kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.655.000   -15.000   -0,56%
  • USD/IDR 17.985   -35,00   -0,19%
  • IDX 5.986   70,43   1,19%
  • KOMPAS100 782   11,35   1,47%
  • LQ45 595   10,44   1,79%
  • ISSI 206   0,99   0,48%
  • IDX30 337   5,69   1,72%
  • IDXHIDIV20 416   7,36   1,80%
  • IDX80 89   1,44   1,65%
  • IDXV30 113   2,29   2,08%
  • IDXQ30 108   1,76   1,65%

Dua Kapal Diserang di Selat Hormuz, Iran Tolak Dialog Jika Trump Terus Mengancam


Selasa, 07 Juli 2026 / 19:09 WIB
Dua Kapal Diserang di Selat Hormuz, Iran Tolak Dialog Jika Trump Terus Mengancam
ILUSTRASI. Dua kapal tanker diserang di Selat Hormuz, memicu kekhawatiran global. (REUTERS/Stringer)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Ketegangan di kawasan Teluk kembali meningkat setelah dua kapal tanker dilaporkan menjadi sasaran serangan di Selat Hormuz. Di saat yang sama, pemerintah Iran menegaskan tidak akan melanjutkan perundingan damai dengan Amerika Serikat selama Presiden Donald Trump terus melontarkan ancaman untuk melanjutkan perang.

Insiden tersebut terjadi ketika jutaan warga Iran mengikuti rangkaian pemakaman selama sepekan untuk mengenang pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan pada hari pertama perang beberapa bulan lalu.

Salah satu kapal yang terdampak adalah kapal pengangkut gas alam cair (LNG) asal Qatar, Al Rekayyat, yang melaporkan mengalami serangan pada malam hari hingga menyebabkan ruang mesin terbakar. Sumber keamanan maritim juga menyebut sebuah kapal tanker minyak mentah milik Arab Saudi turut mengalami kerusakan.

Dalam rekaman komunikasi radio yang ditinjau Reuters, nakhoda Al Rekayyat menyampaikan kondisi darurat.

"Mayday, mayday, mayday. Ini kapal Al Rekayyat, kapal LNG Al Rekayyat. Kami diserang drone di sisi kiri kapal, tepat di atas ruang mesin. Kondisi saat ini ruang mesin terbakar dan dipenuhi asap. Kami belum dapat menilai tingkat kerusakan lebih lanjut."

Baca Juga: Korban Tewas Gempa Venezuela Tembus 3.535 Jiwa, Ribuan Masih Mengungsi

Ia menambahkan seluruh awak kapal dalam keadaan selamat, tetapi kapal kehilangan tenaga penggerak dan sistem kemudi sehingga tidak dapat beroperasi.

"Seluruh awak kapal selamat, tetapi kapal tidak dapat bergerak karena mesin dan sistem kemudi tidak berfungsi. Kami meminta bantuan dari kapal mana pun yang berada di sekitar lokasi."

Hingga kini belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut. Media Axios melaporkan Iran diduga menembaki dua kapal tersebut, namun baik Washington maupun Teheran belum memberikan komentar resmi mengenai laporan tersebut.

Selat Hormuz Kembali Jadi Titik Panas

Serangan ini menjadi insiden pertama yang dilaporkan di Selat Hormuz sejak dimulainya masa berkabung nasional di Iran pekan lalu. Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa keamanan jalur pelayaran paling vital bagi perdagangan energi dunia masih jauh dari stabil, lebih dari empat bulan setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan operasi militer terhadap Iran.

Pemerintah Iran disebut semakin memperkuat kendali atas Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia.

Teheran dikabarkan berupaya membangun sistem permanen untuk memungut biaya dari kapal-kapal yang melintas, sebuah langkah yang berpotensi mengubah keseimbangan geopolitik di kawasan yang selama puluhan tahun dijaga oleh Amerika Serikat.

Ratusan Ribu Warga Hadiri Pemakaman Khamenei

Kepemimpinan Iran juga memperlihatkan soliditas politik selama masa berkabung atas wafatnya Ayatollah Ali Khamenei. Selain sang pemimpin tertinggi, putrinya, cucunya, menantu laki-laki, dan menantu perempuan juga dilaporkan tewas dalam serangan pada awal perang.

Baca Juga: Eks Sekjen Peringatkan Inggris Berisiko Hadapi Tekanan di KTT NATO

Pada Selasa, iring-iringan jenazah Khamenei dan keluarganya melintasi jalan-jalan di Kota Qom yang merupakan pusat pendidikan agama Syiah. Ratusan ribu warga turun ke jalan membawa bendera dan spanduk yang membandingkan Khamenei dengan para syuhada yang menjadi simbol penting dalam tradisi Syiah.

Massa juga meneriakkan seruan balas dendam atas kematian Khamenei. Sejumlah peserta membawa poster bertuliskan "Bunuh Trump."

Prosesi serupa sebelumnya digelar di Teheran pada Senin setelah rangkaian doa yang dimulai sejak Jumat lalu dan dihadiri para pemimpin Iran serta tamu kehormatan dari berbagai negara.

Menurut pemerintah Iran, jenazah Khamenei selanjutnya akan dibawa ke sejumlah kota suci Syiah di Irak sebelum dipulangkan kembali ke Iran untuk dimakamkan di sebuah kompleks makam bersejarah.

Iran Tolak Negosiasi Selama Ancaman Berlanjut

Perang antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel saat ini masih berada dalam masa jeda setelah kedua pihak menyepakati perjanjian damai sementara bulan lalu. Kesepakatan tersebut memberikan waktu 60 hari bagi para pihak untuk merundingkan penyelesaian permanen.

Namun, putaran pembicaraan tidak langsung yang berlangsung di Qatar pekan lalu belum menghasilkan kemajuan berarti.

Pada Senin, Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memperingatkan Iran.

"Kita akan mencapai kesepakatan atau kita akan menyelesaikan pekerjaan ini.... Kami dapat menghancurkan jembatan-jembatan mereka hanya dalam satu jam dan melumpuhkan pasokan energi mereka."

Menanggapi pernyataan tersebut, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menegaskan bahwa berdasarkan nota kesepahaman gencatan senjata sementara, pembahasan mengenai perjanjian damai permanen tidak akan dimulai selama ancaman militer masih disampaikan Washington.

"Perundingan mengenai kesepakatan akhir tidak akan dimulai apabila ancaman masih terus berlanjut."

Dalam unggahannya di platform X, Araqchi juga menulis: "Hormati tanda tangan Anda."

Harga Minyak Menguat

Insiden di Selat Hormuz langsung memengaruhi pasar energi global. Harga minyak dunia yang sebelumnya telah kembali mendekati level sebelum perang setelah tercapainya kesepakatan damai sementara, tercatat naik sekitar 1% pada Selasa menyusul laporan serangan terhadap kapal-kapal di jalur pelayaran tersebut.

Empat bulan lalu, Trump menyatakan tujuan operasi militer terhadap Iran adalah menghancurkan program nuklir dan rudal Teheran, mengakhiri kemampuan Iran mengancam negara-negara tetangganya, serta menciptakan kondisi yang memungkinkan rakyat Iran menggulingkan pemerintahan mereka.

Baca Juga: DeepSeek Kembangkan Chip AI Sendiri, Kurangi Ketergantungan pada Nvidia dan Huawei

Namun hingga kini, sebagian besar tujuan tersebut dinilai belum tercapai. Meski demikian, Washington tetap menyatakan bahwa kesepakatan damai permanen nantinya akan memastikan Iran tidak memiliki kemampuan mengembangkan senjata nuklir. Iran sendiri terus membantah memiliki ambisi untuk membangun senjata nuklir.

Di tengah masa berkabung yang telah berlangsung lima hari, belum ada penampilan publik dari Mojtaba Khamenei, putra sekaligus sosok yang disebut-sebut sebagai penerus Ayatollah Ali Khamenei.

Ia diyakini mengalami luka serius dalam serangan yang sama dan belum terlihat dalam foto maupun video sejak perang dimulai. Sementara itu, tiga putra Khamenei lainnya terlihat menghadiri prosesi doa di dekat peti jenazah pada Minggu.

Pemerintah Iran memandang besarnya partisipasi masyarakat dalam prosesi pemakaman sebagai bukti persatuan nasional pascaserangan Amerika Serikat dan Israel. Meski demikian, tingkat dukungan publik secara menyeluruh masih sulit diverifikasi mengingat ketatnya kontrol pemerintah terhadap media dan saluran komunikasi di negara tersebut.


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU

[X]
×