menentukan seberapa besar dampak gangguan pasokan terhadap harga global.
Jika China tetap meningkatkan pembelian minyak, tekanan terhadap pasokan global berpotensi semakin besar dan mendorong harga minyak lebih tinggi.
Di sisi lain, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) kembali memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan minyak dunia untuk 2026 menjadi 380.000 barel per hari.
Proyeksi tersebut menjadi revisi penurunan kelima secara berturut-turut. Sementara itu, produksi minyak OPEC turun sekitar 640.000 barel per hari pada Agustus berdasarkan survei Reuters.
Baca Juga: Skandal Pelanggaran Chelsea Kembali Mencuat, 12 Trofi Bisa Berpindah ke Rival
Kombinasi antara gangguan pasokan akibat konflik geopolitik dan revisi turun proyeksi permintaan menjadi tantangan bagi pasar minyak global.
Jika gangguan pasokan berlangsung lebih lama, harga minyak berpotensi tetap berada di atas US$ 100 per barel meski pertumbuhan permintaan global melambat.














