Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Amerika Serikat (AS) mengancam mempertahankan blokade laut terhadap Iran tanpa batas waktu, memperbesar tekanan ekonomi terhadap Teheran di tengah mandeknya pembicaraan gencatan senjata dan meningkatnya risiko terhadap pasokan energi global.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan Angkatan Laut AS dapat mempertahankan kehadirannya di kawasan untuk menjalankan blokade tersebut. Menurut dia, kapal perang dapat terus digilir untuk menjaga operasi tetap berlangsung.
“Angkatan Laut AS dapat mempertahankan blokade seperti itu tanpa batas waktu,” kata Hegseth kepada wartawan saat kunjungan ke Panama, Kamis (13/8/2026).
Blokade kembali menjadi sorotan setelah Iran berupaya mengendalikan Selat Hormuz dan dituding menyerang kapal yang mencoba melintasi jalur strategis tersebut.
Baca Juga: AS Mulai Blokade Pelabuhan Iran, Ancaman Balasan dari Iran Menghantui
Dua kapal milik Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) dilaporkan diserang saat melintas pada Kamis malam, menurut kantor berita pemerintah Uni Emirat Arab (UEA), WAM.
Pemerintah UEA menyebut serangan tersebut dilakukan Iran.
Lalu lintas kapal di Selat Hormuz juga terus menyusut. Pada Selasa, hanya delapan kapal yang melintas, dibandingkan rata-rata sekitar 12 kapal dalam 10 hari terakhir dan sekitar 130-140 kapal sebelum perang dimulai pada Februari.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya berulang kali menyatakan AS memiliki “kendali penuh” atas selat tersebut. Namun, Iran menegaskan Selat Hormuz tetap diblokade dan baru akan dibuka kembali jika tuntutannya dipenuhi.
Baca Juga: Harga Minyak Tembus US$100, AS Siap Blokade Selat Hormuz
Iran mensyaratkan pencabutan sanksi ekonomi serta pelepasan aset-aset Iran yang dibekukan. AS sempat menghentikan blokade terhadap pelayaran dan pelabuhan Iran selama sebulan pada pertengahan Juni, sebelum kembali memberlakukannya.
Kebijakan tersebut semakin menekan sumber devisa utama Teheran, setelah infrastruktur energi Iran lebih dulu mengalami kerusakan akibat serangan selama perang.
Pasokan minyak dunia makin tertekan
Tekanan terhadap Iran terjadi ketika risiko gangguan pasokan energi global semakin besar. Badan Energi Internasional (IEA) pada Rabu memperkirakan pasokan minyak dunia akan turun 4,3 juta barel per hari atau sekitar 4% sepanjang tahun ini.
Proyeksi tersebut lebih besar dibandingkan perkiraan sebulan sebelumnya yang memperkirakan penurunan 3,7 juta barel per hari.
Harga minyak pada Kamis memang turun lebih dari 2% setelah menguat selama sepekan. Investor mencermati tanda-tanda pelemahan permintaan global serta lonjakan persediaan minyak mentah AS.
Baca Juga: Trump Klaim Produksi Minyak AS Melejit, Blokade Iran Ubah Peta Energi Global
Namun, kekhawatiran kembali meningkat setelah kelompok Houthi yang didukung Iran dilaporkan menyerang kilang Saudi Aramco dengan drone. Serangan tersebut memunculkan risiko konflik meluas di kawasan dan semakin mengancam pasokan energi.
Di dalam negeri, Trump juga menghadapi tekanan untuk mengakhiri perang yang tidak populer.
Harga bahan bakar yang tinggi mulai menekan tingkat dukungan terhadap pemerintahannya dan berpotensi memengaruhi posisi Partai Republik dalam pemilu sela Kongres pada November.
AS sebelumnya telah memperketat sanksi terhadap Iran dan sejumlah individu serta entitas yang dituding membantu pengadaan senjata. Namun, tekanan tersebut belum berhasil membawa Teheran kembali ke meja perundingan.
Baca Juga: Harga Minyak Meroket, Blokade Iran Picu Kenaikan Beruntun!
Para ekonom global memperingatkan perang berkepanjangan dapat menekan pertumbuhan ekonomi dunia secara tajam, bahkan meningkatkan risiko resesi di sejumlah wilayah. Dampaknya diperkirakan semakin besar jika konflik tidak segera berakhir.













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
