Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Pemerintah Amerika Serikat (AS) mengakui ancaman drone menjadi salah satu risiko keamanan terbesar menjelang penyelenggaraan FIFA World Cup 2026 yang akan dimulai pada 11 Juni.
Kekhawatiran tersebut mendorong pemerintah AS menggelontorkan dana sebesar US$ 250 juta sejak Desember lalu untuk membantu berbagai kota tuan rumah memperkuat sistem pertahanan terhadap ancaman pesawat nirawak atau drone.
Baca Juga: Penjualan Panel Surya Lesu, Produsen China Genjot Bisnis Baterai
Melansir Reuters Jumat (5/6/2026), menurut laporan Front Office Sports, seluruh 11 negara bagian tuan rumah pertandingan serta Washington, D.C. menerima bagian dari dana hibah yang disalurkan melalui Federal Emergency Management Agency (FEMA).
Dana tersebut digunakan untuk memperkuat kemampuan mendeteksi, melacak, dan menindak drone maupun pesawat tanpa izin yang berpotensi mengganggu jalannya turnamen.
Menteri Keamanan Dalam Negeri AS Markwayne Mullin mengatakan, ancaman drone masih menjadi tantangan besar bagi aparat keamanan.
"Drones are my biggest concern. Setiap hari kami terus meningkatkan kemampuan, tetapi ini tetap menjadi perhatian besar bagi kami," ujar Mullin dalam rapat dengar pendapat Komite Keamanan Dalam Negeri DPR AS.
Pernyataan tersebut menjadi sorotan karena disampaikan hanya beberapa hari sebelum pertandingan pembuka Piala Dunia dimulai.
Baca Juga: Xi Jinping Akan Kunjungi Korea Utara, Perkuat Hubungan Beijing-Pyongyang
Zona Larangan Terbang Diperketat
Untuk mengantisipasi ancaman, Federal Aviation Administration (FAA) akan menerapkan pembatasan ruang udara di sekitar seluruh stadion yang digunakan selama Piala Dunia.
Pada hari pertandingan, pesawat maupun drone dilarang terbang dalam radius 3,5 mil (sekitar 5,6 kilometer) dari stadion atau pada ketinggian di bawah 3.000 kaki.
Langkah tersebut menjadi bagian dari sistem keamanan berlapis yang disiapkan untuk melindungi jutaan penonton dan peserta turnamen.
Baca Juga: Harga Emas Anjlok, Potensi Penurunan Suku Bunga AS dan Geopolitik Membayangi
California Terima Dana Terbesar
Negara bagian California menerima alokasi dana terbesar, yakni hampir US$ 34,6 juta.
Stadion SoFi Stadium dijadwalkan menjadi tuan rumah delapan pertandingan, termasuk laga perempat final pada 10 Juli.
Selain itu, enam pertandingan lainnya akan digelar di Santa Clara, menjadikan California sebagai negara bagian dengan jumlah pertandingan terbanyak selama turnamen.
Kepolisian Los Angeles menyatakan telah mengakuisisi sistem deteksi dan mitigasi berlapis untuk menghadapi ancaman drone ilegal.
Sementara itu, New Jersey juga akan menggelar delapan pertandingan di MetLife Stadium, termasuk partai final Piala Dunia pada 19 Juli.
New Jersey menerima hibah lebih dari US$ 21,7 juta, sedangkan negara bagian tetangganya, New York, memperoleh dana sekitar US$ 17,7 juta yang sebagian besar dialokasikan untuk kepolisian negara bagian dan kepolisian kota New York.
Di kawasan Midwest, pertandingan di Kansas City akan berlangsung di Arrowhead Stadium. Untuk mendukung pengamanan, negara bagian Kansas menerima hibah US$ 5,3 juta, sementara Missouri memperoleh sekitar US$ 14,24 juta.
Baca Juga: Parasit Pemakan Daging Muncul Lagi di Texas Setelah 60 Tahun, Peternak AS Waspada
Biaya Keamanan Terus Membengkak
Meningkatnya penggunaan drone dalam berbagai konflik dan aksi gangguan keamanan dalam beberapa tahun terakhir membuat penyelenggara acara olahraga besar menghadapi tantangan baru.
Selain ancaman terorisme konvensional, aparat kini harus mengantisipasi risiko penggunaan drone untuk pengintaian, gangguan operasional, hingga potensi serangan terhadap kerumunan massa.
Dengan puluhan pertandingan yang tersebar di berbagai kota di Amerika Utara, keamanan udara diperkirakan menjadi salah satu fokus utama penyelenggaraan Piala Dunia 2026, sekaligus menjadi ujian besar bagi kemampuan aparat AS dalam menghadapi ancaman teknologi modern.













