Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Israel melancarkan serangan terberatnya sejauh ini ke Lebanon pada Rabu (8/4/2026), menewaskan ratusan orang dan memicu ancaman pembalasan dari Iran. Iran mengatakan serangan tersebut melanggar kesepakatan gencatan senjata yang disepakati dengan Amerika Serikat sehari sebelumnya.
Reuters melaporkan, Iran dan Amerika Serikat memaparkan agenda yang sangat berbeda untuk perundingan yang bertujuan menciptakan perdamaian yang lebih tahan lama di kawasan. Perundingan itu dijadwalkan berlangsung di Pakistan pada Sabtu, dipimpin oleh Wakil Presiden AS JD Vance serta Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi.
Kedua pejabat Iran tersebut mempertanyakan apakah gencatan senjata dapat bertahan, dengan menyatakan kesepakatan itu telah dirusak oleh serangan Israel yang terus berlanjut di Lebanon, di mana Israel juga menjalankan perang paralel melawan milisi Hizbullah yang bersekutu dengan Iran.
“AS harus memilih, gencatan senjata atau perang yang terus berlanjut melalui Israel. Tidak bisa keduanya,” tulis Araqchi di media sosial.
Israel dan Amerika Serikat sama-sama menyatakan bahwa gencatan senjata dua minggu tersebut tidak mencakup Lebanon, dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan serangan akan terus dilakukan.
Baca Juga: Gedung Putih Tegur Keras NATO soal Iran, Ini Akar Permasalahannya
Presiden AS Donald Trump mengumumkan gencatan senjata itu pada Selasa malam, dua jam sebelum tenggat waktu yang ia tetapkan bagi Iran untuk membuka Selat Hormuz yang diblokade atau menghadapi penghancuran “seluruh peradabannya”.
Meski Amerika Serikat dan Iran sama-sama menyatakan kemenangan dalam perang yang telah berlangsung lima minggu dan menewaskan ribuan orang, sengketa inti mereka tetap belum terselesaikan. Kedua pihak masih bertahan pada tuntutan yang saling bertolak belakang untuk sebuah kesepakatan yang dapat membentuk Timur Tengah selama beberapa generasi.
Ambisi nuklir Iran juga tetap menjadi titik perselisihan. Trump mengatakan Iran telah setuju untuk menghentikan pengayaan uranium, yang dapat digunakan untuk membuat hulu ledak nuklir, dan Gedung Putih menyatakan Iran mengindikasikan akan menyerahkan stok uranium yang dimilikinya saat ini.
“Amerika Serikat akan, bekerja sama dengan Iran, menggali dan menghapus semua ... ‘debu’ nuklir yang terkubur dalam,” tulis Trump di media sosial.
Namun, Qalibaf mengatakan Iran tetap diizinkan untuk melanjutkan pengayaan uranium berdasarkan ketentuan gencatan senjata.
Meski situasi masih tidak pasti, indeks saham global melonjak sementara harga minyak anjlok 14% dan ditutup di sekitar US$ 95 per barel, setelah sempat turun hingga US$ 90,40.
Harga patokan minyak mentah Brent masih sekitar US$ 25 lebih tinggi dibanding sebelum serangan gabungan AS-Israel dimulai. Kemampuan Iran yang kini terbukti dapat memutus pasokan energi kawasan Teluk melalui kendalinya atas selat tersebut, meski AS telah berinvestasi besar dalam kekuatan militernya di kawasan selama puluhan tahun, menunjukkan bagaimana konflik ini telah mengubah dinamika kekuatan di Teluk.
Baca Juga: Kegembiraan Sementara: Gencatan Senjata AS-Iran Terganggu Serangan Israel dan Teheran













