Ekonomi Global Tak Pasti Tekan Prospek Saham-Saham Teknologi

Senin, 26 September 2022 | 09:44 WIB   Reporter: Adrianus Octaviano
Ekonomi Global Tak Pasti Tekan Prospek Saham-Saham Teknologi

ILUSTRASI. Aksi jual besar-besaran untuk saham teknologi tahun 2022 diperkirakan masih akan berlanjut.


KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Aksi jual besar-besaran untuk saham teknologi tahun 2022 diperkirakan masih akan berlanjut. Sebab, investor bersiap untuk kehilangan pendapatan yang dapat memacu penurunan lebih dari 10% indeks Nasdaq 100.

Mengutip Bloomberg, Senin (26/9), lebih dua pertiga dari 914 responden dalam survei Pulse MLIV berpendapat bahwa keuntungan dari perusahaan teknologi akan mengecewakan pasar sepanjang tahun 2022.

Perusahaan termasuk Google Alphabet Inc. berisiko memotong pengeluaran pengiklan karena ekonomi global sedang berjuang. Sementara layanan streaming termasuk Netflix Inc. menghadapi eksodus pelanggan yang sensitif terhadap harga dengan konsumen mengencangkan ikat pinggang mereka.

Indeks Nasdaq 100 turun sekitar 31% sepanjang tahun ini, menghapus triliunan dolar dalam nilai pasar, karena investor menilai kembali nilai pasca-pandemi dari banyak model bisnis. Kenaikan suku bunga memukul saham dan mengurangi nilai pendapatan masa depan mereka.

Baca Juga: Indeks Wall Street Jatuh, Dow Jones Terendah Sejak November 2020

Inflasi menaikkan biaya, sementara dolar yang lebih kuat membebani keuntungan dan ancaman resesi meningkat. Apple Inc. menyatakan akan menaikkan harga pembelian App Store di seluruh Asia dan negara-negara yang menggunakan euro, karena nilai mata uang asing jatuh terhadap dolar.

Sementara itu, Microsoft Corp menurunkan perkiraannya karena kuatnya mata uang dolar AS. Dan pada bulan Juli, Sony Group Corp. memperingatkan investor tentang dampak dari perlambatan ekonomi global, terutama di Eropa, dan efek buruk dari dolar yang kuat pada hasil keuangannya.

Indeks dolar Bloomberg, yang melacak kinerja greenback terhadap 10 mata uang global terkemuka, telah mencatat rekor baru.

Pendapatan perusahaan teknologi diproyeksikan tertinggal dari emiten anggota S&P 500 di kuartal ketiga dan keempat. Laba per saham mereka diperkirakan turun 6,6% secara tahunan pada kuartal ketiga, dibandingkan dengan kenaikan 3,2% untuk keseluruhan S&P 500, menurut data Intelijen Bloomberg.

Sementara itu, investor ritel dan profesional juga bearish pada metaverse. Lebih dari 70% responden MLIV Pulse mengatakan bahwa mereka tahu apa itu metaverse tetapi itu tidak akan mengubah cara mereka berinteraksi dengan orang dan bisnis selama dua tahun ke depan.

Sisi baiknya, perusahaan teknologi yang fokus pada produk berkelanjutan dan hemat daya kemungkinan akan mendapat manfaat dari krisis energi yang belum pernah terjadi sebelumnya setelah invasi Rusia ke Ukraina. Setelah Rusia membatasi pasokan gas alam ke tetangga yang sangat bergantung, harga listrik melonjak ke tingkat rekor, dan pemerintah berjuang melawan potensi keruntuhan ekonomi.

Investor melihat tagihan listrik yang tinggi dan kelangkaan bahan bakar mendorong pengembangan solusi hijau. Pelaku ritel adalah yang paling optimistis, dengan 63% responden mengatakan mereka percaya krisis gas dan minyak akan mendorong pengembangan elektronik yang berkelanjutan.

“Jika kita telah berinvestasi lebih banyak dalam efisiensi energi, dan berinvestasi lebih banyak dalam energi terbarukan, maka kita akan berada dalam posisi yang lebih baik,” ujar Rachel Kyte, dekan Fletcher School di Tufts University.

Baca Juga: Pasar Global Sedang Bearish, Ini Strategi yang Dilakukan Oleh Para Miliarder

Editor: Khomarul Hidayat

Terbaru