Harga Minyak Ditutup Melesat US$ 2 Per Barel Ditopang Janji G7 Beri Sanksi Baru Rusia

Selasa, 28 Juni 2022 | 05:53 WIB Sumber: Reuters
Harga Minyak Ditutup Melesat US$ 2 Per Barel Ditopang Janji G7 Beri Sanksi Baru Rusia

ILUSTRASI. Harga minyak kembali mendidih di awal pekan setelah rencana G7 beri sanksi baru ke Rusia


KONTAN.CO.ID - HOUSTON. Harga minyak mentah melesat US$ 2 per barel di awal pekan ini setelah prospek pasokan yang lebih ketat membayangi pasar. Hal itu terjadi karena negara-negara Group of 7 (G7) berjanji untuk memperketat tekanan pada Rusia dengan menurunkan harga energi.

Senin (27/6), harga minyak mentah berjangka jenis Brent untuk kontrak Agustus 2022 ditutup melonjak US$ 1,97 atau 1,7% ke US$ 115,09 per barel.

Sejalan, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate untuk kontrak pengiriman Agustus 2022 ditutup naik US$ 1,95 atau 1,8% menjadi US$ 109,57 per barel.

Katalis utama bagi harga minyak datang setelah negara G7 bersumpah untuk mendukung Ukraina "selama yang dibutuhkan", dan mengusulkan untuk membatasi harga minyak Rusia sebagai bagian dari sanksi baru guna memukul keuangan Moskow.

"Saya pikir jika mereka menerapkan batas harga pada penjualan dan pembelian minyak Rusia, sulit bagi saya untuk membayangkan bagaimana ini akan diterapkan, terutama ketika China dan India telah menjadi pelanggan terbesar Rusia," kata konsultan perusahaan minyak yang berbasis di Houston Andrew Lipow.

Baca Juga: Harga Minyak Merangkak Naik, Masih Turun Dalam Sepekan Terakhir

Analis Commonwealth Bank of Australia Vivek Dhar mencatat bahwa "tidak ada yang menghentikan Rusia dari melarang ekspor minyak dan produk olahan ke negara-negara G7 sebagai tanggapan atas pembatasan harga, memperburuk kondisi kekurangan di pasar minyak global dan produk olahan."

Komunitas internasional harus mengeksplorasi semua opsi untuk mengurangi pasokan energi yang terbatas, termasuk pembicaraan dengan negara-negara produsen seperti Iran dan Venezuela, kata seorang pejabat kepresidenan Prancis. Ekspor minyak kedua anggota OPEC telah dibatasi oleh sanksi AS.

Kedua patokan minyak mentah ditutup untuk minggu kedua berturut-turut pada hari Jumat karena kenaikan suku bunga di negara-negara ekonomi utama memperkuat dolar dan mengipasi kekhawatiran resesi global.

Kekhawatiran resesi dan ekspektasi kenaikan suku bunga lebih lanjut telah menyebabkan volatilitas dan penghindaran risiko di pasar berjangka, dengan beberapa investor dan pedagang energi mengurangi, sementara harga minyak mentah tetap kuat karena permintaan tinggi dan krisis pasokan.

Untuk saat ini, menekan kekhawatiran pasokan melebihi kekhawatiran terhadap proyeksi pertumbuhan.

Baca Juga: Wall Street Ditutup Melemah, Terseret Koreksi Saham Megacap

Di sisi lain, OPEC+, yang juga berisi Rusia, mungkin akan tetap berpegang pada rencana untuk mempercepat peningkatan produksi minyak pada Agustus ketika bertemu pada Kamis (30/6), kata sumber.

Sebuah laporan yang dilihat oleh Reuters menunjukkan, kelompok produsen juga memangkas proyeksi surplus pasar minyak 2022 menjadi 1 juta barel per hari (bph), turun dari 1,4 juta bph.

Anggota OPEC, Libya mengatakan, pada hari Senin bahwa mereka mungkin harus menghentikan ekspor di daerah Teluk Sirte dalam waktu 72 jam di tengah kerusuhan yang telah membatasi produksi.

Menambah kesengsaraan pasokan, Ekuador juga mengatakan dapat menghentikan produksi minyak sepenuhnya dalam waktu 48 jam di tengah protes anti-pemerintah di mana sedikitnya enam orang tewas.

Pedagang juga menunggu berita tentang kapan persediaan minyak pemerintah AS yang menggerakkan pasar dan data lainnya akan diterbitkan setelah tidak dirilis minggu lalu karena masalah server.

Persediaan minyak mentah, sulingan dan bensin AS kemungkinan turun minggu lalu, jajak pendapat awal Reuters menunjukkan pada hari Senin.

Editor: Anna Suci Perwitasari

Terbaru