kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45749,52   23,69   3.26%
  • EMAS920.000 0,66%
  • RD.SAHAM 0.55%
  • RD.CAMPURAN 0.20%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Facebook: Virus corona telah memukul penjualan iklan


Rabu, 25 Maret 2020 / 14:23 WIB
Facebook: Virus corona telah memukul penjualan iklan
ILUSTRASI. Facebook.

Reporter: Umar Tusin | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Facebook mengatakan telah memotong penjualan iklan yang berkontribusi besar terhadap pendapatannya, bahkan kebijakan tersebut diambil ketika lebih banyak pengguna menghabiskan waktu di media sosial selama masa lockdown akibat virus corona.

"Kami tidak memonetisasi banyak layanan meskipun kami melihat terjadi peningkatan, dan kami telah melihat melemahnya bisnis iklan kami di negara-negara yang mengambil tindakan agresif untuk mengurangi penyebaran COVID-19," kata perusahaan itu dalam sebuah pernyataan yang dilansir oleh Reuters.

Baca Juga: Kominfo gandeng Facebook rilis chatbot WhatsApp tentang virus corona

Saham Facebook turun sekitar 1% dalam  beberapa jam setelah kenaikan 8,7% dalam perdagangan reguler.

Facebook mengatakan pengiriman pesan di seluruh platformnya meningkat lebih dari 50% dibandingkan bulan lalu. Peningkatan tersebut tersebar di beberapa negara yang terkena dampak terburuk akibat virus corona.

Di Italia secara khusus, sebesar 70% pengguna Facebook telah menghabiskan lebih banyak waktu di aplikasinya. Sementara, panggilan grup meningkat lebih dari 1.000% di Italia pada bulan lalu.

Facebook menolak berkomentar mengenai pasar mana yang mengalami dampak buruk terhadap bisnis mereka.

Sementara, perusahaan lainnya seperti Twitter mengatakan, telah terjadi peningkatan pengguna aktif di aplikasinya. Akan tetapi, pihaknya memperkirakan pendapatan pada kuartal pertama mengalami kerugian akibat virus corona.

Baca Juga: Jika lockdown gagal, muncul potensi gelombang III corona sebesar tsunami di Malaysia

Banyak pengiklan yang menarik anggaran pemasaran untuk mengendalikan biaya karena ketidakpastian terkait virus. Beberapa juga tampaknya ragu untuk beriklan karena takut mengaitkan merek mereka dengan topik yang sensitif.



TERBARU

[X]
×