kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.670.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.016   35,00   0,19%
  • IDX 5.876   131,22   2,28%
  • KOMPAS100 765   20,79   2,79%
  • LQ45 582   16,29   2,88%
  • ISSI 204   4,37   2,19%
  • IDX30 329   8,59   2,68%
  • IDXHIDIV20 406   11,61   2,94%
  • IDX80 87   2,30   2,72%
  • IDXV30 110   2,89   2,69%
  • IDXQ30 106   3,06   2,97%

Gelombang Lock-up IPO Terbesar Menghampiri Hong Kong, Investor Diminta Waspada


Senin, 06 Juli 2026 / 07:37 WIB
Gelombang Lock-up IPO Terbesar Menghampiri Hong Kong, Investor Diminta Waspada
ILUSTRASI. Hong Kong - Indeks Hang Seng (REUTERS/Tyrone Siu)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Bursa saham Hong Kong bersiap menghadapi gelombang terbesar pelepasan saham lock-up dari perusahaan-perusahaan yang baru melantai di bursa.

Analis memperkirakan kondisi ini berpotensi meningkatkan tekanan jual di pasar yang sepanjang tahun ini masih mencatatkan kinerja negatif.

Baca Juga: SK Hynix Siap Gelar Listing US$ 28 Miliar di Nasdaq, Manfaatkan Demam AI Global

Mengutip Reuters, sejumlah perusahaan yang mencatatkan kenaikan harga saham sangat tinggi setelah penawaran umum perdana (IPO) akan memasuki masa berakhirnya periode penguncian saham (lock-up period) bagi investor awal pada pekan ini.

Salah satunya adalah Knowledge Atlas Technology yang akan melepas sekitar 25,6 juta saham atau hampir 6% dari total saham beredar pada Rabu (8/7/2026).

Saham pengembang kecerdasan buatan (AI) asal China tersebut telah melonjak lebih dari 1.200% sejak resmi tercatat di bursa.

Selain itu, MiniMax dan Shanghai Iluvatar CoreX Semiconductor juga termasuk dalam enam emiten yang masa lock-up-nya berakhir pekan ini. Sekitar 45% saham beredar MiniMax dan 4,3% saham Shanghai Iluvatar CoreX Semiconductor akan mulai bebas diperdagangkan.

Kenaikan harga saham IPO yang sangat tinggi dinilai dapat mendorong aksi ambil untung (profit taking) dari para investor awal.

Baca Juga: Jelang Portugal vs Spanyol, Cristiano Ronaldo Ungkap Piala Dunia 2026 Jadi Penutup

Berdasarkan data EY, rata-rata imbal hasil hari pertama IPO di Hong Kong pada semester I-2026 mencapai 61%, jauh lebih baik dibandingkan kinerja pasar saham secara keseluruhan.

Di sisi lain, indeks acuan Hang Seng Index masih melemah sekitar 8,9% sepanjang tahun ini.

Analis Morgan Stanley memperkirakan tekanan dari penjualan saham sekunder akan paling terasa pada Juli dan September.

Menurut Morgan Stanley, berakhirnya masa lock-up dapat menciptakan tekanan terhadap likuiditas pasar meskipun fundamental perusahaan tidak mengalami perubahan.

Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan bank investasi itu masih bersikap hati-hati terhadap prospek pasar saham Hong Kong dalam jangka pendek.

Baca Juga: Laba Samsung Diprediksi Melonjak 18 Kali Lipat, Demam AI Dongkrak Harga Chip Memori

Sementara itu, Goldman Sachs memperkirakan saham senilai sekitar US$ 274 miliar akan keluar dari masa lock-up dan mulai diperdagangkan di Hong Kong dalam 12 bulan ke depan. Nilai tersebut menjadi yang terbesar sepanjang sejarah.

Secara historis, analis Goldman Sachs mencatat harga saham yang baru keluar dari masa lock-up cenderung terkoreksi sekitar 4% hingga 7% dalam tiga hingga enam bulan setelah saham tersebut mulai bebas diperdagangkan.




TERBARU

[X]
×