kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.576.000   -5.000   -0,19%
  • USD/IDR 17.908   -84,00   -0,47%
  • IDX 5.990   -19,30   -0,32%
  • KOMPAS100 769   -4,09   -0,53%
  • LQ45 590   -2,77   -0,47%
  • ISSI 209   0,10   0,05%
  • IDX30 327   -0,84   -0,26%
  • IDXHIDIV20 420   1,10   0,26%
  • IDX80 88   -0,42   -0,47%
  • IDXV30 114   0,33   0,29%
  • IDXQ30 107   -0,15   -0,14%

Dolar AS Tembus Level Tertinggi 17 Bulan, Pasar Obligasi Bergejolak


Jumat, 02 Oktober 2026 / 10:45 WIB
Dolar AS Tembus Level Tertinggi 17 Bulan, Pasar Obligasi Bergejolak
ILUSTRASI. Dolar AS berada di jalur penguatan selama tiga pekan berturut-turut pada Jumat (2/10/2026), sekaligus bertahan di level tertinggi dalam 17 bulan (REUTERS/Feisal Omar)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dolar Amerika Serikat (AS) berada di jalur penguatan selama tiga pekan berturut-turut pada Jumat (2/10/2026), sekaligus bertahan di level tertinggi dalam 17 bulan. Penguatan tersebut terjadi di tengah aksi jual besar-besaran di pasar obligasi global yang mendorong biaya pinjaman ke level tertinggi dalam beberapa dekade.

Tekanan terhadap pasar obligasi dipicu kekhawatiran investor terhadap inflasi, terutama akibat kenaikan harga minyak. Kondisi tersebut membuat imbal hasil obligasi meningkat di berbagai negara dan turut menopang permintaan terhadap dolar AS sebagai aset yang relatif aman.

Investor sebelumnya dikejutkan oleh aksi jual tajam di pasar obligasi global pada Kamis (1/10/2026). Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun atau US Treasury 10-year sempat melonjak hingga 5,344%, level tertinggi sejak 2002.

Pada perdagangan Jumat, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun berada di level 5,249% pada awal perdagangan, sementara pasar obligasi lainnya mulai stabil.

Di pasar valuta asing, euro berada di posisi US$ 1,1237, mendekati level terendah sejak Mei 2025. Mata uang tunggal Eropa tersebut tertekan oleh kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Prancis.

Baca Juga: Harga Emas Anjlok 3% Sepekan, Dolar AS Menguat dan Investor Tunggu Data Payrolls

Sementara itu, yen Jepang relatif stabil di sekitar 158 yen per dolar AS. Data terbaru menunjukkan inflasi inti tahunan di Tokyo meningkat pada September dengan laju tercepat dalam 10 bulan.

Indeks dolar AS, yang mengukur kinerja greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, berada di level 102,08. Indeks tersebut berada di jalur penguatan sekitar 1% sepanjang pekan ini dan mencatat kenaikan mingguan ketiga secara beruntun. Terakhir kali dolar AS membukukan tren penguatan selama tiga pekan berturut-turut terjadi pada Mei 2025.

Chief Investment Strategist Saxo, Charu Chanana, mengatakan investor saat ini menghadapi kombinasi yang tidak nyaman antara inflasi yang sulit ditekan, tingginya kebutuhan pembiayaan pemerintah, serta pasokan obligasi yang besar.

"Fakta bahwa imbal hasil obligasi jangka panjang terus meningkat meskipun ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu dekat telah mereda menunjukkan bahwa kondisi ini semakin berkaitan dengan premi jangka waktu dan risiko fiskal, bukan hanya keputusan The Fed berikutnya," ujar Chanana.

Pasar Menanti Data Tenaga Kerja AS

Data pada Rabu (30/9/2026) menunjukkan harga konsumen AS meningkat lebih rendah dari perkiraan pada Agustus. Data inflasi Juli juga direvisi turun. Perkembangan tersebut membuat pelaku pasar mengurangi ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve atau The Fed pada akhir bulan ini.

Baca Juga: Taiwan Terima 2 Jet Tempur F-16V dari AS, Nilai Kontrak US$ 8 Miliar

Dua pejabat tinggi The Fed pada pekan ini juga menyampaikan pandangan yang relatif tegas mengenai perlunya menunggu lebih banyak data sebelum memutuskan kebijakan kenaikan suku bunga berikutnya.

Perhatian pasar kemudian tertuju pada laporan ketenagakerjaan AS yang akan dirilis pada Jumat. Data tersebut diperkirakan menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja melambat pada September, sementara tingkat pengangguran diproyeksikan tetap berada di 4,1% untuk bulan ketiga berturut-turut.

Kepala Riset Pepperstone, Chris Weston, mengatakan data upah akan menjadi salah satu indikator penting bagi arah kebijakan moneter AS.

"Dengan The Fed kini secara sangat fokus pada inflasi dan tekanan harga, data upah yang tinggi dapat memberikan pengaruh besar terhadap suku bunga AS, US Treasury, dan dolar AS," kata Weston.

Harga Minyak Kembali di Atas US$ 100 per Barel

Selain data ekonomi AS, pergerakan dolar juga dipengaruhi perkembangan geopolitik dan harga energi.

Harga minyak mentah Brent kembali berada di atas US$ 100 per barel. Investor terus mencermati perkembangan negosiasi yang masih terhenti antara AS dan Iran untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah.

Tekanan juga terjadi pada sejumlah mata uang utama lainnya. Pound sterling berada di US$ 1,3187, sedangkan dolar Australia melemah 0,18% menjadi US$ 0,6918. Keduanya berada di sekitar level terendah dalam tiga bulan terakhir.

Dolar Selandia Baru juga melemah 0,22% menjadi US$ 0,5591, sekaligus menyentuh level terendah sejak November 2025.

Baca Juga: Valas Asia Bergerak Terbatas Jumat (2/10), Rupiah Bertahan di Rp17.940

Senior Rates Strategist TD Securities, Prashant Newnaha, menilai penguatan dolar saat ini bukan mencerminkan ekspektasi terhadap kebijakan The Fed yang lebih hawkish.

"Jelas pasar tidak sedang memperkirakan The Fed akan bersikap hawkish. Ini merupakan pergerakan menuju aset yang lebih aman yang dipicu oleh perkembangan di Eropa. Dalam skenario ini, diperkirakan indeks dolar dan yen akan menguat secara bersamaan," ujar Newnaha.

Risiko Eropa Tekan Euro

Sebagian besar penguatan dolar AS dalam beberapa waktu terakhir terjadi dengan mengorbankan euro. Meningkatnya risiko politik di Eropa serta guncangan energi akibat perang yang telah berlangsung selama tujuh bulan di Timur Tengah turut menekan sentimen terhadap mata uang tunggal Eropa.

Euro juga mengalami tekanan terhadap yen dan franc Swiss. Di saat yang sama, imbal hasil obligasi pemerintah Prancis melonjak ke level tertinggi dalam 14 tahun di tengah meningkatnya kekhawatiran mengenai kondisi keuangan negara tersebut.

Weston dari Pepperstone mengatakan faktor yang mendorong penguatan dolar AS mulai mengalami perubahan.

"Semakin jelas bahwa ceritanya bukan lagi mengenai keunggulan ekonomi AS, melainkan lebih banyak mengenai masalah di tempat lain, terutama di Eropa," kata Weston.




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×