Reporter: Adi Wikanto | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - Korea Utara mendapatkan keuntungan ekonomi besar dari keterlibatannya dalam perang Rusia-Ukraina. Pendapatan luar negeri negara yang dipimpin Kim Jong Un itu diperkirakan mencapai hingga US$22 miliar atau sekitar Rp393 triliun sepanjang 2022-2025.
Perkiraan tersebut mencakup berbagai sumber pemasukan, termasuk kerja sama militer dengan Rusia, pengiriman senjata dan amunisi, pengerahan personel ke Rusia, serta aktivitas siber yang dilakukan kelompok yang terkait dengan pemerintah Korea Utara.
Besarnya aliran dana tersebut menjadi signifikan bagi Pyongyang yang selama bertahun-tahun menghadapi sanksi ekonomi internasional.
Namun, angka US$22 miliar tidak bisa seluruhnya dianggap sebagai pendapatan dari Rusia. Kajian Institute for National Security Strategy (INSS) Korea Selatan memperkirakan pemasukan Korea Utara dari pengerahan pasukan dan ekspor persenjataan ke Rusia selama Agustus 2023 hingga Desember 2025 mencapai US$7,67 miliar-US$14,4 miliar.
Baca Juga: Gaji CEO S&P 500 Naik ke Rekor Tertinggi Seiring Meluasnya Skema Kompensasi Ala Musk
Rusia jadi sumber pemasukan besar
Kerja sama militer dengan Rusia menjadi salah satu sumber pemasukan baru bagi Korea Utara setelah invasi besar-besaran Moskow ke Ukraina pada 2022.
Ketika kebutuhan amunisi Rusia meningkat, Pyongyang memiliki persediaan besar peluru artileri yang kompatibel dengan sistem persenjataan era Uni Soviet.
Korea Utara kemudian memasok jutaan peluru artileri dan sejumlah rudal balistik kepada Rusia. Data Open Source Centre yang dikutip RUSI memperkirakan Korea Utara telah memasok sekitar 4,2 juta-5,8 juta amunisi kepada Rusia hingga April 2025.
Korea Selatan pada Maret 2026 juga memperkirakan Korea Utara telah mengirim sekitar 33.000 kontainer perlengkapan militer ke Rusia. Jumlah tersebut berpotensi berisi lebih dari 15 juta peluru artileri 152 milimeter.
Ukraina bahkan memperkirakan pasokan Korea Utara menyumbang hingga sekitar separuh kebutuhan amunisi Rusia dalam periode tertentu. Perkiraan mengenai porsinya memang bervariasi, tetapi sejumlah laporan menunjukkan ketergantungan Rusia terhadap amunisi Korea Utara cukup besar.
Tonton: Pertalite Mau Dibatasi untuk Orang Kaya, Hemat Rp17 Triliun?
Korea Utara kirim tentara ke Rusia
Selain senjata, Pyongyang juga mengirim personel militer untuk membantu Rusia.
INSS memperkirakan Korea Utara mengerahkan sekitar 21.000 personel dalam empat gelombang pengiriman hingga akhir 2025. Dari pengerahan tersebut, pendapatan yang diterima Korea Utara diperkirakan sekitar US$620 juta.
Rusia juga dilaporkan membayar tunjangan bagi personel Korea Utara yang ditempatkan di medan perang. Perkiraan sebelumnya dari sejumlah lembaga menunjukkan pembayaran untuk seorang prajurit Korea Utara dapat mencapai sekitar US$2.000 per bulan, meski nilai aktual yang diterima negara dan tentara tidak sepenuhnya diketahui.
Keterlibatan Korea Utara kini bahkan memasuki tahap yang lebih dalam.
Intelijen Ukraina pada awal Agustus 2026 mengatakan satu unit rudal Korea Utara tengah dikerahkan ke wilayah Voronezh, Rusia. Unit tersebut diperkirakan terdiri dari sekitar 90 personel dan dapat dilengkapi hingga 120 rudal balistik serta enam peluncur.
Pyongyang juga disebut telah mengirim tambahan sekitar 40 rudal KN-23 dan KN-24 ke Rusia.
Tonton: 732 Ribu Orang Berebut MagangHub, Hanya 150 Ribu yang Dapat Kuota
Ekonomi Korea Utara ikut terdongkrak
Aliran perdagangan dan pembayaran dari Rusia turut memberikan dorongan terhadap perekonomian Korea Utara.
Bank of Korea memperkirakan ekonomi Korea Utara tumbuh 3,5% pada 2025. Pertumbuhan tersebut menjadi tahun ketiga berturut-turut ekonomi Korea Utara mencatat pertumbuhan di atas 3%.
Pertumbuhan tersebut didorong antara lain oleh meningkatnya perdagangan dengan China dan Rusia, aktivitas pembangunan yang dipimpin pemerintah, serta meningkatnya permintaan terhadap persenjataan Korea Utara.
Meski demikian, skala ekonomi Korea Utara masih jauh di bawah negara-negara maju. Bank of Korea memperkirakan pendapatan nasional bruto nominal Korea Utara hanya sekitar US$34 miliar pada 2025.
Artinya, pemasukan dari kerja sama militer dengan Rusia memiliki arti yang jauh lebih besar bagi Pyongyang dibandingkan nilai nominalnya.
Tonton: Utang AS Hampir US$40 Triliun, Bayar Bunga Rp53 Triliun Sehari
Peretas Korea Utara jadi mesin uang digital
Sumber pemasukan Korea Utara tidak berhenti pada perdagangan senjata.
Pyongyang juga mengembangkan kemampuan siber yang digunakan untuk mencuri aset digital dari berbagai penjuru dunia.
TRM Labs memperkirakan kelompok yang terkait Korea Utara mencuri sekitar US$1,92 miliar aset kripto pada 2025. Salah satu kasus terbesar adalah peretasan bursa kripto Bybit pada Februari 2025 dengan nilai sekitar US$1,46 miliar.
Dana hasil pencurian kemudian dipindahkan melalui berbagai jaringan dan perantara untuk menyamarkan asal-usulnya. TRM Labs mencatat penggunaan jaringan perantara berbasis China sebagai bagian dari proses pencucian dan pencairan aset kripto tersebut.
Dengan cara tersebut, aktivitas siber menjadi sumber devisa alternatif bagi Korea Utara di tengah keterbatasan akses ke sistem keuangan internasional.
Tonton: Utang Pemerintah Tembus Rp10.293 Triliun, Masih Aman?
Uang Rusia ditukar dengan teknologi militer
Hubungan Pyongyang dan Moskow juga tidak sepenuhnya berbentuk transaksi tunai.
Kajian INSS menunjukkan bahwa dari estimasi pendapatan US$7,67 miliar-US$14,4 miliar yang diperoleh Korea Utara dari pengerahan pasukan dan ekspor militer ke Rusia, hanya sekitar US$580 juta-US$1,5 miliar yang teridentifikasi diterima dalam bentuk barang. Dengan kata lain, sebagian besar imbalan diduga diberikan dalam bentuk teknologi militer, komponen presisi, material strategis, atau bentuk kompensasi lain yang sulit diamati.
Ini menjadi bagian paling strategis dari hubungan Rusia dan Korea Utara.
Bagi Kim Jong Un, keuntungan perang bukan hanya tambahan devisa. Pyongyang juga berpeluang memperoleh akses terhadap teknologi dan pengalaman militer yang dapat mempercepat pengembangan kemampuan pertahanan Korea Utara.
Tonton: Pengangguran Turun Jadi 7,22 Juta, Tapi 1 Juta Lulusan Sarjana Masih Menganggur
Kim Jong Un semakin kuat secara finansial
Kombinasi pemasukan dari Rusia dan aktivitas siber membuat posisi keuangan Pyongyang menjadi lebih leluasa dibandingkan sebelumnya.
Andrei Lankov, pakar Korea Utara, menilai perang Ukraina memberikan keuntungan besar bagi Pyongyang melalui penjualan amunisi, senjata dan pengerahan personel ke Rusia. Namun, ia juga mengingatkan bahwa keuntungan tersebut dapat bersifat sementara karena kebutuhan Rusia terhadap amunisi artileri dapat berubah seiring perkembangan perang dan meningkatnya penggunaan drone.
Di sisi lain, kerja sama militer kedua negara terus berkembang.
Rusia mendapatkan akses terhadap pasokan amunisi, rudal dan personel. Korea Utara memperoleh uang, komoditas, pengalaman tempur dan kemungkinan akses teknologi.
Hubungan tersebut menciptakan simbiosis strategis yang membuat sanksi internasional terhadap Pyongyang semakin sulit mencapai tujuan awalnya.
Bagi Kim Jong Un, perang di Ukraina pada akhirnya tidak hanya menjadi konflik jauh di Eropa. Perang tersebut telah berubah menjadi sumber pemasukan, akses teknologi dan kesempatan memperkuat industri militernya.
Dan ketika hubungan Pyongyang-Moskow semakin dalam, Korea Utara bukan lagi sekadar pemasok senjata bagi Rusia. Negara itu mulai menjadi bagian penting dari mesin perang Rusia di Ukraina.
Sumber: https://www.kompas.com/global/read/2026/08/13/133249670/panen-cuan-korut-raup-rp-393-triliun-dari-perang-rusia-ukraina?page=all#page2.













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
