Harga Minyak Jatuh ke Level Terendah dalam 6 Bulan, WTI Ditutup di Bawah US$ 90

Rabu, 17 Agustus 2022 | 05:54 WIB Sumber: Reuters
Harga Minyak Jatuh ke Level Terendah dalam 6 Bulan, WTI Ditutup di Bawah US$ 90

ILUSTRASI. Harga minyak mentah kembali anjlok dengan WTI ditutup ke bawah US$ 90 per barel


KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Harga minyak mentah anjlok sekitar 3% ke level terendah sejak sebelum invasi Rusia ke Ukraina. Sentimen yang menyeret harga minyak datang dari data ekonomi yang memicu kekhawatiran tentang potensi resesi global.

Di saat yang sama, pasar menunggu kejelasan tentang pembicaraan untuk menghidupkan kembali kesepakatan yang dapat memungkinkan lebih banyak ekspor minyak Iran.

Selasa (16/8), harga minyak mentah berjangka jenis Brent untuk kontrak pengiriman Oktober 2022 ditutup melemah US$ 2,76 atau 2,9% menjadi US$ 92,34 per barel. Harga kontrak Brent mencapai level terendah pada sesi ini di US$ 91,71 per barel, terendah sejak 18 Februari.

Sejalan, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman September 2022 juga ditutup anjlok US$ 2,88 atau 3,2% ke US$ 86,53 per barel. Harga minyak patokan ini jatuh ke sesi terendah di US$ 85,73 per barel, terendah sejak 26 Januari.

Kedua harga minyak kontrak acuan ini juga sudah anjlok sekitar 3% di sesi sebelumnya.

Baca Juga: Harga Minyak Anjlok, WTI Bergerak di Bawah US$ 90 per Barel

Saat ini, Uni Eropa sedang menilai tanggapan Iran terhadap apa yang disebut blok itu sebagai proposal final untuk menyelamatkan kesepakatan nuklir 2015, dan berkonsultasi dengan Amerika Serikat (AS), kata seorang juru bicara Uni Eropa, kemarin.

Iran menanggapi proposal itu pada Senin malam, tetapi tidak ada pihak yang memberikan rincian.

"Masih belum jelas apa yang dikatakan Iran kepada Uni Eropa tadi malam, sehingga beberapa item rumit mungkin berdampak pada hasil kesepakatan nuklir," kata analis UBS Giovanni Staunovo.

Di saat yang sama, indikator ekonomi yang lemah membebani harga minyak acuan.

Pembangunan rumah AS jatuh ke level terendah dalam hampir 1 tahun hingga 1,5 tahun di bulan Juli, terbebani oleh tingkat hipotek yang lebih tinggi dan kenaikan harga bahan bangunan. Ini menunjukkan pasar perumahan dapat berkontraksi lebih lanjut pada kuartal ketiga.

"Pedagang minyak bereaksi karena kekhawatiran tentang perlambatan ekonomi dan perumahan menggunakan energi," kata Phil Flynn, seorang analis di grup Price Futures.

"Itu mengejutkan kami," lanjut dia

Baca Juga: Wall Street Bervariasi, S&P dan Dow Ditutup Manguat Berkat Optimisme Sektor Ritel

Di sisi lain, bank sentral China memangkas suku bunga pinjaman untuk mencoba menghidupkan kembali permintaan karena ekonomi di Negeri Tirai Bambu melambat secara tak terduga pada Juli setelah kebijakan nol-COVID dan krisis properti memperlambat aktivitas pabrik dan ritel.

Media pemerintah, yang mengutip Perdana Menteri Li Keqiang mengatakan, China akan secara wajar meningkatkan dukungan kebijakan makro untuk ekonomi.

Sementara itu, Barclays memangkas perkiraan harga Brent sebesar US$ 8 per barel untuk tahun ini dan tahun berikutnya. Itu dilakukan karena perkiraan surplus besar minyak mentah dalam waktu dekat karena pasokan Rusia yang tahan.

Pelaku pasar menunggu data industri tentang persediaan minyak AS yang diharapkan pada hari Selasa. Stok minyak mentah dan bensin kemungkinan turun minggu lalu, sementara persediaan sulingan naik, jajak pendapat awal Reuters menunjukkan pada hari Senin.

Editor: Anna Suci Perwitasari

Terbaru