Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Penjualan mobil baru di Amerika Serikat (AS) tetap tumbuh pada 2025, meski industri otomotif global sepanjang tahun dibayangi ketidakpastian regulasi, tarif, dan perubahan insentif kendaraan listrik.
Sepanjang 2025, penjualan mobil baru di AS mencapai 16,2 juta unit, naik 2,4% dibandingkan 2024, menurut data lembaga riset Omdia.
Capaian ini dinilai cukup solid di tengah berbagai gangguan rantai pasok, kebijakan tarif yang tidak menentu, serta pencabutan insentif pajak kendaraan listrik (EV).
Baca Juga: CEO Nvidia: Chip Generasi Terbaru Sudah Diproduksi Massal
“Kalau dibilang tahun ini seperti roller coaster penjualan, itu masih meremehkan,” kata Thomas King, President of OEM Solutions di J.D. Power dilansir Reuters Senin (5/1/2026).
Sejumlah produsen otomotif mencatatkan kinerja kuat hingga akhir tahun.
Toyota Motor membukukan kenaikan penjualan 8% di AS sepanjang 2025, ditopang tingginya permintaan mobil dengan harga terjangkau segmen yang sebagian besar telah ditinggalkan produsen Detroit.
Hyundai Motor juga mencatatkan pertumbuhan 8%, berkat lonjakan permintaan kendaraan hybrid.
Sementara itu, General Motors (GM) melaporkan kenaikan penjualan tahunan 5,5%, didorong oleh kuatnya permintaan pickup besar, SUV, serta kendaraan listrik.
Di sisi lain, penjualan Stellantis di AS turun 3% dibandingkan 2024, meski kinerjanya mulai membaik pada paruh kedua tahun di bawah CEO baru Antonio Filosa.
Baca Juga: Pasar Saham Bakal Anjlok pada 2026? Ini Peringatan The Fed untuk Investor
Harga dan Daya Beli Jadi Tantangan
Sepanjang 2025, industri otomotif menghadapi tekanan dari gangguan rantai pasok, ketidakpastian tarif, serta dihapuskannya kredit pajak kendaraan listrik senilai US$7.500.
Kondisi ini mendorong sebagian konsumen mempercepat pembelian sebelum harga berpotensi naik akibat regulasi baru.
Meski demikian, J.D. Power menilai tarif belum berdampak signifikan terhadap harga kendaraan. Rata-rata harga transaksi mobil baru pada Desember 2025 diperkirakan mencapai US$47.104, naik US$715 atau 1,5% dibandingkan Desember 2024.
Namun, persoalan keterjangkauan harga tetap menjadi hambatan utama. Para eksekutif otomotif Detroit bahkan dijadwalkan memberikan keterangan terkait isu ini dalam sidang Komite Perdagangan Senat AS pada 14 Januari 2026.
CEO Hyundai Motor North America, Randy Parker, memperingatkan bahwa 2026 akan menjadi tahun yang penuh tantangan.
“Keterjangkauan harga akan menjadi kunci,” ujarnya.
Eksekutif Toyota Motor North America juga memperkirakan harga kendaraan akan terus merangkak naik seiring masuknya biaya terkait tarif.
“Pada 2026, kita akan melihat kenaikan harga yang cukup signifikan,” kata Andrew Gilleland, Senior Vice President Automotive Operations Toyota Motor North America.
Baca Juga: Soal Minyak Venezuela, Trump Siapkan Pertemuan dengan Exxon, Chevron, ConocoPhillips
Pasar EV Bergejolak
Segmen kendaraan listrik menjadi bagian paling bergejolak sepanjang 2025. Presiden AS Donald Trump mencabut insentif pajak EV dan mendorong pelonggaran aturan efisiensi bahan bakar serta emisi.
Kebijakan ini menekan minat konsumen dan membuat sejumlah produsen memangkas rencana produksi EV.
Penjualan EV diperkirakan hanya menyumbang 6,6% dari total penjualan ritel kendaraan pada Desember 2025, turun tajam dari 11,2% pada periode yang sama tahun sebelumnya, menurut J.D. Power.
Meski pasar melambat, Toyota dan Hyundai menegaskan tetap melanjutkan investasi di kendaraan listrik, meskipun selama ini lebih dikenal fokus pada teknologi hybrid.
Baca Juga: Intel Resmi Luncurkan Chip PC Generasi Baru Panther Lake di CES Las Vegas
Prospek 2026 Masih Terbelah
Pandangan analis terhadap pasar otomotif 2026 masih beragam. Cox Automotive memproyeksikan penjualan mobil AS akan turun 2,4%, dipicu perlambatan ekonomi dan pemangkasan insentif EV.
Sementara itu, Edmunds memperkirakan penjualan relatif stagnan atau sedikit menurun akibat beban tarif dan ketidakpastian ekonomi.
Di sisi lain, analis menilai penurunan suku bunga dan semakin banyaknya kontrak sewa kendaraan yang berakhir berpotensi menopang permintaan dan memulihkan stabilitas pasar.
“Faktor-faktor ini membuka peluang kinerja yang lebih seimbang dan berpotensi lebih kuat seiring berjalannya 2026,” ujar Thomas King.













