Reporter: Harris Hadinata | Editor: Harris Hadinata
KONTAN.CO.ID - WIESBADEN. Inflasi Jerman meningkat pada Agustus 2026 seiring lonjakan harga energi, terutama bahan bakar minyak. Lembaga statistik Jerman Destatis melaporkan, Kamis (10/9/2026), inflasi final berdasarkan indeks harga konsumen alias consumer price index (CPI) mencapai 2,9% secara tahunan.
Inflasi tahunan naik dari 2,8% pada Juli dan 2,3% pada Juni 2026. Kenaikan tersebut sekaligus menandai penguatan tekanan harga selama dua bulan berturut-turut. Secara bulanan, inflasi konsumen Jerman pada Agustus naik 0,2% dibandingkan Juli, sesuai konsensus proyeksi ekonom.
Destatis menyebut kenaikan harga energi kembali menjadi faktor utama pendorong inflasi. “Pada bulan Agustus, harga energi yang lebih tinggi kembali menjadi pendorong utama inflasi secara keseluruhan,” sebut Ruth Brand, Presiden Destatis, dalam rilis pers, Kamis (10/9/2026).
Harga produk energi secara keseluruhan melonjak 10,5% pada Agustus dibandingkan bulan yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan Juli sebesar 8,3% dan Juni 3,4%.
Menurut Destatis, kenaikan harga energi pada Agustus merupakan yang terbesar dalam lebih dari tiga tahun. Kenaikan terakhir yang lebih tinggi terjadi pada Februari 2023, ketika harga energi meningkat 19,1% secara tahunan.
Baca Juga: China Borong Hampir 1 Juta Ton Kedelai AS Jelang Pertemuan Xi Jinping-Trump
Brand mengatakan, kenaikan harga energi pada Agustus terutama terlihat pada harga bahan bakar. Harga bahan bakar naik dipengaruhi oleh perang di Iran.
Harga BBM melonjak 27,7% dibandingkan Agustus 2025, setelah pada Juli masih naik 23,0%. Bahkan dibandingkan Juli 2026, harga BBM kembali meningkat 3,1% pada Agustus. Harga diesel naik 6,4% secara bulanan, sementara bensin super naik 2,1%.
Harga minyak pemanas bahkan mencatat kenaikan lebih tinggi, yakni 49,6% secara tahunan. Namun, dampaknya terhadap inflasi energi rumah tangga secara keseluruhan relatif terbatas karena minyak pemanas hanya memiliki porsi kecil dalam konsumsi energi rumah tangga.
Kondisi tersebut membuat perkembangan harga energi rumah tangga berbeda dengan BBM dan minyak pemanas. Secara keseluruhan, harga energi rumah tangga justru turun 0,7% dibandingkan setahun sebelumnya. Ini antara lain karena harga listrik turun 5,5%, gas alam termasuk biaya operasional turun 2,9%, dan pemanas distrik turun 1,0%.
Sementara itu, tekanan harga dari kelompok pangan relatif mereda. Harga makanan pada Agustus hanya naik 0,1% secara tahunan, lebih rendah dibandingkan kenaikan 0,4% pada Mei, Juni, dan Juli.
Baca Juga: Lalu Lintas Kapal di Selat Hormuz Turun, Hanya 7 Kapal Melintas
Meski secara keseluruhan harga pangan nyaris tidak berubah, sejumlah komoditas mencatat pergerakan yang cukup tajam. Harga telur meningkat 15,2%, sayuran segar naik 5,2%, serta ikan, produk ikan dan makanan laut naik 4,4%. Sebaliknya, harga lemak dan minyak pangan turun 15,3%, termasuk harga mentega yang anjlok 29,9%. Harga buah segar turun 5,6%, sementara produk susu turun 5,5%.
Di luar energi dan pangan, tekanan harga juga masih cukup kuat. Inflasi inti, yang tidak memperhitungkan harga pangan dan energi, tercatat naik 2,4% secara tahunan pada Agustus. Angka tersebut memang lebih rendah dibandingkan inflasi umum 2,9%, tetapi menunjukkan tekanan harga di luar komponen yang paling bergejolak masih bertahan.













