Sumber: Kompas.com | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
Sementara itu, sektor pertanian dan perikanan juga mengalami tekanan signifikan.
Petani dilaporkan mengalami kesulitan mendapatkan solar untuk mengoperasikan mesin, terutama saat memasuki masa panen.
Di sisi lain, banyak nelayan belum dapat melaut karena terbatasnya pasokan bahan bakar.
Kelompok nelayan bahkan memperingatkan bahwa industri perikanan bernilai miliaran dollar terancam berhenti total dalam beberapa hari jika pemerintah tidak segera memberikan bantuan untuk menekan biaya bahan bakar.
Di tengah kondisi tersebut, harga solar di Thailand melonjak menjadi 38,94 baht per liter atau sekitar Rp 20.000 pada Kamis (26/3/2026), setelah subsidi pemerintah berakhir.
Kenaikan ini meningkat tajam dibandingkan sebelum konflik, yang berada di level 29,94 baht per liter.
Baca Juga: India Pangkas Pajak dan Bea Cukai BBM, Antisipasi Lonjakan Harga Minyak Global
Sementara itu, Theerasin Thanachawaroj mengatakan bahwa keluarganya telah bertani selama tiga generasi, namun belum pernah menghadapi situasi seberat ini.
Kekhawatiran serupa juga disampaikan oleh Presiden Asosiasi Petani Thailand, Pramote Charoensilp.
Ia menilai kondisi berpotensi semakin memburuk jika konflik terus berlanjut.
Dalam waktu dekat, para petani akan mulai membeli pupuk untuk persiapan musim tanam berikutnya, komoditas yang sebagian besar masih diimpor dari Timur Tengah.
“Pada bulan Mei, jika kita masih berperang, masalah harga akan semakin buruk, lebih sulit dan lebih parah,” kata Pramote.
Sumber: https://www.kompas.com/tren/read/2026/03/27/190000565/pm-thailand-tinggalkan-rolls-royce-beralih-ke-mobil-listrik-byd-di-tengah?page=all#page1













