kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.504.000   16.000   0,64%
  • USD/IDR 16.740   33,00   0,20%
  • IDX 8.748   101,19   1,17%
  • KOMPAS100 1.205   11,60   0,97%
  • LQ45 852   5,43   0,64%
  • ISSI 315   6,02   1,95%
  • IDX30 439   1,60   0,37%
  • IDXHIDIV20 511   1,24   0,24%
  • IDX80 134   1,29   0,97%
  • IDXV30 140   1,02   0,73%
  • IDXQ30 140   0,22   0,15%

Gambaran Sektor Manufaktur Global di Akhir 2025: Eropa Masih Lesu, Asia Juara


Jumat, 02 Januari 2026 / 19:44 WIB
Gambaran Sektor Manufaktur Global di Akhir 2025: Eropa Masih Lesu, Asia Juara
ILUSTRASI. PMI China naik ke level 50,1 di Desember 2025, didorong lonjakan pesanan menjelang liburan (REUTERS/Gabriel Crossley)


Sumber: Reuters | Editor: Harris Hadinata

KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Ekonomi global belum benar-benar pulih dari tekanan. Di sejumlah kawasan, ekonomi dan aktivitas manufaktur masih berada dalam tekanan.

Uni Eropa masih mengalami perlambatan di sektor manufaktur pada Desember lalu. Ini terlihat dari Purchasing Manager’s Index (PMI) sektor manufaktur di sejumlah negara Eropa.

PMI HCOB kawasan Uni Eropa, yang disusun S&P Global, turun ke level 48,8 di Desember dari level 49,6 di November. Ini adalah angka terendah dalam sembilan bulan.

Baca Juga: Perlambatan Manufaktur Dunia: Bagaimana Asia dan Eropa Menghadapinya?

Survei tersebut mendapati terjadi penurunan aktivitas manufaktur yang luas di zona euro. Ini antara lain didorong produksi yang turun untuk pertama kalinya dalam 10 bulan, karena penurunan lebih lanjut dalam pesanan baru

Jerman, negara dengan ekonomi terbesar di blok tersebut, mencatat kinerja manufaktur terlemah di antara delapan negara yang dipantau. PMI Jerman mencapai titik terendah dalam 10 bulan. Italia dan Spanyol juga kembali mengalami kontraksi ekonomi.

"Perusahaan tampaknya tidak mampu atau tidak mau membangun momentum untuk tahun mendatang, tetapi malah berhati-hati, yang merupakan racun bagi perekonomian," kata Cyrus de la Rubia, Kepala Ekonom Hamburg Commercial Bank, dikutip Reuters, Jumat (2/1/2026).

Baca Juga: Sektor Manufaktur RI Lesu, Sektor Mebel dan Kerajinan Ikut Tertekan

Sedikit berbeda, PMI sektor manufaktur di Prancis justru melonjak ke level tertinggi dalam 42 bulan, mencapai level 50,7. Realisasi ini naik dari 47,8 di November.

Sementara Inggris, yang tidak bergabung dengan Uni Eropa, mencetak pertumbuhan laju manufaktur tercepat dalam 15 bulan. PMI naik ke 50,6 dai 50,2 sebulan sebelumnya, didorong pemulihan permintaan berkat program Menteri Keuangan Inggris Rachel Reeves.

Tumbuh di Asia

Di sisi lain, aktivitas manufaktur negara-negara di kawasan Asia tumbuh. PMI China, yang dirilis Selasa (30/12/2025), menunjukkan pembalikan arah tak terduga.

Baca Juga: Industri Permesinan Tumbuh 18,75%, Jadi Penopang Sektor Manufaktur ILMATE

PMI China naik ke level 50,1 di Desember 2025. Kenaikan ini didorong lonjakan pesanan menjelang liburan.

Aktivitas pabrik di negara-negara pengekspor teknologi utama seperti Korea Selatan (Korsel) dan Taiwan juga membaik. Data terbaru mengakhiri penurunan yang sudah terjadi selama berbulan-bulan.

PMI Korsel juga bertengger di level 50,1 di Desember, naik dari 49,4 di November. Sementara PMI Taiwan mencapai level 50,9, naik dari 48,8 di November.

Baca Juga: PMI Terkontraksi pada Juli 2025, Kemenkeu Siapkan Stimulus untuk Sektor Manufaktur

"Ekspor dari sebagian besar negara telah melonjak dalam beberapa bulan terakhir, dan kami pikir prospek jangka pendek untuk sektor manufaktur berorientasi ekspor Asia tetap menguntungkan," kata Shivaan Tandon, Ekonom kawasan Asia di Capital Economics.

Tandon mencatat, sebagian besar negara di Asia akan mendapat manfaat dari pergeseran permintaan Amerika Serikat (AS) dari China. Sejumlah negara juga diuntungkan permintaan global yang kuat untuk perangkat keras terkait akal imitasi.

Negara-negara di Asia Tenggara juga mencetak PMI positif. Cuma Vietnam dan Indonesia yang mencatat penurunan aktivitas manufaktur, kendati masih di area ekspansif.

Baca Juga: Sektor Manufaktur Melambat, Serikat Pekerja Sarankan Tekan Impor & Pacu Daya Beli

"Menurut para produsen, peluncuran produk baru dan peningkatan permintaan eksternal mendorong peningkatan penjualan, sementara kepercayaan terhadap prospek juga meningkat secara signifikan pada Desember hingga mencapai level tertinggi sejak Mei 2022," kata Usamah Bhatti, Ekonom S&P Global Market Intelligence.

Selanjutnya: India Kejar Kesepakatan Dagang dengan AS, Kumpulkan Data Mingguan Impor Minyak Rusia

Menarik Dibaca: Hujan Sangat Deras di Provinsi Ini, Cek Peringatan Dini BMKG Cuaca Besok (3/1)




TERBARU
Kontan Academy
Mitigasi, Tips, dan Kertas Kerja SPT Tahunan PPh Coretax Orang Pribadi dan Badan Supply Chain Management on Practical Inventory Management (SCMPIM)

[X]
×