kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.857.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.020   -18,00   -0,11%
  • IDX 7.027   -157,66   -2,19%
  • KOMPAS100 971   -21,90   -2,21%
  • LQ45 715   -12,21   -1,68%
  • ISSI 251   -5,90   -2,30%
  • IDX30 389   -4,63   -1,18%
  • IDXHIDIV20 483   -4,52   -0,93%
  • IDX80 109   -2,25   -2,01%
  • IDXV30 133   -1,42   -1,05%
  • IDXQ30 127   -1,23   -0,96%

Ekonomi melemah, warga China tahan nafsu belanja


Kamis, 27 Juni 2013 / 07:31 WIB
ILUSTRASI. Diet air putih atau water fasting memiliki beberapa manfaat yang baik bagi kesehatan salah satunya adalah membantu meregenerasi sel tubuh.


Reporter: Sandy Baskoro | Editor: Sandy Baskoro

SHANGHAI. Warga China mulai mengerem belanja konsumsi. The Boston Consulting Group (BCG) melaporkan, konsumen di Negeri Tembok Raksasa itu berniat mengurangi belanja, lantaran tingkat kepercayaan mereka terhadap ekonomi terus menyusut.

Bukan hanya di kota besar, secara tak terduga, konsumen di kota-kota kecil pun enggan mengucurkan duit secara berlebihan untuk berbelanja. Survei BCG memperlihatkan, sebanyak 27% konsumen di China berencana membelanjakan uang lebih banyak pada tahun ini. Angka tersebut memang lebih tinggi dibandingkan negara maju.

Namun, persentase itu melorot 11% dibandingkan angka tahun lalu sebesar 38%. BCG melaksanakan survei pada April tahun ini terhadap 1.000 konsumen yang tersebar di 12 kota di China.

Mengutip China Daily, Selasa (25/6) lalu, BCG berpendapat, pemicu bahwa sebagian besar penurunan angka persentase tersebut dipicu oleh melambatnya perekonomian China.

Tahun lalu, separuh konsumen China yang disurvei optimistis ekonomi terus membaik dalam 12 bulan ke depan. Tapi tahun ini BCG melaporkan, hanya 38% konsumen yang optimistis ekonomi China tumbuh meyakinkan.

Dengan mengerem belanja, konsumen China justru ingin menyimpan uang lebih banyak lagi. Nilai tabungan rumah tangga di Tiongkok menyentuh rekor tertinggi dalam sejarah, yakni 38% dari pendapatan 2012. Jumlah itu lebih tinggi ketimbang posisi 10 tahun lalu di level 23%.

Warga China ingin menyimpan uang lebih banyak demi mendukung keluarga atau membeli barang mahal, seperti rumah dan mobil. Namun ada satu alasan utama, yakni harga properti melonjak, sehingga menekan pos belanja lain. Sebanyak 34%warga yang belum memiliki properti berencana mengurangi belanja. Adapun mereka yang sudah memiliki properti berniat mengurangi belanja sebesar 27% responden.

Kemudian, 39% warga yang ingin membeli rumah dalam dua atau tiga tahun ke depan, menyatakan bakal membelanjakan sedikit uang. Sedangkan 31% warga yang belum ingin membeli rumah dalam tempo dua atau tiga tahun lagi, justru akan memangkas belanja. "Selama harga rumah memberatkan, belanja konsumen China tak akan naik tinggi," tutur Jeff Walters, Managing Director BCG China.




TERBARU

[X]
×