CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.610.000   -4.000   -0,15%
  • USD/IDR 17.962   17,00   0,09%
  • IDX 6.232   56,24   0,91%
  • KOMPAS100 823   8,72   1,07%
  • LQ45 628   5,84   0,94%
  • ISSI 214   2,70   1,27%
  • IDX30 354   2,95   0,84%
  • IDXHIDIV20 440   1,97   0,45%
  • IDX80 94   1,10   1,18%
  • IDXV30 118   0,63   0,54%
  • IDXQ30 114   0,48   0,43%

Perang AS-Iran Berlanjut, Harga Minyak Melonjak Tembus US$ 90 per Barel


Senin, 20 Juli 2026 / 14:07 WIB
Perang AS-Iran Berlanjut, Harga Minyak Melonjak Tembus US$ 90 per Barel
ILUSTRASI. Serangan militer Amerika Serikat (AS) terhadap Iran memasuki hari kesembilan berturut-turut pada Senin (20/7). (REUTERS/Stringer)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – DUBAI/KAIRO. Serangan militer Amerika Serikat (AS) terhadap Iran memasuki hari kesembilan berturut-turut pada Senin (20/7/2026).

Konflik yang terus memanas tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan pelayaran di Selat Hormuz setelah Iran menyatakan dua kapal tanker minyak mengalami ledakan dan tidak dapat melanjutkan perjalanan.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) pada Senin menyatakan telah menargetkan pesawat militer AS di Bandara Aqaba, Yordania, menggunakan rudal balistik. Selain itu, Iran juga mengklaim menyerang aset dan peralatan militer AS di Kamp Al-Adiri dan Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait, serta sejumlah fasilitas militer di Suriah.

Sirene peringatan terdengar di Bahrain pada Senin pagi, menurut pernyataan Kementerian Dalam Negeri negara tersebut. Sementara itu, militer Kuwait mengatakan pihaknya berhasil mencegat sejumlah drone yang disebut sebagai bagian dari serangan Iran.

Gelombang serangan terbaru ini merupakan bagian dari eskalasi konflik antara AS dan Iran setelah kesepakatan gencatan senjata sementara yang ditandatangani sebulan lalu runtuh. Kondisi tersebut memperdalam perebutan pengaruh di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang penting bagi distribusi energi dunia.

Baca Juga: Rusia Klaim Gagalkan Serangan 400 Drone Ukraina ke Moskow, Dua Orang Terluka

Dalam pernyataannya, Komando Pusat AS (CENTCOM) menyebut telah memulai “gelombang serangan baru” yang bertujuan “melemahkan” kemampuan Iran dalam menyerang kapal-kapal komersial di jalur pelayaran utama Selat Hormuz. Namun, CENTCOM tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai operasi tersebut.

Kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, melaporkan bahwa rudal-rudal AS menghantam sejumlah kota di Iran pada Senin dini hari. Ledakan dilaporkan terdengar di Tabriz, Chabahar, Konarak, Bandar Mahshahr, dan Bandar Imam Khomeini.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan Washington akan terus melancarkan serangan terhadap Iran selama negara tersebut masih mengganggu pelayaran komersial internasional.

“Selat Hormuz adalah jalur perairan internasional, dan mereka terus melancarkan serangan terhadap kapal-kapal di jalur pelayaran internasional tersebut,” kata Rubio.

“Selama Iran bersikeras mengendalikan jalur perairan internasional, kami harus merespons tindakan itu. Amerika Serikat selalu terbuka terhadap solusi diplomatik,” tambahnya.

Iran Klaim Menyerang Pangkalan AS, Dua Kapal Tanker Rusak

Pemerintah Kuwait menyatakan sebuah fasilitas desalinasi kembali diserang untuk hari kedua berturut-turut. Serangan tersebut memicu kebakaran dan disebut sebagai serangan langsung terhadap infrastruktur sipil vital.

Kekhawatiran terhadap kelancaran pasokan energi melalui Selat Hormuz terus meningkat setelah AS dan Iran kembali terlibat dalam konflik terbuka akibat saling tuduh melanggar kesepakatan gencatan senjata.

United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) pada Minggu malam melaporkan adanya kapal yang terbakar di dekat pesisir Oman, meskipun penyebab insiden tersebut belum dapat dipastikan.

IRGC pada Senin menyatakan bahwa dua kapal tanker minyak meledak dan tidak dapat beroperasi setelah mencoba melintasi jalur selatan Selat Hormuz yang mereka sebut tidak aman. Iran menuduh militer AS mendorong kapal-kapal tersebut menggunakan rute tersebut.

Namun, Reuters belum dapat memverifikasi insiden itu secara independen.

Pernyataan IRGC juga tidak mengungkapkan identitas kapal, bendera yang digunakan, jumlah awak, maupun kemungkinan korban jiwa akibat ledakan tersebut.

Garda Revolusi memperingatkan bahwa Selat Hormuz akan tetap menjadi wilayah yang tidak aman selama apa yang mereka sebut sebagai “agresi” AS di kawasan masih berlangsung.

“Jalur ini tidak akan aman bagi pengiriman produk petrokimia, bahkan tidak untuk satu tetes minyak dan gas sekalipun,” demikian pernyataan IRGC.

Baca Juga: Argentina Gagal Back-to-Back Juara Piala Dunia, Suporter Tetap Bangga pada Messi Cs

Berdasarkan data LSEG, hanya empat kapal yang melintasi Selat Hormuz pada Minggu, turun dari delapan kapal sehari sebelumnya. Data tersebut juga menunjukkan setidaknya tiga kapal tanker pengangkut produk minyak dan satu kapal tanker minyak mentah berukuran sangat besar (Very Large Crude Carrier/VLCC) memasuki selat itu sejak Jumat untuk memuat minyak.

Kondisi geopolitik yang memburuk mendorong kenaikan harga minyak dunia sekitar 2% pada Senin, sehingga menembus level di atas US$ 90 per barel.

Korban Militer AS Bertambah

Dalam perkembangan terbaru, militer AS pada Minggu mengumumkan seorang personel militer tewas sehari sebelumnya di Irak utara. Insiden itu terjadi saat proses peledakan terkendali terhadap amunisi yang belum meledak dari drone serang Iran yang berhasil dijatuhkan.

Sebelumnya, militer AS juga melaporkan dua personel tewas di Yordania dan satu lainnya dinyatakan hilang saat bertugas. Pada Minggu, CENTCOM menyatakan telah menemukan “jenazah yang belum teridentifikasi” di lokasi serangan pada Jumat lalu dan proses identifikasi masih berlangsung.

Dengan tambahan korban terbaru tersebut, jumlah personel militer AS yang tewas sejak perang dimulai meningkat menjadi 17 orang, sementara lebih dari 420 lainnya mengalami luka-luka.

Konflik yang pecah setelah AS dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari dengan tujuan melumpuhkan program nuklir dan rudal Teheran serta melemahkan kelompok-kelompok sekutunya di kawasan, telah menewaskan ribuan orang, terutama di Iran dan Lebanon.


Video Terkait



TERBARU

[X]
×