kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Di Korea, penderita darah tinggi dan diabetes yang terinfeksi corona paling berisiko


Rabu, 25 Maret 2020 / 15:05 WIB
Di Korea, penderita darah tinggi dan diabetes yang terinfeksi corona paling berisiko
ILUSTRASI. Warga mengenakan masker untuk mencegah infeksi corona di Daegu, Korea Selatan

Reporter: Khomarul Hidayat | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - SEOUL. Anda yang memiliki tekanan darah tinggi kronis atau penderita diabetes sebaiknya melakukan pencegahan ekstra terhadap virus corona. Di Korea Selatan, penderita tekanan darah tinggi dan diabetes yang terinfeksi virus corona paling rawan efek lanjutannya.

Korea Times melaporkan, sebuah analisis kematian akibat virus corona di Korea Selatan menunjuukan, 86% orang yang meninggal akibat virus di Negeri Gingseng menderita tekanan darah tinggi atau diabetes, atau kombinasi keduanya. Ini didasarkan pada data dari 124 korban jiwa per Selasa (24/3) yang diumumkan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea (KCDC).

Baca Juga: Mengapa tingkat kematian akibat corona di Italia paling tinggi?

Di antara mereka, hanya sembilan yang tidak memiliki penyakit yang sudah ada sebelumnya. Sisanya, 55 menderita tekanan darah tinggi kronis, 41 menderita diabetes dan 34 menderita penyakit Alzheimer, atau kombinasi dari semuanya.

Gender tampaknya tidak menjadi faktor penting untuk kematian mengingat 63 orang adalah pria dan 61 orang wanita. Tetapi usia tampaknya terkait tingkat kematian pasien berusia di bawah 50 tahun adalah di bawah 1%, tetapi naik menjadi 1,75% di antara mereka yang berusia 60 tahunan-an, 6,25% di antara umur 70 tahun dan 13% di antara usia 80 tahunan

Waktu rata-rata dari konfirmasi infeksi hingga kematian adalah delapan hari.

"Ada seorang pasien di China yang meninggal hanya lima hari setelah infeksi dikonfirmasikan," kata Prof. Park Eun-chol, dari Fakultas Kedokteran Universitas Yonsei.

Dia mengatakan, pada tahap awal wabah virus, banyak pasien datang ke rumah sakit dalam kondisi kritis. "Tetapi sekarang kita dapat memilah pasien pada tahap awal infeksi dan harus tahu cara mengobatinya, yang mengakibatkan penurunan tingkat kematian," ujarnya.

Baca Juga: Benarkah tidak ada kasus wabah corona di Korea Utara?





Close [X]
×