Gejolak Pasar Urungkan Niat Sejumlah Perusahaan untuk IPO di AS

Kamis, 13 Januari 2022 | 10:28 WIB   Reporter: Adrianus Octaviano
Gejolak Pasar Urungkan Niat Sejumlah Perusahaan untuk IPO di AS

ILUSTRASI. Ilustrasi bursa AS. REUTERS/Andrew Kelly


KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Kondisi pasar yang bergejolak saat ini membuat beberapa perusahaan yang berencana IPO di AS mulai memikirkan kembali niatnya. Bahkan, beberapa perusahaan sudah memutuskan menunda rencana IPO mereka.

Yang terbaru, perusahaan teknologi asuransi TypTap dan perusahaan perangkat lunak SDM Justworks yang menunda penawaran umum perdana (IPO) AS. Minggu lalu, operator rantai pakaian Authentic Brands Group Inc juga menarik rencana listing di AS.

Keputusan menunda IPO dari beberapa perusahaan ini muncul di tengah aksi jual baru-baru ini dalam saham teknologi dan kinerja yang buruk dari beberapa perusahaan yang go public pada tahun 2021.

Pembuat perangkat lunak sumber daya manusia dan penggajian Justworks mengakui bahwa kondisi pasar tersebut yang akhirnya menunda rencana mereka untuk IPO AS. 

Baca Juga: Bursa Asia Mixed, Mayoritas Indeks Menguat pada Perdagangan Kamis (13/1) Pagi

Berdasarkan data dari Refinitiv yang dilaporkan oleh Reuters (13/1), lebih dari 60% perusahaan yang go public tahun lalu saat ini diperdagangkan di bawah harga IPO mereka.

Sekadar informasi, TypTap Insurance Group Inc mengajukan IPO pada Agustus tahun lalu, ketika pandemi telah memaksa sektor asuransi sangat bergantung pada kecerdasan buatan dan data besar untuk menjangkau pelanggan.

Didirikan pada 2016, TypTap mengumpulkan US$ 100 juta dari dana yang berafiliasi dengan Centerbridge Partners pada Februari tahun lalu. Investasi, mewakili sekitar 11,75% dari TypTap, menyiratkan penilaian sekitar US$ 850 juta untuk perusahaan.

Premi mereka naik lebih dari dua kali lipat menjadi US$ 214 juta pada September dari akhir 2020. Namun, perusahaan masih melaporkan kerugian bersih yang lebih luas sebesar US$ 14,7 juta dalam sembilan bulan yang berakhir September, dibandingkan dengan US$ 7,5 juta pada tahun sebelumnya.

Editor: Herlina Kartika Dewi

Terbaru