Sumber: Reuters | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID - SINGAPURA/DUBAI. Segera setelah serangan rudal dan drone Iran pertama di Dubai pekan lalu, dua pengusaha India yang berbasis di sana mencoba memindahkan dana lebih dari US$ 100.000 masing-masing dari rekening bank lokal mereka ke Singapura untuk mengurangi risiko.
"Namun, gangguan teknologi pasca serangan Iran awalnya menggagalkan rencana tersebut," kata para pengusaha, yang tidak ingin disebutkan namanya karena sensitivitas masalah tersebut kepada Reuters, Jumat (6/3/2026).
Salah satu dari mereka mengatakan bahwa ia kemudian berhasil mentransfer sejumlah uang ke rekening banknya di Singapura melalui bank lain yang berbasis di Uni Emirat Arab.
Ternyata, para penasihat industri dan pengacara menyebut, puluhan orang kaya Asia lainnya sedang mengambil langkah serupa untuk memindahkan aset mereka yang diparkir di Dubai ke pusat keuangan regional Singapura dan Hong Kong. Alasannya karena perang AS-Israel di Iran mengaburkan citra Teluk sebagai tempat aman dan mengguncang investor.
Meskipun orang kaya biasanya mendiversifikasi investasi mereka di berbagai wilayah dan kelas aset, mereka memilih tempat untuk berbasis tergantung pada pertimbangan pajak, peraturan, privasi, dan operasional.
Baca Juga: Bank of Japan Bakal Tunda Kenaikan Suku Bunga Hingga Juli Efek Konflik Timur Tengah
Untuk mencapai tujuan tersebut, Dubai telah muncul dalam beberapa tahun terakhir sebagai pusat kekayaan pilihan bagi para pengusaha dan keluarga kaya di Asia, terutama dari Tiongkok, karena mereka ingin memanfaatkan kebijakan-kebijakan yang menguntungkan.
Selain itu, dengan booming properti dan infrastruktur, kawasan Teluk juga telah menjadi tujuan investasi. Total aset sektor perbankan dan keuangan Uni Emirat Arab (UEA) melebihi 5,42 triliun dirham (US$ 1,48 triliun), menurut bank sentralnya.
Tren ini sekarang berada di bawah pengawasan ketat, karena serangan terhadap Dubai dan Abu Dhabi telah menimbulkan keraguan terhadap reputasi UEA dalam hal stabilitas.
Pengacara kekayaan pribadi yang berbasis di Singapura, Ryan Lin, mengatakan enam atau tujuh dari 20 kliennya yang berbasis di Dubai, masing-masing memiliki aset rata-rata US$ 50 juta, menghubunginya minggu ini. Tiga di antaranya berencana segera mentransfer aset ke negara kota tersebut.
Salah satu klien "sedang memeriksa seberapa cepat mereka dapat mentransfer semuanya ke Singapura", kata Lin.
Iris Xu, kepala di penyedia layanan korporasi dan dana global Anderson Global, mengatakan, “10 hingga 20 kantor keluarga telah bertanya kepada perusahaannya minggu ini tentang memindahkan aset kembali ke Singapura dari Timur Tengah karena kekhawatiran konflik tersebut mungkin akan berlarut-larut.”
Family Office atau kantor keluarga adalah perusahaan terpadu yang mengelola portofolio orang kaya.
“Dubai selalu tentang keuntungan pajak, tetapi sekarang saya pikir keuntungan pajak mungkin bukan prioritas utama bagi mereka,” katanya.
Baca Juga: Harga Minyak Turun, AS Pertimbangkan Intervensi di Pasar Berjangka
Seorang penasihat manajemen kekayaan di Singapura, yang tidak ingin disebutkan namanya karena tidak berwenang untuk berbicara kepada media, mengatakan bahwa mereka telah berbicara dengan 13 klien yang berbasis di UEA sejauh ini, dengan lebih dari setengahnya serius untuk memindahkan aset ke Singapura.
“Bolak terbang akan menjadi tantangan bahkan jika konflik berakhir besok. Ini adalah masalah kepercayaan,” kata penasihat tersebut.
Grace Tang, CEO Phillip Private Equity, mengatakan, sebagian besar kliennya yang berasal dari Asia merasa khawatir, dengan 10 hingga 20 orang bertanya tentang memindahkan kekayaan mereka ke Singapura dan berupaya untuk melindungi modal mereka.
Wait and See
Namun, tidak semua manajer kekayaan memandang konflik Timur Tengah yang sedang berlangsung sebagai pemicu pelarian modal segera.
Dhruba Jyoti Sengupta, CEO WRISE Private Middle East yang berbasis di Dubai, sebuah grup manajemen kekayaan, mengatakan, perusahaan tersebut belum melihat "diskusi serius tentang pelarian modal", karena klien yakin tentang ketahanan jangka panjang UEA.
"Mereka adalah investor global yang berpengalaman, sudah terdiversifikasi secara internasional, tetapi sangat berinvestasi ... dalam kisah pertumbuhan UEA," katanya. "Terlepas dari gejolak geopolitik yang lebih luas di kawasan ini, klien merasa aman dan terlindungi."
Sektor perbankan dan keuangan UEA tangguh, kuat, stabil, dan berada pada posisi yang baik untuk menghadapi perkembangan regional, kata Gubernur Bank Sentral UEA, Khaled Mohamed Balama, pada hari Kamis, menambahkan bahwa bank, perusahaan keuangan, dan perusahaan asuransi beroperasi secara normal dan tanpa gangguan.
Baca Juga: Pengusaha Kripto Justin Sun Bayar US$10 Juta untuk Menyelesaikan Kasus Penipuan SEC
Manajer kekayaan terkemuka yang berbasis di Singapura, Bank of Singapore dan DBS Group menyebut, klien mereka mengamati dengan cermat perkembangan di kawasan tersebut dan mengambil pendekatan menunggu dan mengamati untuk saat ini.
Saat UEA berupaya mempertahankan statusnya sebagai tempat perlindungan yang aman, beberapa pihak melanjutkan rencana ekspansi mereka di Emirat.
Jeremy Lim, salah satu pendiri GrandWay Family Office, sedang dalam proses membuka kantor cabang di UEA.
Lim, pemilik sebuah kantor keluarga di Abu Dhabi, mengatakan rencananya tidak berubah - selama UEA tidak terlibat langsung dalam konflik dan tidak terjadi eskalasi lebih lanjut dari Iran.
"Hal yang benar-benar akan menjadi penghalang bagi bisnis adalah jika UEA terlibat langsung di pihak salah satu pihak dalam konflik," kata Lim.
Baca Juga: Rupee Tertekan Konflik Timur Tengah, RBI Gelontorkan US$ 12 Miliar













