kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.859.000   40.000   1,42%
  • USD/IDR 17.535   0,00   0,00%
  • IDX 6.859   -46,72   -0,68%
  • KOMPAS100 916   0,38   0,04%
  • LQ45 670   1,21   0,18%
  • ISSI 248   -2,34   -0,93%
  • IDX30 377   0,90   0,24%
  • IDXHIDIV20 461   -0,72   -0,16%
  • IDX80 104   0,22   0,22%
  • IDXV30 132   0,58   0,44%
  • IDXQ30 120   -0,91   -0,75%

Flu Burung Menyerang Mamalia di Dekat Antartika untuk Pertama Kalinya


Kamis, 11 Januari 2024 / 11:05 WIB
ILUSTRASI. Flu burung telah menyebar ke populasi anjing laut berbulu dan gajah untuk pertama kalinya di pulau sub-Antartika, Georgia Selatan. REUTERS/Natalie Thomas


Sumber: Channelnewsasia.com | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Flu burung telah menyebar ke populasi anjing laut berbulu dan gajah untuk pertama kalinya di pulau sub-Antartika, Georgia Selatan, demikian konfirmasi tim ilmuwan pada Kamis (11/1), yang memicu peringatan bagi para pelestari lingkungan karena penyakit yang sangat menular ini telah menyebar ke seluruh populasi dan telah membunuh jutaan burung di seluruh dunia.

Para ilmuwan pertama kali mencurigai adanya flu burung di dekat Antartika pada Oktober 2023, menyusul kematian beberapa burung laut skua coklat di Pulau Burung, bagian dari Wilayah Luar Negeri Inggris di Georgia Selatan dan Kepulauan Sandwich Selatan.

Kemudian, anjing laut gajah mulai mati secara massal.

Pada bulan Desember, para ilmuwan dari Badan dan Kesehatan Hewan dan Tumbuhan Inggris (APHA) dan British Antarctic Survey (BAS) menghabiskan tiga minggu di pulau-pulau yang terkena dampak, mengumpulkan sampel dari mamalia dan burung yang mati.

Baca Juga: Seberapa Mengkhawatirkan Wabah Pneumonia Misterius di China?

Sampel-sampel tersebut dinyatakan positif mengidap flu burung (HPAI H5N1) pada anjing laut gajah, anjing laut berbulu, skua coklat, burung camar rumput laut, dan burung laut Antartika, kata para ilmuwan pada hari Kamis.

“Mengingat Antartika merupakan pusat keanekaragaman hayati yang unik dan istimewa, sungguh menyedihkan dan memprihatinkan melihat penyakit ini menyebar ke mamalia di wilayah tersebut,” kata direktur layanan ilmiah APHA, Ian Brown.

Wabah H5N1 di seluruh dunia yang terjadi saat ini, yang dimulai pada tahun 2021, telah membunuh jutaan unggas di peternakan unggas, dan para ilmuwan khawatir dampaknya terhadap satwa liar Antartika bisa sangat buruk. Virus ini berpotensi menginfeksi 48 spesies burung dan 26 spesies mamalia laut, menurut laporan yang diterbitkan bulan lalu oleh OFFLU, jaringan global pakar influenza hewan.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×