kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.673.000   5.000   0,19%
  • USD/IDR 17.892   34,00   0,19%
  • IDX 6.101   -15,36   -0,25%
  • KOMPAS100 796   1,04   0,13%
  • LQ45 598   -0,77   -0,13%
  • ISSI 212   -1,29   -0,61%
  • IDX30 338   -0,72   -0,21%
  • IDXHIDIV20 413   -2,81   -0,68%
  • IDX80 90   0,11   0,12%
  • IDXV30 111   -0,72   -0,65%
  • IDXQ30 108   -0,25   -0,23%

Dibayangi bentrokan, Thailand ngotot gelar Pemilu


Rabu, 29 Januari 2014 / 10:18 WIB
ILUSTRASI. YouTube logo at the YouTube Space LA in Playa Del Rey, Los Angeles, California, United States October 21, 2015. REUTERS/Lucy Nicholson/File Photo


Sumber: CNBC | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

BANGKOK. Pemerintah Thailand bersikeras untuk tetap melaksanakan pemilihan umum seperti jadwal semula, yakni pada Minggu, 2 Februari 2014. Rencana ini akan tetap dijalankan meski adanya peringatan bahwa pelaksanaan pemilu akan berakhir dengan kekerasan yang dapat mengakibatkan Thailand tidak akan memiliki pemerintahan selama enam bulan.

Keputusan ini diambil setelah Perdana Menteri Thailand Yingluck Shinawatra menggelar pertemuan dengan Komisi Pemilihan Umum. Terkait hal tersebut, banyak pihak yang meragukan bahwa pemerintah Thailand saat ini akan mampu mengatasi aksi demonstrasi yang sudah berlangsung selama beberapa bulan terakhir.

Pertemuan tersebut berlangsung di kompleks Army Club. Saat pertemuan berlangsung, dua orang terkena tembakan saat bergabung melakukan aksi unjuk rasa dengan 500 orang lainnya di komplek yang sama.

Selain itu, pada akhir pekan lalu, salah seorang pimpinan anti pemerintah ditembak mati dan 10 orang lainnya terluka setelah terjadi bentrokan di Bangkok.

Aksi demonstrasi di Thailand merupakan guncangan terkini dalam konflik politik yang sudah menghantui Thailand selama delapan tahun. Konflik tersebut secara umum terbagi dua, yakni kelas menengah Bangkok dan loyalis pemerintah yang mayoritas berasal dari warga miskin dan warga pedesaan.

Kelompok kelas menengah Bangkok menolak pelaksanaan pemilu karena menganggap partai Yingluck akan sangat mudah untuk menang. Mereka ingin menunda pemerintahan demokrasi yang mereka anggap rentan karena masih dipengaruhi oleh kroni-kroni Thaksin Shinawatra, mantan PM Thailand yang terjerat kasus korupsi.

Sebagai bagian dari aksi kampanye mereka, pelaku demonstrasi sudah mengganggu persiapan pelaksanaan pemilu dan pemilihan awal. Di sejumlah konsituen, kandidat tidak dapat melakukan pendaftaran dan kemungkinan akan sulit terjadi kuorum untuk membentuk parlemen atau memilih anggota pemerintahan.

"Hasil pemilu kemungkinan tidak akan menghasilkan cukup kursi. Dibutuhkan waktu sekitar empat hingga enam bulan untuk membentuk parlemen," jelas Somchai Srisutthiyakorn, salah satu anggota Komisi Pemilu.




TERBARU
Langganan Business Insight promo optimal
Kontan Academy
Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value How to Manage Your Gen Z Salespeople?

[X]
×