Sumber: Reuters | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - PERTH. Harga minyak sedikit naik pada hari ini setelah Amerika Serikat (AS) mengancam akan mempertahankan blokade angkatan laut terhadap Iran tanpa batas waktu, menghidupkan kembali kekhawatiran pasokan minyak mentah, setelah harga turun pada sesi sebelumnya karena prospek permintaan global yang lebih lemah.
Jumat (14/8/2026) pukul 08.45 WIB, harga minyak mentah jenis Brent untuk kontrak pengiriman Oktober 2026 naik 9 sen atau 0,1% menjadi US$ 87,16 per barel.
Sejalan, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman September 2026 naik 4 sen ke US$ 81,29 per barel.
Kedua indeks acuan tersebut turun lebih dari 2% pada sesi sebelumnya, mengurangi keuntungan setelah reli enam sesi untuk Brent dan kenaikan lima sesi untuk WTI. Namun, Brent dan WTI tetap berada di jalur untuk kenaikan mingguan sekitar 4%.
Baca Juga: Elon Musk Punya 48,4% Saham SpaceX, Nilainya Tembus Rp16.000 Triliun
AS pada hari Kamis mengatakan dapat mempertahankan blokade angkatan laut terhadap Iran tanpa batas waktu dan akan meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Teheran karena pembicaraan gencatan senjata telah terhenti.
"Pantau terus pengumuman selanjutnya minggu depan karena kami akan menerapkan langkah-langkah yang belum pernah terlihat dalam sejarah isolasi ekonomi terhadap suatu negara," kata Menteri Keuangan AS Scott Bessent dalam sebuah wawancara di program "Rob Schmitt Tonight" Newsmax.
Ancaman terbaru AS muncul ketika Iran terus membatasi lalu lintas melalui Selat Hormuz, yang sebelumnya mengangkut 20% minyak dunia sebelum konflik, sehingga menaikkan harga bahan bakar dan menekan Presiden AS Donald Trump untuk mengakhiri perang yang tidak populer di dalam negeri.
Kepala unit paramiliter Basj Iran yang baru diangkat, Hossein Taeb, mengatakan bahwa selat tersebut "berada di bawah pengelolaan dan kendali Republik Islam", menurut kantor berita semi-resmi Fars.
Prospek perang yang lebih lama yang membatasi pasokan diimbangi minggu ini oleh perkiraan dari OPEC dan Badan Energi Internasional yang menurunkan prospek pertumbuhan permintaan, sementara data menunjukkan stok minyak mentah AS mencatatkan kenaikan mingguan terbesar dalam lebih dari tiga setengah tahun.
Kepala analis pasar KCM, Tim Waterer, mengatakan kedua kekuatan tersebut "bertindak sebagai penyeimbang."
Baca Juga: Leicester City Resmi Dijual, Pemilik Pasang Harga Rp4,8 Triliun
"Hasilnya adalah pasar yang tetap didukung tetapi kesulitan untuk menembus level yang lebih tinggi secara signifikan selama tekanan yang berlawanan ini tetap ada," katanya.
Dua kapal dari perusahaan minyak negara Abu Dhabi National Oil Company diserang saat melintasi selat pada Kamis malam, menurut laporan kantor berita negara UEA, WAM. Pemerintah Uni Emirat Arab mengutuknya sebagai serangan Iran.











![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
