kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.806.000   0   0,00%
  • USD/IDR 16.585   -5,00   -0,03%
  • IDX 6.511   38,26   0,59%
  • KOMPAS100 929   5,57   0,60%
  • LQ45 735   3,38   0,46%
  • ISSI 201   1,06   0,53%
  • IDX30 387   1,61   0,42%
  • IDXHIDIV20 468   2,62   0,56%
  • IDX80 105   0,58   0,56%
  • IDXV30 111   0,69   0,62%
  • IDXQ30 127   0,73   0,58%

Gempa Myanmar Tewaskan Lebih dari 1.000 Orang, Upaya Penyelamatan Terus Dilakukan


Sabtu, 29 Maret 2025 / 20:05 WIB
Gempa Myanmar Tewaskan Lebih dari 1.000 Orang, Upaya Penyelamatan Terus Dilakukan
ILUSTRASI. Kerusakan bangunan akibat gempa bumi di Mandalay, Myanmar (28/3/2025).


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - BANGKOK. Pemerintah militer Myanmar akhirnya mengizinkan ratusan tim penyelamat asing masuk ke negara tersebut setelah gempa bumi dahsyat menewaskan lebih dari 1.000 orang.

Gempa berkekuatan 7,7 magnitudo yang terjadi pada Jumat (28/3) menjadi bencana alam paling mematikan dalam beberapa tahun terakhir di negara yang dilanda konflik ini.

Gempa tersebut merusak bandara, jembatan, dan jalan raya di tengah perang saudara yang telah melumpuhkan ekonomi Myanmar serta menyebabkan jutaan orang mengungsi.

Baca Juga: UPDATE Korban Gempa Dahsyat Magnitudo 7,7 di Myanmar, Junta Sebut 144 orang Meninggal

Hingga Sabtu (29/3), jumlah korban tewas yang dikonfirmasi oleh pemerintah militer Myanmar telah mencapai 1.002 jiwa.

Di negara tetangga, Thailand, gempa juga mengguncang bangunan dan menyebabkan runtuhnya sebuah gedung pencakar langit yang masih dalam tahap konstruksi di Bangkok. Sedikitnya sembilan orang dilaporkan tewas di sana.

Penyelamatan di Tengah Keterbatasan

Di Mandalay, kota terbesar kedua di Myanmar yang menjadi salah satu wilayah terdampak paling parah, warga terpaksa menggunakan tangan kosong untuk menggali reruntuhan guna menyelamatkan korban yang masih terjebak. Minimnya alat berat dan tidak adanya respons cepat dari otoritas memperburuk situasi.

Di Bangkok, upaya penyelamatan terus dilakukan di lokasi gedung 33 lantai yang runtuh. Sebanyak 47 orang, termasuk pekerja asal Myanmar, masih hilang atau terjebak di bawah puing-puing.

Menurut model prediksi dari Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), jumlah korban tewas akibat gempa ini bisa melebihi 10.000 jiwa. Sementara kerugian ekonomi diperkirakan melampaui total pendapatan tahunan Myanmar.

Baca Juga: Gempa Bumi Myanmar Rusak Bangunan, Ada Kekhawatiran Kondisi Bendungan Besar

Bandara Lumpuh, Bantuan Internasional Mulai Berdatangan

Gempa ini menyebabkan kerusakan luas di berbagai wilayah, termasuk Mandalay dan ibu kota Naypyitaw. Oposisi Myanmar, Pemerintah Persatuan Nasional (NUG) memperkirakan setidaknya 2.900 bangunan, 30 ruas jalan, dan tujuh jembatan rusak akibat gempa.

Akibat kerusakan signifikan, bandara internasional di Naypyitaw dan Mandalay ditutup sementara. Bahkan, menara kontrol di Bandara Naypyitaw dilaporkan runtuh, membuat operasional bandara lumpuh total.

Setelah menerima permintaan bantuan dari Myanmar, berbagai negara mulai mengirimkan bantuan. Tim penyelamat China telah tiba di Yangon dan akan melanjutkan perjalanan ke Mandalay melalui jalur darat.

Presiden China Xi Jinping berbicara langsung dengan pemimpin junta Myanmar, Min Aung Hlaing, dan menjanjikan bantuan senilai US$13,77 juta berupa tenda, selimut, dan peralatan medis darurat.

India juga mengirimkan bantuan kemanusiaan menggunakan pesawat militer dan kapal yang membawa 40 ton pasokan darurat. Selain itu, Rusia, Malaysia, dan Singapura turut mengirimkan pesawat berisi bantuan dan tim penyelamat.

Asosiasi Negara-Negara Asia Tenggara (ASEAN) menyatakan kesiapannya untuk membantu Myanmar dalam upaya tanggap darurat.

Korea Selatan juga berkomitmen menyalurkan bantuan awal senilai USD 2 juta melalui organisasi internasional.

Baca Juga: Gempa Magnitudo 7,7 Mengguncang, Myanmar Umumkan Keadaan Darurat

Harapan di Tengah Keterbatasan

Meskipun bantuan mulai berdatangan, kondisi di lokasi bencana masih sangat sulit. Di Mandalay, banyak korban masih terperangkap di bawah reruntuhan tanpa ada cukup tenaga atau alat untuk menyelamatkan mereka.

"Begitu banyak orang terjebak, tapi tidak ada bantuan yang datang karena tidak cukup tenaga kerja, peralatan, atau kendaraan," kata seorang warga setempat yang enggan disebutkan namanya karena alasan keamanan.

Sementara itu, di Bangkok, pemerintah Thailand terus mengerahkan upaya maksimal untuk mencari korban di gedung yang runtuh.

Wakil Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul, mengatakan bahwa tim penyelamat bekerja tanpa henti untuk menemukan korban yang masih hidup.

"Kami selalu punya harapan," ujarnya kepada wartawan.

"Kami akan terus bekerja sepanjang waktu."

Baca Juga: Pemimpin Junta Myanmar Umumkan Pemilihan Umum pada Desember 2025 atau Januari 2026

Seorang warga Bangkok, Chanpen Kaewnoi (39), mengungkapkan kekhawatirannya setelah mengetahui bahwa ibunya dan adiknya bekerja di gedung yang runtuh.

"Aku mencoba menelepon adikku berkali-kali, tapi tidak ada jawaban," katanya dengan mata sembab setelah semalaman menunggu di lokasi.

"Aku hanya ingin melihat wajah mereka lagi."

Dewan Insinyur Thailand memperkirakan hingga 5.000 bangunan di Bangkok mengalami kerusakan akibat gempa ini. Para insinyur kini tengah menilai tingkat bahaya dari setiap gedung yang terdampak.

"Kami sedang memeriksa ratusan laporan," kata Anek Siripanichgorn, salah satu anggota dewan.

"Jika ditemukan bangunan yang berisiko tinggi, kami akan segera mengirimkan tim insinyur."

Gempa ini menambah penderitaan rakyat Myanmar yang telah bertahun-tahun hidup dalam kondisi konflik dan ketidakpastian.

Kini, mereka tidak hanya berjuang melawan dampak perang saudara, tetapi juga menghadapi dampak dahsyat dari bencana alam yang menghancurkan negeri mereka.

Selanjutnya: Puncak Arus Mudik, Jasa Marga Catat Lebih dari 1,4 Juta Kendaraan Keluar Jabotabek

Menarik Dibaca: Nastar Jadi Kue Favorit Lebaran 2025 versi Populix


Survei KG Media

TERBARU

[X]
×