Di Tengah Krisis Energi Global, Cadangan Minyak Perusahaan Besar AS Naik 13%

Jumat, 19 Agustus 2022 | 15:03 WIB   Reporter: Maizal Walfajri
Di Tengah Krisis Energi Global, Cadangan Minyak Perusahaan Besar AS Naik 13%

ILUSTRASI. Kilang minyak Amerika Serikat. REUTERS/Nick Oxford/File Photo


KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Meski krisis energi masih menghantui perekonomian global, cadangan minyak Amerika Serikat (AS) yang dipegang oleh 50 perusahaan besar naik 13% selama lima tahun yang berakhir pada Desember lalu. Laporan Ernst & Young yang dirilis pada Rabu, kenaikan itu disumbang oleh  merger dan akuisisi yang dilakukan oleh perusahaan besar tersebut. 

Perkiraan cadangan minyak, yang menandakan arah produksi minyak mentah, naik menjadi 31,8 miliar barel pada akhir tahun lalu setelah anjlok pada 2020 karena pandemi COVID-19 memaksa perusahaan energi untuk membatasi aktivitas mereka. 

Cadangan AS masih lebih rendah dari level 2019 sebesar 32,5 miliar barel. Hitungan itu menurut analisis yang menggunakan perkiraan dari 50 perusahaan publik yang memegang cadangan minyak dan gas AS terbesar, mengutip Reuters pada Jumat (19/8). 

Kenaikan cadangan tahun lalu terutama disebabkan oleh perusahaan minyak dan gas independen yang lebih besar yang membeli perusahaan energi swasta dan mengakuisisi cadangan lainnya. Kelompok perusahaan yang diteliti ini telah menghabiskan US$94 miliar untuk memperoleh properti yang sudah terbukti dan belum.

Baca Juga: Jokowi Sebut Xi Jinping dan Vladimir Putin Bakal Hadiri KTT G-20 di Indonesia

"Itu secara signifikan melebihi tahun lainnya dalam penelitian ini," kata Herb Listen, partner di Ernst & Young. Pengeluaran tahun lalu untuk eksplorasi, sekitar $8 miliar, termasuk yang terendah dalam tahun-tahun yang diteliti.

ConocoPhillips, Chevron Corp, Exxon Mobil Corp, EOG Resources dan Occidental Petroleum Corp memiliki cadangan AS terbesar pada tahun 2021.

Perdagangan minyak mendekati $90 per barel kemungkinan akan memacu minat pada produksi baru. Tetapi tekanan pada perusahaan untuk membatasi pengeluaran, mengembalikan modal kepada investor, dan mengatasi masalah iklim akan menantang setiap dorongan besar untuk pertumbuhan, kata Listen.

Perusahaan mungkin merealokasi dana untuk aktivitas minyak AS setelah invasi Rusia ke Ukraina, yang menyebabkan Exxon dan lainnya keluar dari Rusia, kata David Johnston, yang memimpin praktik Strategi dan Transaksi EY di bidang energi.

Selama periode lima tahun, produksi minyak tumbuh 27% menjadi 3 miliar barel, atau output tertinggi selama masa studi. Output dari produsen independen besar melonjak sekitar 70% dan output produsen terintegrasi naik 33%. Independen kecil turun 35% selama periode yang sama.

Editor: Tendi Mahadi

Terbaru