kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.810.000   -40.000   -1,40%
  • USD/IDR 16.991   62,00   0,37%
  • IDX 7.097   -67,03   -0,94%
  • KOMPAS100 977   -12,33   -1,25%
  • LQ45 719   -12,76   -1,74%
  • ISSI 250   -1,82   -0,73%
  • IDX30 391   -7,50   -1,88%
  • IDXHIDIV20 489   -9,60   -1,93%
  • IDX80 110   -1,54   -1,38%
  • IDXV30 134   -2,11   -1,54%
  • IDXQ30 128   -2,18   -1,68%

India Pangkas Pajak dan Bea Cukai BBM, Antisipasi Lonjakan Harga Minyak Global


Jumat, 27 Maret 2026 / 19:30 WIB
India Pangkas Pajak dan Bea Cukai BBM, Antisipasi Lonjakan Harga Minyak Global
ILUSTRASI. Seorang pedagang memajang berbagai pecahan mata uang India di kios penukaran mata uang pinggir jalan (REUTERS/Anushree Fadnavis)


Sumber: Reuters | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - NEW DELHI. Pemerintah India memangkas bea cukai (excise duty) pada bensin dan solar guna melindungi konsumen serta menahan potensi lonjakan inflasi. Di saat yang sama, pemerintah juga memberlakukan pajak tambahan (windfall tax) pada bahan bakar penerbangan dan ekspor solar, di tengah pasar minyak global yang bergejolak akibat konflik dengan Iran.

Harga minyak dunia melonjak hingga melampaui US$ 100 per barel setelah hampir ditutupnya Selat Hormuz jalur vital yang menyalurkan sekitar 40% impor minyak mentah India sejak serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari.

Dalam perintah resmi pemerintah yang dirilis Kamis malam, Kementerian Keuangan India menurunkan bea cukai khusus bensin menjadi 3 rupee (sekitar US$ 0,0318) per liter dari sebelumnya 13 rupee. Sementara itu, bea untuk solar dipangkas menjadi nol dari sebelumnya 10 rupee per liter.

Baca Juga: Austria Rancang Larangan Media Sosial bagi Anak di Bawah 14 Tahun

Langkah ini diambil menjelang pemilu bulan depan di empat negara bagian dan satu wilayah federal, di mana pemilih sangat sensitif terhadap kenaikan harga.

Pemangkasan pajak ini diperkirakan mengurangi pendapatan pemerintah sebesar 70 miliar rupee (sekitar US$ 739 juta) setiap dua pekan. Namun, sebagian kerugian tersebut akan ditutup melalui penerimaan sekitar 15 miliar rupee dari pajak ekspor bahan bakar tertentu, menurut Ketua Central Board of Indirect Taxes and Customs, Vivek Chaturvedi. Dengan demikian, dampak bersih terhadap keuangan negara mencapai 55 miliar rupee per dua pekan.

Kekhawatiran terhadap tekanan fiskal mendorong imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun naik 7 basis poin menjadi 6,95%, level tertinggi dalam 20 bulan. Hal ini mencerminkan kekhawatiran bahwa pemerintah akan kesulitan memenuhi target defisit fiskal sebesar 4,3% dari PDB untuk tahun fiskal yang dimulai April.

Di sisi lain, kebijakan ini juga meringankan beban perusahaan pemasaran minyak. Meski harga bahan bakar di India secara teknis telah dideregulasi, perusahaan minyak milik negara yang menguasai sekitar 90% jaringan ritel tidak selalu menaikkan harga saat harga minyak mentah global naik.

Akibatnya, konsumen relatif terlindungi dari fluktuasi harga, karena kenaikan biaya ditanggung oleh pemerintah atau perusahaan.

“Pemerintah telah mengambil langkah besar dengan mengorbankan pendapatan pajak untuk mengurangi kerugian besar perusahaan minyak, yang saat ini mencapai sekitar 24 rupee per liter untuk bensin dan 30 rupee per liter untuk solar, di tengah tingginya harga internasional,” ujar Menteri Perminyakan Hardeep Singh Puri dalam pernyataannya di platform X.

Pemerintah menyebutkan harga minyak saat ini, total kerugian harian yang ditanggung perusahaan minyak mencapai 24 miliar rupee.

Baca Juga: Menteri Luar Negeri Jerman Sebut Rusia Bantu Iran Mengindentifikasi Target Serangan

Dalam kebijakan yang sama, pemerintah menetapkan pajak ekspor solar sebesar 21,5 rupee per liter, serta 29,5 rupee per liter untuk bahan bakar penerbangan.

Sepanjang periode April 2025 hingga Januari 2026, India mengekspor 14 juta ton bensin dan 23,6 juta ton gasoil. Namun, sebagian besar kilang kini telah menghentikan ekspor bahan bakar, dengan Reliance Industries sebagai eksportir terbesar di negara tersebut.

Menteri Keuangan Nirmala Sitharaman menegaskan pemerintah akan memastikan tidak ada kekurangan pasokan bensin, solar, maupun bahan bakar jet.

Pemerintah juga akan mendukung perusahaan minyak agar masyarakat tidak terbebani kenaikan harga, serta menjaga agar harga bahan bakar penerbangan tetap stabil.

Sebagai importir dan konsumen minyak terbesar ketiga di dunia, India sangat bergantung pada pasokan dari luar negeri.

Dalam langkah tambahan, Kementerian Perminyakan meningkatkan alokasi gas minyak cair (LPG) untuk sektor komersial dan industri sebesar 20%, sehingga total pasokan mencapai 70% dari level sebelum krisis. Prioritas diberikan pada sektor penting seperti baja, otomotif, tekstil, dan industri esensial lainnya.

Sebelumnya, India memangkas alokasi gas untuk kebutuhan non-rumah tangga sejak pecahnya konflik dengan Iran.

Tahun lalu, India mengonsumsi 33,15 juta ton LPG, dengan sekitar 60% kebutuhan dipenuhi melalui impor 90% di antaranya berasal dari kawasan Timur Tengah.

Perdana Menteri Narendra Modi dan pemerintahnya menegaskan bahwa berbagai langkah antisipasi telah disiapkan, termasuk untuk menjaga pasokan pupuk menjelang musim tanam musim panas serta ketersediaan batu bara guna memenuhi lonjakan kebutuhan listrik.

Dalam pernyataan terpisah, pemerintah juga memastikan bahwa harga ritel bensin dan solar tidak akan mengalami perubahan.

Baca Juga: Herbalife Akuisisi Aset Bioniq, Perkuat Bisnis Suplemen Personal




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

[X]
×