Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Harga emas melonjak di atas US$ 3.100 per ons pada Senin (31/3), menembus rekor tertinggi baru di angka US$ 3.106,50 per ons.
Kenaikan ini didorong oleh kekhawatiran terkait tarif baru yang direncanakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump serta ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global.
Sejak awal tahun, harga emas telah meningkat lebih dari 18%, mencerminkan daya tariknya sebagai aset safe haven di tengah ketidakstabilan ekonomi dan inflasi.
Baca Juga: Harga Emas Naik Siang Ini, Pasar Antisipasi Dampak Kebijakan Tarif AS
Awal bulan ini, emas juga menembus batas psikologis US$ 3.000 per ons untuk pertama kalinya, mengindikasikan meningkatnya kekhawatiran terhadap prospek ekonomi global.
Sejumlah bank investasi, termasuk Goldman Sachs, Bank of America (BofA), dan UBS, telah merevisi proyeksi harga emas mereka.
Goldman Sachs memperkirakan harga emas dapat mencapai US$ 3.300 per ons pada akhir tahun, sementara BofA memperkirakan harga emas berada di kisaran US$ 3.063 per ons pada 2025 dan US$ 3.350 per ons pada 2026, lebih tinggi dari estimasi sebelumnya.
Kebijakan tarif yang diumumkan Trump menjadi salah satu faktor utama yang mendorong lonjakan harga emas.
Baca Juga: Harga Emas Cetak Rekor Tertinggi Lagi ke US$ 2.942,7 Per Ons Troi, Dipicu Tarif Trump
Ia berencana menerapkan tarif 25% pada mobil dan suku cadang impor, serta tambahan 10% untuk semua barang impor dari China. Tarif baru ini dijadwalkan diumumkan pada 2 April, yang menambah ketidakpastian di pasar.
Menurut konsultan Marex Edward Meir, kebijakan tarif ini akan terus menjadi faktor pendorong kenaikan harga emas hingga ada kejelasan lebih lanjut.
Selain itu, permintaan kuat dari bank sentral dan arus masuk dana ke emas melalui bursa juga diperkirakan akan mempertahankan tren kenaikan harga logam mulia ini.