Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Elon Musk, miliarder yang ditugaskan untuk merampingkan birokrasi pemerintah Amerika Serikat (AS) akan menghadiri rapat kabinet pertama Presiden Donald Trump pada Rabu (26/2).
Kehadirannya terjadi di tengah kontroversi yang terus berkembang terkait rencananya untuk memberhentikan sejumlah besar pegawai federal.
Rapat ini menjadi ajang tarik-menarik kekuasaan antara Musk, Trump, dan pejabat pemerintah dalam ujian awal terhadap otoritas Musk di pemerintahan.
Baca Juga: 10 Orang Terkaya di Dunia Tahun 2025: Elon Musk di Puncak, Disusul Zuckerberg & Bezos
Kebijakan Pemangkasan dan Kehebohan di Pemerintahan
Meskipun Musk bukan anggota kabinet resmi, pengaruhnya dalam beberapa minggu pertama pemerintahan Trump disebut-sebut lebih besar dibandingkan pejabat lainnya.
Kebijakan Musk yang mengharuskan pegawai federal melaporkan pencapaian mereka atau menghadapi pemecatan telah menyebabkan kekacauan di berbagai lembaga pemerintah.
Sebagian lembaga menginstruksikan pegawainya untuk memenuhi permintaan Musk, sementara yang lain menyatakan mereka bisa mengabaikannya.
Meskipun Office of Personnel Management (OPM)—badan yang mengawasi birokrasi federal—menyatakan pegawai tidak wajib merespons email Musk, Trump dan sekutunya tampaknya tetap mendorong agar para pegawai mematuhinya.
Pada Sabtu lalu, Musk memberi pegawai federal batas waktu 48 jam untuk mengirim daftar lima pencapaian mereka selama seminggu.
Baca Juga: Harapan Nissan Kandas, Elon Musk Tak Akan Jadi Penyelamat yang Dinanti!
Pada Selasa (25/2), ia terus menekan pegawai melalui media sosial agar segera mengirimkan laporan tersebut.
Trump pun turut menanggapi kebijakan Musk. Saat ditanya oleh wartawan, Trump menyatakan bahwa permintaan tersebut "bersifat sukarela, tetapi jika tidak menjawab, saya kira mereka akan dipecat."
Sikap pemerintahan terhadap kebijakan Musk bervariasi. Kepala Small Business Administration Kelly Loeffler mendukung langkah tersebut, menyebutnya sebagai cara untuk memastikan pegawai benar-benar bekerja.
Namun, Kepala FBI yang baru diangkat Trump, Kash Patel, justru meminta pegawainya untuk menunda respons terhadap permintaan Musk.