Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Gelombang baru investasi China di Brasil semakin terlihat dengan masuknya berbagai merek konsumen, mulai dari makanan dan minuman hingga teknologi dan otomotif. Ekspansi ini menandai pergeseran strategi Beijing yang kini lebih fokus pada pasar ritel dan konsumen di luar negeri.
Salah satu simbol ekspansi tersebut adalah kehadiran jaringan es krim dan minuman asal China, Mixue, yang membuka gerai pertamanya di São Paulo pada Sabtu (11/4). Dengan maskot manusia salju yang kontras dengan iklim tropis Brasil, perusahaan ini menandai langkah awal penetrasi pasar Amerika Selatan.
Mixue bahkan berencana menginvestasikan sekitar 3 miliar real Brasil (sekitar US$590 juta) dan menargetkan pembukaan 500 hingga 1.000 gerai hingga 2030, termasuk melalui skema waralaba.
Perubahan Pola Investasi China
Masuknya Mixue mencerminkan perubahan pola investasi China di Brasil. Jika sebelumnya investasi terkonsentrasi pada proyek besar seperti pembangkit listrik tenaga air dan sektor energi, kini perusahaan China mulai membidik lebih dari 200 juta konsumen Brasil secara langsung.
Baca Juga: Jepang Pertimbangkan Kebijakan Moneter untuk Perkuat Yen di Tengah Lonjakan Inflasi
Data dari Brazil-China Business Council menunjukkan investasi langsung China di Brasil mencapai US$4,2 miliar pada 2024, meningkat dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya melalui 39 proyek. Hal ini menjadikan Brasil sebagai salah satu tujuan utama investasi China secara global.
Strategi ini juga dipengaruhi oleh meningkatnya hambatan perdagangan di Amerika Serikat, yang selama ini menjadi pasar utama ekspor China. Akibatnya, perusahaan-perusahaan China kini mencari pasar alternatif dengan potensi pertumbuhan tinggi.
Produk China Semakin Diminati
Sejumlah perusahaan China lainnya juga aktif memperluas bisnis di Brasil, mulai dari aplikasi pengiriman makanan hingga produsen kendaraan listrik dan elektronik.
Raksasa teknologi Huawei, misalnya, membuka toko fisik pertamanya di São Paulo tahun lalu setelah hampir tiga dekade beroperasi di negara tersebut. Langkah ini dilakukan untuk memenuhi preferensi konsumen Brasil yang menyukai pengalaman belanja langsung.
Di sektor otomotif, produsen kendaraan listrik seperti GWM dan BYD juga memperluas investasinya. Keduanya bahkan mengakuisisi pabrik dari perusahaan Barat dan mengalihkannya untuk produksi kendaraan listrik dan hybrid.
GWM, misalnya, berencana menginvestasikan hingga 10 miliar real dalam satu dekade di pabrik yang sebelumnya dimiliki oleh Mercedes-Benz.
Dukungan Politik dan Geopolitik
Hubungan ekonomi antara Brasil dan China juga didukung oleh dinamika geopolitik global. Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva secara terbuka menyatakan bahwa hubungan kedua negara berada pada titik tertinggi.
Baca Juga: Harga BBM Melonjak, Warga AS Tertekan Dampak Perang Iran dan Krisis Energi
Di sisi lain, ketegangan geopolitik dengan Amerika Serikat mendorong perusahaan China untuk mengalihkan investasi ke negara-negara berkembang seperti Brasil.
Ekspansi ke Sektor Digital dan Layanan
Selain sektor ritel dan manufaktur, perusahaan China juga mulai masuk ke sektor digital. Platform e-commerce seperti AliExpress dan Shein telah lebih dulu populer di kalangan konsumen Brasil berkat harga yang kompetitif.
Kini, perusahaan layanan seperti Meituan berencana menginvestasikan hingga US$1 miliar hingga 2030 untuk bersaing di pasar pengiriman makanan yang sudah ramai, termasuk melawan pemain seperti Rappi dan iFood.
Minat konsumen Brasil terhadap produk China dinilai cukup tinggi, terutama karena kombinasi harga yang terjangkau dan kualitas yang kompetitif. Namun, perusahaan China tetap menghadapi tantangan dalam menyesuaikan produk dan layanan dengan preferensi lokal serta persaingan yang ketat.













