kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.599.000   -4.000   -0,15%
  • USD/IDR 17.951   -91,00   -0,50%
  • IDX 6.355   35,24   0,56%
  • KOMPAS100 836   4,02   0,48%
  • LQ45 634   -0,75   -0,12%
  • ISSI 220   2,50   1,15%
  • IDX30 356   -0,88   -0,25%
  • IDXHIDIV20 435   -3,64   -0,83%
  • IDX80 95   0,31   0,33%
  • IDXV30 120   -0,65   -0,54%
  • IDXQ30 114   -0,36   -0,32%

Dolar AS Dekati Level Terendah Enam Pekan, Yen Menguat Berkat Dukungan AS


Rabu, 05 Agustus 2026 / 14:13 WIB
Dolar AS Dekati Level Terendah Enam Pekan, Yen Menguat Berkat Dukungan AS
ILUSTRASI. Pergerakan pasar mata uang global cenderung stabil pada perdagangan Rabu (5/8/2026), setelah tekanan terhadap yen Jepang mulai mereda (REUTERS/Thomas White)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan pasar mata uang global cenderung stabil pada perdagangan Rabu (5/8/2026), setelah tekanan terhadap yen Jepang mulai mereda menyusul intervensi terbaru pemerintah Jepang dan dukungan terbuka dari Amerika Serikat (AS).

Di sisi lain, dolar AS bertahan di dekat level terendah dalam enam pekan seiring meningkatnya optimisme bahwa konflik di Timur Tengah berpotensi mereda.

Yen Jepang menguat tipis ke level 157,61 per dolar AS, setelah pada sesi sebelumnya melemah sekitar 0,4% dari posisi tertinggi hari Senin di 155,20 per dolar AS. Meski demikian, mata uang Jepang tersebut masih jauh lebih kuat dibandingkan posisi terendah dalam hampir 40 tahun yang sempat menyentuh kisaran 164 per dolar AS.

Sentimen terhadap yen menguat setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan Washington siap memberikan dukungan penuh kepada Jepang dalam menjaga stabilitas mata uangnya.

Baca Juga: Korea Utara Tolak Usulan Presiden Prabowo untuk Berdialog dengan Korea Selatan

"Amerika Serikat akan melakukan apa pun yang diperlukan untuk mendukung upaya Jepang dalam menstabilkan yen," ujar Bessent pada Selasa (4/8/2026), setelah intervensi bersama AS dan Jepang di pasar valuta asing pekan lalu berhasil menekan aksi spekulatif yang bertaruh terhadap pelemahan yen.

Meski demikian, pelaku pasar masih mempertanyakan efektivitas intervensi tersebut dalam jangka panjang.

Vincent Chung, Co-Portfolio Manager Diversified Income Bond Strategy di T. Rowe Price, mengatakan investor masih meragukan apakah dampak intervensi akan bertahan lama.

"Pasar tampaknya masih skeptis mengenai seberapa lama efek dari intervensi terbaru ini akan bertahan," kata Chung.

"Skenario utama yang diyakini pasar adalah intervensi hanya akan memperlambat laju pelemahan yen, bukan menghasilkan pembalikan tren yang bertahan lama," tambahnya.

Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga Bank Sentral Jepang Menguat

Bessent juga mengatakan kepada stasiun penyiaran publik Jepang NHK bahwa dirinya yakin Gubernur Bank of Japan (BOJ) Kazuo Ueda akan "melakukan apa yang terbaik bagi perekonomian Jepang."

Pernyataan tersebut memperkuat ekspektasi pasar bahwa BOJ berpotensi menaikkan suku bunga dalam pertemuan kebijakan berikutnya pada 17–18 September.

Chief Investment Officer Fixed Income RBC BlueBay, Mark Dowding, menilai normalisasi kebijakan moneter menjadi kunci penguatan yen.

Baca Juga: Krisis Kepemimpinan FIFA Kian Memanas, Dukungan untuk Gianni Infantino Terus Menyusut

"Normalisasi kebijakan BOJ diperlukan untuk membalikkan arah pergerakan mata uang Jepang," katanya.

Menurutnya, dalam jangka pendek yen kemungkinan bergerak di kisaran 155 hingga 160 per dolar AS, sebelum perhatian pasar beralih ke keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dan BOJ pada September mendatang.

Dolar AS Tertekan Seiring Turunnya Harga Minyak

Indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, tercatat relatif stabil di 99,85 setelah sebelumnya menyentuh level terendah dalam enam pekan pada Senin.

Euro diperdagangkan stabil di US$ 1,1533, sementara pound sterling berada di US$ 1,3453.

Di kawasan Asia Pasifik, dolar Selandia Baru (kiwi) turun sekitar 0,4% menjadi US$ 0,5870, setelah tingkat pengangguran negara tersebut naik ke 5,6% pada kuartal II 2026, level tertinggi dalam satu dekade. Sementara itu, dolar Australia relatif datar di US$ 0,7046.

Tekanan terhadap dolar juga datang dari melemahnya harga minyak dunia.

Harga minyak mentah Brent turun sekitar 0,5% ke level terendah dalam tiga pekan setelah muncul sinyal bahwa konflik Iran berpotensi diselesaikan melalui jalur diplomatik. Kondisi ini meredakan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak global dan mendorong pelaku pasar mengurangi premi risiko.

Presiden AS Donald Trump mengatakan pemerintahannya telah melakukan "pembicaraan yang sangat baik" dengan Iran. Pernyataan itu muncul setelah Qatar mengungkapkan para mediator menunjukkan kemajuan dalam upaya mengakhiri perang yang telah berlangsung selama lima bulan.

Baca Juga: Qantas Lepas Saham di Jetstar Japan, Maskapai LCC Ini Bersiap Ganti Nama

Optimisme tersebut turut mendorong kenaikan harga obligasi pemerintah AS (US Treasury). Imbal hasil obligasi tenor dua tahun turun mendekati level terendah dalam dua pekan karena pasar mulai memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September semakin mengecil seiring turunnya harga minyak.

Namun demikian, Presiden Federal Reserve Kansas City Jeff Schmid menegaskan bahwa kebijakan moneter masih perlu diperketat.

"Inflasi yang masih terlalu tinggi perlu dikembalikan ke target 2% Federal Reserve," katanya.

Fokus Pasar Beralih ke Data Ketenagakerjaan AS

Pelaku pasar kini menantikan rilis data non-farm payrolls (NFP) Amerika Serikat pada Jumat (7/8/2026), yang diperkirakan akan menjadi penentu arah kebijakan suku bunga The Fed dalam waktu dekat.

Berdasarkan data CME FedWatch, peluang The Fed menaikkan suku bunga pada pertemuan September turun menjadi 56,9%, dari 67,2% sehari sebelumnya. Penurunan ekspektasi tersebut mencerminkan keyakinan investor bahwa tekanan inflasi dapat mereda apabila harga energi terus melemah.


Video Terkait



TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×