Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia ditutup melemah pada perdagangan Kamis (29/10/2026), di tengah harapan dimulainya kembali perundingan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Optimisme diplomatik tersebut meredakan sebagian kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan minyak akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.
Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent untuk kontrak pengiriman turun 44 sen atau 0,38% menjadi US$ 114,88 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah 78 sen atau 0,76% ke level US$ 102 per barel.
Baca Juga: Harga Emas Dunia Anjlok 1,4%, Pasar Antisipasi Kenaikan Suku Bunga The Fed
Kedua acuan harga minyak tersebut sempat turun lebih dari US$ 2 per barel pada awal perdagangan, setelah sehari sebelumnya Brent melonjak 1,3% dan WTI naik 3%.
Analis UBS Giovanni Staunovo mengatakan, harga minyak berada di bawah tekanan akibat upaya diplomatik baru untuk meredakan konflik di Timur Tengah.
Wakil Presiden AS JD Vance dilaporkan berupaya menghidupkan kembali negosiasi damai dengan mengirimkan surat kepada Mohsen Rezaei, kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran.
Laporan Wall Street Journal yang mengutip pejabat AS dan sumber yang mengetahui persoalan tersebut menyebutkan langkah itu merupakan bagian dari upaya membuka kembali jalur diplomasi.
Mediator Qatar juga telah menyampaikan rancangan kesepakatan baru kepada Iran untuk mengakhiri perang. Namun, seorang pejabat senior Iran menilai gagasan tersebut belum dapat diterima dan belum memenuhi syarat sebagai tawaran resmi.
Menteri Luar Negeri Iran pada Rabu (28/10/2026) menyatakan Teheran masih memberikan kesempatan bagi diplomasi untuk mencapai kesepakatan.
Ia juga membuka kemungkinan penyelesaian rencana tujuh hari Iran dalam waktu kurang dari sepekan apabila rencana tersebut diadopsi.
Baca Juga: Bersiap Situasi Darurat, 33 Negara Imbau Warga Siapkan Stok Makanan, Air & Obat
Serangan terhadap fasilitas energi batasi penurunan harga
Meski peluang negosiasi menekan harga minyak, risiko gangguan pasokan tetap membayangi pasar.
Kelompok Houthi Yaman pada Kamis mengklaim telah menyerang kilang minyak Ras Tanura dan Rabigh, fasilitas Aramco di Abqaiq, serta sejumlah bandara di Arab Saudi. Namun, belum ada konfirmasi langsung dari pemerintah Arab Saudi mengenai klaim tersebut.
Mitra Again Capital John Kilduff mengatakan, laporan mengenai gelombang serangan baru tersebut membantu harga minyak memangkas sebagian penurunan pada akhir sesi perdagangan.
Baca Juga: Sudah Dipenjara Seumur Hidup, Mantan Presiden Ini Dituntut Hukuman Mati
Koalisi pimpinan Arab Saudi yang memerangi Houthi juga menyatakan telah menghancurkan sebuah rudal balistik yang ditembakkan kelompok tersebut ke wilayah timur Arab Saudi pada Kamis pagi.
Analis Gelber and Associates menilai intersepsi rudal tersebut menunjukkan ancaman terhadap infrastruktur energi regional masih berlangsung, meskipun upaya perundingan kembali meningkat.
Di sisi lain, Wall Street Journal melaporkan pejabat militer senior AS yang bertanggung jawab atas kawasan Timur Tengah bertemu dengan Presiden Donald Trump di Gedung Putih pada Kamis. Pertemuan tersebut dilaporkan membahas sejumlah opsi militer terhadap Iran.
Kekhawatiran bahwa pemerintahan Trump dapat melancarkan serangan terhadap Iran setelah pemilihan paruh waktu AS pada 3 November turut membatasi pelemahan harga minyak.
Ancaman keamanan juga berdampak pada aktivitas industri energi. ExxonMobil dan Chevron dilaporkan membatalkan rencana perjalanan para eksekutif mereka ke pameran minyak terbesar di Uni Emirat Arab pekan depan karena alasan keamanan.
Sementara itu, Korps Garda Revolusi Islam Iran menyatakan tiga kapal tanker terkena ranjau laut, meledak, dan terbakar ketika mencoba melintasi rute yang tidak diizinkan di selatan Selat Hormuz dalam kurun 24 jam.
Klaim tersebut menambah kekhawatiran mengenai keamanan jalur pelayaran strategis bagi perdagangan energi dunia.
Baca Juga: Green Climate Fund Kucurkan US$ 1,97 Miliar, Pendanaan Iklim Cetak Rekor
Kenaikan produksi Rusia menahan harga minyak
Ekspektasi peningkatan produksi minyak mentah dan diesel Rusia turut membatasi kenaikan harga minyak dunia.
Kilduff mengatakan sinyal yang beragam dari Rusia mengenai pemenuhan komitmen pasokan diesel kepada AS membuat pelaku pasar tetap berhati-hati dalam memperkirakan keseimbangan pasokan.
Analis JPMorgan menyebut belum ada serangan terkonfirmasi lanjutan terhadap infrastruktur pengolahan minyak Rusia sejak serangan pada kilang Ryazan pada 15 Oktober. Kondisi tersebut memungkinkan aktivitas pengolahan minyak Rusia pulih.
Pengolahan minyak mentah Rusia meningkat 350.000 barel per hari pada pekan sebelumnya menjadi 4 juta barel per hari, menurut catatan analis JPMorgan.
Baca Juga: Rusia Perpanjang Larangan Ekspor Solar hingga Akhir Tahun 2026
Dari AS, data Energy Information Administration (EIA) menunjukkan persediaan minyak mentah dan produk distilat turun pada pekan yang berakhir 23 Oktober akibat peningkatan permintaan. Sebaliknya, persediaan bensin meningkat.
Meski demikian, analis perusahaan pelacakan kapal Kpler menyoroti bahwa angka ekspor yang dilaporkan EIA lebih tinggi dibandingkan hasil pemantauan sistem mereka sendiri.
Pergerakan harga minyak selanjutnya akan dipengaruhi perkembangan negosiasi AS-Iran, risiko serangan terhadap infrastruktur energi Timur Tengah, serta kemampuan produsen utama dunia menjaga pasokan di tengah ketidakpastian geopolitik.














