CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.610.000   -4.000   -0,15%
  • USD/IDR 17.962   17,00   0,09%
  • IDX 6.232   56,24   0,91%
  • KOMPAS100 823   8,72   1,07%
  • LQ45 628   5,84   0,94%
  • ISSI 214   2,70   1,27%
  • IDX30 354   2,95   0,84%
  • IDXHIDIV20 440   1,97   0,45%
  • IDX80 94   1,10   1,18%
  • IDXV30 118   0,63   0,54%
  • IDXQ30 114   0,48   0,43%

Gangguan di Selat Hormuz Berlanjut, Lalu Lintas Kapal dan LNG Kian Menurun


Senin, 20 Juli 2026 / 14:11 WIB
Gangguan di Selat Hormuz Berlanjut, Lalu Lintas Kapal dan LNG Kian Menurun
ILUSTRASI. Jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz masih berada pada level rendah sepanjang akhir pekan seiring meningkatnya serangan AS dan Iran (REUTERS/Stringer)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz masih berada pada level rendah sepanjang akhir pekan seiring meningkatnya serangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di kawasan Timur Tengah.

Berdasarkan data pelayaran yang dirilis LSEG pada Senin (20/7), hanya empat kapal yang melintasi Selat Hormuz pada Minggu (19/7/2026). Jumlah tersebut menurun dibandingkan delapan kapal yang tercatat sehari sebelumnya.

Data tersebut juga menunjukkan bahwa setidaknya tiga kapal tanker pengangkut produk minyak dan satu kapal tanker minyak mentah berukuran sangat besar atau Very Large Crude Carrier (VLCC) telah memasuki selat tersebut sejak Jumat untuk memuat minyak.

Cakupan data LSEG meliputi pergerakan kapal kontainer, kapal curah, kapal pengangkut kendaraan, serta kapal tanker yang membawa minyak, gas, dan bahan kimia.

Pada Minggu, Amerika Serikat menyatakan telah menyelesaikan serangan malam kedelapan berturut-turut terhadap Iran. Di saat yang sama, sekutu AS di kawasan Teluk, yakni Kuwait dan Bahrain, melaporkan adanya serangan lanjutan dari Iran.

Baca Juga: Perang AS-Iran Berlanjut, Harga Minyak Melonjak Tembus US$ 90 per Barel

Dalam beberapa hari terakhir, kedua belah pihak mulai menargetkan jalur pelayaran. Amerika Serikat menyebut tengah memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, sementara Iran menyatakan akan menindak kapal-kapal yang dianggap melanggar aturan pelayaran di Selat Hormuz.

Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur energi paling strategis di dunia yang biasanya menangani sekitar seperlima perdagangan minyak global.

Badan Operasi Perdagangan Maritim Inggris atau United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) pada Senin melaporkan telah menerima informasi mengenai sebuah kapal yang terbakar sekitar delapan mil laut atau 14,8 kilometer di barat laut Kumzar, Oman. Namun, UKMTO menyatakan penyebab kebakaran tersebut belum dapat dipastikan.

Pengiriman LNG Turun Drastis

Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, tidak ada kapal tanker pengangkut gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) yang terlihat melintasi Selat Hormuz sejak Kamis pekan lalu. Meski demikian, sebagian kapal tanker dan kapal lainnya diketahui terkadang mematikan sistem pelacak atau transponder untuk menyamarkan pergerakannya.

Data pelacakan kapal dari S&P Global Energy menunjukkan rata-rata pergerakan LNG bermuatan yang melintasi Selat Hormuz dalam 10 hari terakhir turun menjadi hanya 0,2 kargo per hari pada 15 Juli. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan sekitar 0,8 kargo per hari pada akhir Juni.

Dalam sepekan terakhir, hanya satu kargo LNG yang diketahui keluar dari kawasan Teluk.

Meski aktivitas pengiriman terganggu, produksi LNG dan pemuatan kapal di Qatar serta Uni Emirat Arab masih berlangsung dalam laju yang relatif kuat.

Analis S&P Global dalam laporannya menyebut kondisi tersebut menyebabkan persediaan LNG yang tersimpan di atas kapal tanker yang menunggu di dalam kawasan Teluk terus meningkat.

Baca Juga: Rusia Klaim Gagalkan Serangan 400 Drone Ukraina ke Moskow, Dua Orang Terluka

Hingga pertengahan Juli, diperkirakan terdapat tujuh kapal pengangkut LNG asal Qatar yang membawa sekitar 0,57 juta ton metrik LNG. Selain itu, kapasitas kapal tanker LNG yang saat ini berada di kawasan Teluk mencapai hampir 1,9 juta ton.

Jumlah tersebut setara dengan sekitar delapan hari ekspor normal sebelum pecahnya konflik dari dua proyek LNG utama di kawasan tersebut.

S&P Global menilai, jika hambatan pelayaran di Selat Hormuz mulai mereda dalam beberapa pekan mendatang, kapal-kapal tersebut berpotensi mendorong lonjakan ekspor LNG dalam waktu singkat.

"Jika hambatan efektif di Selat Hormuz mereda dalam beberapa pekan mendatang, kapal-kapal ini dapat memungkinkan peningkatan ekspor yang relatif cepat dengan melepaskan pasokan LNG yang sebelumnya telah diproduksi dan dimuat," tulis S&P Global.


Video Terkait



TERBARU

[X]
×