Sumber: Reuters | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Harga minyak anjlok US$ 2 pada hari awal perdagangan setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan tarif timbal balik pada mitra dagang, yang memicu kekhawatiran bahwa perang dagang global dapat mengurangi permintaan minyak mentah.
Kamis (3/4) pukul 08.15 WIB, harga minyak mentah berjangka jenis Brent untuk kontrak pengiriman Juni 2025 turun US$ 1,97, atau 2,63% menjadi US$ 72,98 per barel.
Setali tiga uang, harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Mei 2025 turun US$ 1,98 atau 2,76% ke US$ 69,73 per barel.
Trump menyebut tanggal 2 April sebagai "Hari Pembebasan," yang akan membawa bea baru yang dapat menjungkirbalikkan sistem perdagangan global.
Baca Juga: Harga Minyak Anjlok Usai Trump Umumkan Kebijakan Tarif Baru
Kedua acuan harga minyak tersebut ditutup lebih tinggi pada sesi sebelumnya tetapi berubah negatif selama konferensi pers Trump yang digelar Rabu (2/4) sore, saat ia mengumumkan tarif dasar 10% untuk semua impor ke AS dan bea masuk yang lebih tinggi untuk puluhan mitra dagang terbesar negara tersebut.
"Kami tahu hal ini akan berdampak negatif bagi perdagangan, pertumbuhan ekonomi, dan dengan demikian pertumbuhan permintaan minyak. Namun kami tidak tahu seberapa buruk dampaknya karena dampaknya akan terasa beberapa saat kemudian," kata Bjarne Schieldrop, kepala analis komoditas di SEB.
Impor minyak, gas, dan produk olahan dikecualikan dari tarif baru Presiden AS Donald Trump, kata Gedung Putih pada Rabu.
Kebijakan tarif Trump dapat memicu inflasi, memperlambat pertumbuhan ekonomi, dan mengintensifkan sengketa perdagangan, kemungkinan yang telah membebani harga minyak.
Memperkuat sentimen bearish, data Badan Informasi Energi pada Rabu menunjukkan persediaan minyak mentah AS meningkat secara mengejutkan sebesar 6,2 juta barel minggu lalu, bertentangan dengan perkiraan analis untuk penurunan sebesar 2,1 juta barel