Harga Minyak Lanjut Menguat di Pagi Ini, WTI dan Brent Naik US$ 1 Per Barel

Selasa, 28 Juni 2022 | 08:13 WIB Sumber: Reuters
Harga Minyak Lanjut Menguat di Pagi Ini, WTI dan Brent Naik US$ 1 Per Barel

ILUSTRASI. Harga minyak lanjut penguatan

KONTAN.CO.ID - MELBOURNE. Harga minyak mentah lanjut menguat sekitar 1% di awal perdagangan sesi Asia. Suntikan tenaga datang setelah Menteri Energi Uni Emirat Arab mengatakan, tingkat produksi UEA mendekati kapasitas, dan ini bertentangan dengan ekspektasi bahwa itu dapat membantu meningkatkan pasokan di pasar yang ketat.

UEA dan Arab Saudi telah dilihat sebagai dua negara di Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dengan kapasitas cadangan yang tersedia untuk menebus pasokan Rusia yang hilang dan output yang lemah dari negara-negara anggota lainnya.

Selasa (28/6) pukul 07.50 WIB, harga minyak mentah berjangka jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Agustus 2022 melesat US$ 1,07 atau 1% menjadi US$ 110,64 per barel. Ini memperpanjang kenaikan 1,8% yang dicetak di sesi sebelumnya.

Sejalan, harga minyak mentah jenis Brent berjangka untuk kontrak pengiriman Agustus 2022 melonjak US$ 1,08 atau 0,9% ke US$ 116,17 per barel, menambah kenaikan 1,7% di perdagangan sebelumnya.

Baca Juga: Harga Minyak Ditutup Melesat US$ 2 Per Barel Ditopang Janji G7 Beri Sanksi Baru Rusia

"Sejumlah berita tentang pasokan yang ketat mendukung pasar. Dua produsen utama, Arab Saudi dan UEA, dikatakan berada pada, atau sangat dekat, batas kapasitas jangka pendek," kata analis komoditas Commonwealth Bank Tobin Gorey dalam sebuah catatan.

Senin (27/6), Menteri Energi UEA Suhail al-Mazrouei mengatakan, UEA memproduksi mendekati kapasitas maksimum berdasarkan kuota 3,168 juta barel per hari (bph), di bawah perjanjian dengan OPEC+.

Komentarnya mengkonfirmasi pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron yang mengatakan kepada Presiden AS Joe Biden di sela-sela pertemuan Group of 7 (G7) bahwa UEA berproduksi pada kapasitas maksimum dan bahwa Arab Saudi dapat meningkatkan produksi hanya 150.000 barel per hari, jauh di bawah cadangan utamanya dengan kapasitas sekitar 2 juta barel per hari.

Analis juga menyoroti kerusuhan politik di Ekuador dan Libya juga bisa memperketat pasokan minyak global lebih lanjut.

Di awal pekan ini, National Oil Corp Libya mengatakan bahwa mereka mungkin harus mengumumkan force majeure di daerah Teluk Sirte dalam tiga hari ke depan, kecuali produksi dan pengiriman dilanjutkan di terminal minyak di sana.

Baca Juga: Wall Street Lesu: Dow Jones, S&P 500 dan Nasdaq Kompak Melemah

Sementara itu, Kementerian Energi Ekuador mengatakan, negara itu dapat menghentikan produksi minyak sepenuhnya dalam dua hari ke depan, di tengah protes anti-pemerintah. Negara bekas OPEC itu memompa sekitar 520.000 barel per hari sebelum protes berlangsung.

Faktor-faktor tersebut menggarisbawahi kekurangan di pasar, yang telah menyebabkan rebound pasar minggu ini, melawan kegelisahan resesi yang membebani harga selama dua minggu sebelumnya.

"Lebih banyak barel harus datang ke pasar agar harga minyak bergerak secara signifikan dan terus turun," kata Managing Partner SPI Asset Management Stephen Innes dalam sebuah catatan.

Editor: Anna Suci Perwitasari

Terbaru