Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) stabil di dekat level tertinggi dua pekan saat perdagangan Asia dibuka pada Selasa (6/1/2026).
Meredanya kekhawatiran pasar terhadap aksi militer AS di Venezuela serta pernyataan dovish sejumlah pejabat Federal Reserve mendorong meningkatnya selera risiko di pasar global.
Indeks dolar, yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia, tercatat di level 98,36 atau naik tipis 0,04%, setelah pada Senin (5/1/2026) memutus tren penguatan empat hari berturut-turut.
Baca Juga: Penjualan Mobil AS Naik 2% pada 2025, Tahan Terhadap Tekanan Regulasi
“Pasar saat ini tidak terlalu khawatir dengan dinamika geopolitik, setidaknya dalam jangka pendek,” ujar Rodrigo Catril, analis mata uang National Australia Bank di Sydney.
“Kondisi ini mengurangi daya tarik aset safe haven, sehingga dolar AS cenderung tertekan,” tambahnya.
Pasar keuangan sempat bergejolak menyusul penggulingan Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada akhir pekan lalu, yang memicu volatilitas di pasar komoditas.
Maduro pada Senin menyatakan tidak bersalah atas dakwaan narkotika di pengadilan federal Manhattan.
Di pasar Asia-Pasifik, dolar Australia yang sensitif terhadap pergerakan harga komoditas melemah 0,1% ke level US$0,6713, terkoreksi dari puncak kisaran perdagangan dua pekan terakhir meski harga tembaga sempat mencetak rekor tertinggi.
Baca Juga: CEO Nvidia: Chip Generasi Terbaru Sudah Diproduksi Massal
Dolar Selandia Baru juga turun 0,1% ke US$0,5784.
Terhadap yen Jepang, dolar AS menguat 0,2% ke level 156,72 yen.
Pada perdagangan sebelumnya, dolar tertekan oleh pernyataan dovish Presiden Federal Reserve Minneapolis Neel Kashkari, yang tahun ini memiliki hak suara dalam penentuan kebijakan suku bunga.
Ia mengatakan terdapat risiko tingkat pengangguran AS melonjak lebih tinggi.
Ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter pun sedikit meningkat.
Baca Juga: Pasar Saham Bakal Anjlok pada 2026? Ini Peringatan The Fed untuk Investor
Namun, kontrak berjangka Fed funds masih menunjukkan probabilitas 82,8% bahwa The Fed akan menahan suku bunga pada pertemuan 27–28 Januari, sedikit turun dari 83,4% pada Jumat, berdasarkan FedWatch Tool CME Group.
Tekanan terhadap dolar juga datang dari data manufaktur AS. Indeks ISM Manufaktur pada Desember tercatat mengalami kontraksi lebih dalam dari perkiraan dan turun ke level terendah dalam 14 bulan.
“Penurunan moderat Indeks ISM Manufaktur menegaskan sektor ini masih kesulitan mendapatkan momentum di akhir tahun, meski kami menilai kondisi tersebut belum cukup kuat untuk menghambat pertumbuhan PDB secara keseluruhan dalam beberapa kuartal ke depan,” tulis Capital Economics dalam laporannya.
Di pasar mata uang lainnya, dolar AS relatif datar terhadap yuan offshore di Hong Kong pada level 6,983 per dolar. Euro melemah 0,1% ke US$1,1713, sementara pound sterling turun 0,1% ke US$1,3533.
Sementara itu, aset kripto bergerak melemah. Bitcoin turun 0,2% ke US$93.900,82 dan ether terkoreksi 0,4% ke US$3.226,50.













