kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45974,33   -17,61   -1.78%
  • EMAS991.000 0,71%
  • RD.SAHAM -0.20%
  • RD.CAMPURAN 0.04%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.12%

Data pribadi dari 53 juta pelanggan T-Mobile dicuri hacker


Minggu, 22 Agustus 2021 / 12:41 WIB
Data pribadi dari 53 juta pelanggan T-Mobile dicuri hacker
ILUSTRASI. Logo T-Mobile. REUTERS/Leonhard Foeger/File Photo GLOBAL BUSINESS WEEK AHEAD PACKAGE - SEARCH BUSINESS WEEK AHEAD 13 FEB FOR ALL IMAGES


Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - BERLIN. Perusahaan telekomunikasi yang bermarkas di Jerman yakni T-Mobile  menyatakan bahwa penyelidikan yang sedang berlangsung terhadap terjadinya pencurian informasi data pribadi pelanggan terungkap bahwa peretas mengakses informasi pribadi dari 5,3 juta pelanggan tambahan, sehingga jumlah total orang yang tercuri datanya menjadi lebih dari 53 juta.

Dilansir dari Reuters, operator nirkabel AS terbesar ketiga itu pada awal pekan ini mengatakan bahwa data pribadi lebih dari 40 juta mantan dan calon pelanggan dicuri bersama dengan data dari 7,8 juta pelanggan nirkabel T-Mobile yang ada.

Dalam pernyataan terbarunya, yang muncul beberapa hari setelah Komisi Komunikasi Federal AS (FCC) membuka penyelidikan atas pelanggaran tersebut, T-Mobile mengungkapkan telah mengidentifikasi 5,3 juta pelanggan nirkabel tambahan yang terkena dampak serangan siber tersebut serta 667.000 lebih banyak akun mantan pelanggan.

Data tersebut mencakup alamat, tanggal lahir dan nomor telepon pelanggan, kata perusahaan itu, seraya menambahkan bahwa tidak ada indikasi bahwa data yang diakses berisi informasi keuangan seperti kartu kredit atau data pembayaran lainnya.

Baca Juga: Taiwan janjikan pasokan dan permintaan chip mulai seimbang di kuartal keempat

Beberapa pelanggan T-Mobile menggugat perusahaan atas kelalaian yang terjadi, pada Kamis malam di pengadilan federal Seattle. Beberapa pelanggan mengatakan dalam class action yang diusulkan bahwa serangan cyber melanggar privasi mereka dan mengekspos mereka ke risiko penipuan dan pencurian identitas yang lebih tinggi.

Operator nirkabel adalah korban terbaru dari serangan siber pada perusahaan besar di Amerika Serikat itu ketika peretas mengeksploitasi privasi dan keamanan sistem pengguna yang melemah karena kebijakan kerja dari rumah yang dicanangkan sejak awal pandemi virus corona.

Pada tahun 2018, perusahaan telah menginformasikan tentang potensi serangan siber yang dapat mempengaruhi sekitar 3% dari 77 juta pelanggannya.

"T-mobile telah mengalami 6 pelanggaran data lainnya dalam 4 tahun terakhir. Tampaknya sistem TI mereka sangat rentan karena mereka belum dapat memperbaiki masalah keamanan mereka yang diketahui selama periode waktu ini, yang seharusnya menjadi perhatian pelanggan," kata Doug Schmidt, profesor ilmu komputer di Vanderbilt University dilansir dari Reuters, Minggu (22/8).

T-Mobile mengatakan dalam pengajuan peraturan pada hari Jumat bahwa sementara penyelidikan sedang berlangsung, pihaknya yakin telah menutup akses seluruh data pelanggannya.

Selanjutnya: Gelar penyelidikan patogen yang picu pandemi berikutnya, WHO cari orang-orang terbaik

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×