kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.594.000   2.000   0,08%
  • USD/IDR 17.905   -13,00   -0,07%
  • IDX 6.062   -31,48   -0,52%
  • KOMPAS100 781   -4,33   -0,55%
  • LQ45 598   -3,18   -0,53%
  • ISSI 212   -1,08   -0,51%
  • IDX30 333   -1,50   -0,45%
  • IDXHIDIV20 426   -1,10   -0,26%
  • IDX80 89   -0,47   -0,53%
  • IDXV30 116   -0,17   -0,15%
  • IDXQ30 109   -0,26   -0,24%

Dolar AS Bertahan Dekati Level Tertinggi 18 Bulan Senin (12/10), Menanti Inflasi AS


Senin, 12 Oktober 2026 / 09:06 WIB
Dolar AS Bertahan Dekati Level Tertinggi 18 Bulan Senin (12/10), Menanti Inflasi AS
ILUSTRASI. Dolar AS (REUTERS/Dado Ruvic)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Dolar Amerika Serikat (AS) bertahan di dekat level tertinggi dalam 18 bulan pada perdagangan Senin (12/10/2026).

Ketidakpastian akibat konflik di Timur Tengah mendorong investor mencari aset aman, sementara pelaku pasar menanti data inflasi AS yang akan menjadi petunjuk arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Mengutip Reuters, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia tercatat turun tipis ke 102,14 pada perdagangan awal Asia.

Baca Juga: Andrew Garfield Bintangi Film Artificial, Angkat Kisah di Balik Berdirinya OpenAI

Meski demikian, indeks tersebut masih berada tidak jauh dari level tertinggi dalam 18 bulan yang dicapai pekan lalu.

Aktivitas perdagangan relatif terbatas karena pasar Jepang tutup untuk libur nasional, sehingga likuiditas di kawasan Asia menipis.

Sentimen pasar masih dipengaruhi eskalasi konflik di Timur Tengah. Harga minyak bergerak fluktuatif setelah kelompok Houthi yang didukung Iran meningkatkan serangan terhadap Arab Saudi, sementara dua kapal tanker juga menjadi sasaran serangan selama akhir pekan.

Di sisi lain, harga minyak turut dipengaruhi pengumuman Presiden AS Donald Trump pada Minggu mengenai gencatan senjata energi antara Rusia dan Ukraina. Harga minyak mentah Brent turun sekitar 1% menjadi US$ 103,55 per barel pada perdagangan Asia.

Baca Juga: Bursa Australia Menguat, Investor Menanti Laporan Produksi Emiten Tambang

Analis Commonwealth Bank of Australia memperkirakan, kelompok Houthi akan melanjutkan serangan terhadap aset energi Arab Saudi. Kondisi tersebut berpotensi menopang harga minyak sekaligus memperkuat dolar AS.

Mereka juga menilai belum akan ada terobosan dalam upaya perdamaian Iran dan AS dalam waktu dekat, meskipun Iran telah mengonfirmasi menerima proposal perdamaian AS melalui perantara.

Terhadap yen Jepang, dolar AS melemah 0,14% menjadi 158,16 yen. Sementara itu, dolar Australia dan dolar Selandia Baru masing-masing relatif stabil di US$ 0,6988 dan US$ 0,5614.

Data inflasi AS jadi penentu arah dolar

Selain perkembangan geopolitik, perhatian investor pekan ini tertuju pada data indeks harga konsumen (CPI) AS yang dijadwalkan rilis Rabu (14/10/2026).

Data tersebut menjadi salah satu indikator ekonomi penting terakhir sebelum rapat kebijakan suku bunga The Fed pada akhir Oktober.

Baca Juga: RBI Perketat Hedging, Biaya Lindung Nilai Rupee India Bisa Naik

Pekan lalu, data menunjukkan sentimen konsumen AS kembali memburuk pada awal Oktober. Kenaikan biaya hidup akibat konflik di Timur Tengah membuat rumah tangga semakin pesimistis terhadap kondisi perekonomian.

The Fed menaikkan suku bunga pada September untuk pertama kalinya sejak 2023 dalam upaya mengendalikan inflasi. Kini, investor memantau data ekonomi untuk memperkirakan apakah bank sentral AS akan kembali mengubah kebijakan moneternya.

Berdasarkan perangkat CME FedWatch, pelaku pasar memperkirakan peluang The Fed mempertahankan suku bunga pada Oktober mencapai 81%, meningkat dari 51% sebulan sebelumnya.

Meski dolar masih ditopang permintaan aset aman, analis Barclays menilai penguatannya berpotensi tertahan dalam waktu dekat, bahkan membuka peluang koreksi.

Menurut mereka, gejolak tajam di pasar obligasi telah memperketat kondisi keuangan global. Situasi tersebut dapat mendorong pejabat The Fed memberikan sinyal kebijakan yang lebih menenangkan menjelang rapat Oktober, terutama jika data inflasi menunjukkan hasil lebih rendah daripada perkiraan.

Baca Juga: Bursa Asia Bergerak Hati-hati Senin (12/10), Waspadai Laporan Keuangan dan Inflasi AS

Dalam beberapa pekan terakhir, aksi jual di pasar obligasi membuat biaya pinjaman global meningkat ke level tertinggi dalam beberapa dekade. Kekhawatiran terhadap inflasi, harga energi, dan membengkaknya utang pemerintah menjadi faktor utama di balik tekanan tersebut.

Di pasar valuta asing lainnya, euro menguat hampir 0,1% menjadi US$ 1,121 setelah mencatatkan pelemahan selama lima pekan berturut-turut.

Mata uang tunggal Eropa tersebut masih dibayangi kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Prancis dan ketidakpastian politik menjelang pemilihan presiden pada 2027.

Strategis valuta asing OCBC menilai masih terlalu dini untuk memastikan apakah kenaikan biaya pinjaman akan cukup mendorong pemerintah Prancis memperketat disiplin fiskalnya.

Mereka memperkirakan pasangan euro-dolar AS akan bergerak konsolidatif karena intensitas pemberitaan mengenai persoalan fiskal dan politik Prancis kemungkinan mereda. Namun, potensi penguatan euro dinilai tetap terbatas oleh persoalan struktural ekonomi Eropa.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Turun Senin (12/10), Cermati Gencatan Senjata Energi Rusia-Ukraina

Sementara itu, pound sterling bergerak stabil di US$ 1,3245. Dolar AS terhadap yuan China di pasar offshore juga relatif tidak berubah di 6,6927 yuan.

Di pasar aset kripto, Bitcoin naik 0,2% menjadi US$ 83.788,50, sedangkan Ether menguat 0,15% menjadi US$ 2.540,08.




TERBARU

[X]
×