kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.603.000   -7.000   -0,27%
  • USD/IDR 18.055   47,00   0,26%
  • IDX 6.269   34,03   0,55%
  • KOMPAS100 823   5,07   0,62%
  • LQ45 627   3,45   0,55%
  • ISSI 216   0,46   0,21%
  • IDX30 352   2,42   0,69%
  • IDXHIDIV20 433   2,36   0,55%
  • IDX80 94   0,48   0,51%
  • IDXV30 119   0,28   0,24%
  • IDXQ30 112   0,57   0,51%

Harga Minyak Bangkit Tipis Selasa (4/8) Pagi, Brent ke US$ 84,39 per Barel


Selasa, 04 Agustus 2026 / 08:34 WIB
Harga Minyak Bangkit Tipis Selasa (4/8) Pagi, Brent ke US$ 84,39 per Barel
ILUSTRASI. Harga Minyak (REUTERS/Dado Ruvic)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia rebound tipis pada perdagangan Selasa (4/8/2026), sehari setelah mengalami penurunan tajam.

Pelaku pasar kembali mencermati risiko gangguan pasokan dari Timur Tengah seiring belum jelasnya prospek penyelesaian diplomatik konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Mengutip Reuters, hingga pukul 00.55 GMT, kontrak Brent untuk pengiriman terdekat naik US$ 0,62 atau 0,7% menjadi US$ 84,39 per barel. Pada sesi sebelumnya, Brent anjlok sekitar 7% dan ditutup di level terendah dalam tiga pekan.

Baca Juga: Yen Masih Perkasa Pascaintervensi Jepang-AS Selasa (4/8), Dolar Sulit Bangkit

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat US$ 0,61 atau 0,7% menjadi US$ 80,95 per barel, setelah pada perdagangan Senin turun lebih dari 5% ke level terendah dalam hampir satu pekan.

Harga minyak sebelumnya tertekan setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan dirinya menunda serangan baru terhadap Iran sambil menunggu hasil pembicaraan untuk mengakhiri perang dan menyelesaikan sengketa terkait penguasaan Selat Hormuz.

Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis yang menghubungkan negara-negara produsen minyak di Teluk dengan pasar global.

Sebelum konflik pecah, sekitar 20% konsumsi minyak dunia dikirim melalui jalur tersebut setiap harinya.

Namun, pada Senin, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, membantah pernyataan Trump.

Baca Juga: Gedung Putih Undang OpenAI, Google hingga Meta Bahas Uji Keamanan AI

Ia menegaskan tidak ada perundingan dengan Amerika Serikat dan tidak ada agenda pertemuan yang dijadwalkan.

Chief Market Analyst KCM Trade Tim Waterer mengatakan, tekanan terhadap harga minyak memang mulai mereda setelah Trump menunda serangan ke Iran dan mengisyaratkan peluang negosiasi.

Namun, menurutnya, pelemahan harga minyak masih sangat rentan berbalik arah.

"Harga minyak bisa kembali melonjak jika serangan rudal kembali terjadi atau kapal-kapal di sekitar Selat Hormuz kembali menjadi sasaran," ujarnya.

Perselisihan mengenai Selat Hormuz masih menjadi pokok sengketa antara Washington dan Teheran.

Pemerintah AS menyatakan nota kesepahaman yang disepakati pada Juni mewajibkan Iran membuka jalur pelayaran tersebut.

Baca Juga: ​1.367 Bitcoin Raib dari Ribuan Dompet Coldcard, Kerugian Tembus Rp 1,6 Triliun

Sebaliknya, Iran menilai kesepakatan itu tetap memberikan kewenangan kepada Teheran untuk mengatur lalu lintas pelayaran di kawasan tersebut.

Analis Barclays mencatat ekspor bersih minyak mentah dan produk olahan yang melewati Selat Hormuz pada pekan yang berakhir 31 Juli rata-rata mencapai 4,2 juta barel per hari, meningkat dibandingkan 3,2 juta barel per hari pada pekan sebelumnya.

Di Laut Merah, data pelayaran menunjukkan enam kapal tanker raksasa berbendera Arab Saudi baru-baru ini mengubah rute di Teluk Aden dan memilih berlayar mengitari Afrika bagian selatan.

Meski demikian, dua kapal tanker yang mengangkut minyak Saudi tetap melintasi Selat Bab el-Mandeb.

Data yang sama juga menunjukkan lalu lintas kapal di Selat Hormuz, yang berada di antara Iran dan Oman, melambat setelah muncul laporan mengenai serangan terhadap sejumlah kapal.

Baca Juga: Inflasi Korea Selatan Turun ke 2,8% pada Juli 2026, di Bawah Ekspektasi Pasar

Pada Selasa, United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) melaporkan menerima informasi mengenai sebuah insiden sekitar 20 mil laut (37 kilometer) di timur laut Al Khasab, Oman.

Sebuah kapal kargo dilaporkan mengirim sinyal darurat melalui kanal radio VHF 16 setelah terkena proyektil yang belum diketahui asalnya.

Waterer menilai meskipun konflik antara Arab Saudi dan kelompok Houthi belum sepenuhnya menghentikan arus pasokan energi, situasi tersebut telah memperpanjang waktu pelayaran, meningkatkan biaya asuransi, serta memaksa sebagian kapal mengalihkan rute.

Menurutnya, risiko gangguan di Laut Merah dan Selat Hormuz membuat premi risiko geopolitik pada harga minyak masih sulit hilang sepenuhnya.




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×