kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.559.000   -11.000   -0,43%
  • USD/IDR 18.166   -36,00   -0,20%
  • IDX 5.098   -184,26   -3,49%
  • KOMPAS100 656   -29,76   -4,34%
  • LQ45 515   -24,19   -4,48%
  • ISSI 171   -5,38   -3,04%
  • IDX30 289   -13,61   -4,49%
  • IDXHIDIV20 388   -17,40   -4,29%
  • IDX80 76   -3,38   -4,28%
  • IDXV30 108   -4,36   -3,89%
  • IDXQ30 98   -4,24   -4,16%

Dolar AS Melemah Usai Inflasi Naik, Euro Menguat ke US$ 1,1167


Jumat, 30 Oktober 2026 / 05:45 WIB
Dolar AS Melemah Usai Inflasi Naik, Euro Menguat ke US$ 1,1167
ILUSTRASI. Forex - Euro (REUTERS/Dado Ruvic)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Nilai tukar euro menguat tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (29/10/2026), setelah Bank Sentral Eropa atau European Central Bank (ECB) mempertahankan suku bunga acuannya.

Sementara itu, dolar AS melemah terhadap mayoritas mata uang utama setelah data terbaru menunjukkan inflasi AS meningkat.

Mengutip Reuters, euro menguat 0,13% ke level US$ 1,1167, setelah sebelumnya menyentuh level terendah sejak Mei terhadap dolar AS. Namun, euro melemah 0,21% terhadap pound sterling menjadi 0,835 pound.

Baca Juga: Starbucks Proyeksikan Laba di Atas Ekspektasi, Siapkan Buyback US$ 1 Miliar

ECB mempertahankan suku bunga sesuai ekspektasi pasar. Meski demikian, bank sentral tersebut memperingatkan meningkatnya risiko inflasi akibat lonjakan biaya energi, yang membuka peluang pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut.

Ekonom Eropa Saltmarsh Economics, Marchel Alexandrovich, mengatakan keputusan mempertahankan suku bunga telah diperkirakan pasar.

Namun, risiko kenaikan suku bunga pada Desember semakin mengemuka seiring meningkatnya tekanan inflasi.

Selain keputusan suku bunga, ECB mengumumkan bahwa Presiden Christine Lagarde akan mengakhiri masa jabatannya pada 7 Februari 2027, lebih awal dari jadwal semula pada Oktober 2027.

Perubahan tersebut berpotensi menambah perhatian pasar terhadap perombakan kepemimpinan ECB pada paruh pertama 2027.

Sejumlah pejabat senior yang diperkirakan meninggalkan posisinya dalam periode tersebut antara lain Lagarde, Isabel Schnabel, dan ekonom utama ECB Philip Lane.

Baca Juga: Harga Emas Dunia Anjlok 1,4%, Pasar Antisipasi Kenaikan Suku Bunga The Fed

Inflasi AS meningkat, peluang kenaikan suku bunga The Fed menguat

Di AS, data Departemen Perdagangan menunjukkan inflasi meningkat pada September 2026 seiring kenaikan harga bensin dan sejumlah barang lainnya.

Tekanan inflasi tersebut memperkuat ekspektasi ekonom bahwa Federal Reserve (The Fed) berpotensi menaikkan suku bunga pada Desember mendatang.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga tersebut mendekati 80%.

Meski demikian, perekonomian AS tumbuh lebih cepat dari perkiraan pada kuartal III-2026. Pertumbuhan tersebut ditopang konsumsi masyarakat yang tetap kuat serta investasi bisnis terkait kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Kepala produk terstruktur Moneycorp North America, Eugene Epstein, mengatakan dolar AS tidak banyak bereaksi terhadap rangkaian data ekonomi terbaru karena sebagian besar perkembangan tersebut telah diperkirakan dan diperhitungkan oleh pasar.

Baca Juga: Bersiap Situasi Darurat, 33 Negara Imbau Warga Siapkan Stok Makanan, Air & Obat

Indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang mata uang utama, turun 0,14% menjadi 101,98. Dolar AS juga melemah 0,27% terhadap franc Swiss ke level 0,826 franc.

Sementara itu, Ketua The Fed Kevin Warsh pada Rabu (28/10/2026) menyatakan inflasi dapat diturunkan menuju target 2% tanpa harus menghambat pertumbuhan ekonomi secara berlebihan atau meningkatkan pengangguran.

Pernyataan tersebut mendorong pelaku pasar mengurangi spekulasi mengenai kenaikan suku bunga The Fed pada 2027.

Warsh juga mengatakan bank sentral berencana menyisihkan satu dari delapan pertemuan kebijakan rutinnya pada 2027 dan dua pertemuan pada 2028 untuk membahas persoalan strategis kelembagaan, bukan untuk mempertimbangkan perubahan kebijakan moneter.

Baca Juga: Bersiap Situasi Darurat, 33 Negara Imbau Warga Siapkan Stok Makanan, Air & Obat

Yen melemah menjelang keputusan Bank of Japan

Pergerakan mata uang juga dipengaruhi penantian pasar terhadap keputusan kebijakan Bank of Japan (BOJ), yang akan mengakhiri pertemuan dua harinya pada Jumat (30/10/2026).

Pasar secara luas memperkirakan BOJ akan mempertahankan suku bunga. Yen Jepang tercatat melemah 0,05% terhadap dolar AS ke level 157,91 yen per dolar AS.

Analis Bank of America yang dipimpin Izumi Devalier menilai keputusan mempertahankan suku bunga kemungkinan tidak memicu pergerakan besar pada yen.

Namun, peluang penguatan yen dapat meningkat apabila terdapat lebih dari satu anggota yang menyuarakan sikap lebih hawkish, mengingat tekanan inflasi mendasar Jepang masih bertahan.

Baca Juga: Sudah Dipenjara Seumur Hidup, Mantan Presiden Ini Dituntut Hukuman Mati

Di kawasan Pasifik, dolar Selandia Baru menguat 0,11% menjadi US$ 0,56320. Mata uang tersebut sebelumnya merosot hampir 2% setelah Reserve Bank of New Zealand secara mengejutkan mempertahankan suku bunga di level 2,75% pada Rabu.

Dengan perkembangan tersebut, arah pergerakan mata uang global akan tetap dipengaruhi prospek inflasi, keputusan suku bunga bank sentral, serta perbedaan arah kebijakan moneter di AS, Eropa, dan Jepang.




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×