Sumber: Reuters | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - HANOI. Perdana Menteri Vietnam telah memerintahkan Nghi Son Refinery and Petrochemical LLC, yang merupakan kilang minyak terbesar di Vietnam, untuk mengurangi produksi petrokimia dan fokus pada bahan bakar.
Pham Minh Chinh dalam sebuah pernyataan ketika mengunjungi fasilitas kilang tersebut juga bilang, agar Nghi Son Refinery and Petrochemical LLC segera melakukan diversifikasi bahan baku untuk memproses lebih banyak jenis minyak mentah.
Kilang minyak Nghi Son Refinery and Petrochemical LLC memiliki kapasitas 200.000 barel per hari. Di pekan lalu, Nghi Son Refinery and Petrochemical LLC menyatakan telah mengamankan pasokan minyak mentah yang cukup untuk operasi tanpa gangguan hingga akhir Mei 2026.
Kilang tersebut mengolah minyak mentah yang hampir seluruhnya berasal dari Kuwait.
Baca Juga: Kedelai dan Jagung Naik Dipicu Konflik Iran dan Kekeringan di AS
Vietnam akan segera membangun sistem penyimpanan minyak baru di sebelah kilang untuk "memastikan keamanan energi Vietnam," demikian pernyataan tersebut seperti dikutip Reuters.
Sekedar mengingatkan, harga bahan bakar di Vietnam telah melonjak akibat perang Iran. Di mana, harga bensin naik 21% dan harga solar melonjak 54%, menurut data dari pedagang bahan bakar terkemuka Petrolimex.
Pemerintah Vietnam mengatakan pada akhir pekan bahwa akan menginvestasikan 8 triliun dong atau setara US$ 304 juta ke dalam dana stabilisasi harga bahan bakar yang dikelola pemerintah untuk membantu menekan kenaikan harga.
Kilang Minyak dan Petrokimia Binh-Son, kilang minyak lainnya di negara itu, sedang bernegosiasi dengan mitra Rusia untuk membeli minyak mentah Rusia, menurut laporan media pemerintah pada hari Minggu.













