CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.600.000   -25.000   -0,95%
  • USD/IDR 17.627   61,00   0,35%
  • IDX 6.541   -47,96   -0,73%
  • KOMPAS100 858   -8,05   -0,93%
  • LQ45 650   -6,26   -0,95%
  • ISSI 227   -3,10   -1,35%
  • IDX30 361   -3,60   -0,99%
  • IDXHIDIV20 450   -2,93   -0,65%
  • IDX80 98   -0,98   -0,99%
  • IDXV30 125   -0,95   -0,75%
  • IDXQ30 116   -1,19   -1,02%

Harga Minyak Mendekati US$110, IEA Ungkap Ancaman Besar di Baliknya


Jumat, 11 September 2026 / 18:56 WIB
Harga Minyak Mendekati US$110, IEA Ungkap Ancaman Besar di Baliknya
ILUSTRASI. Badan Energi Internasional (IEA) (REUTERS/Sarah Meyssonnier)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Badan Energi Internasional (IEA) memperingatkan bahwa kesenjangan antara pasokan dan permintaan minyak global pada 2026 berpotensi semakin melebar.

Gangguan aliran minyak dari kawasan Teluk akibat konflik di Timur Tengah diperkirakan berlangsung lebih lama dari perkiraan sebelumnya.

Dalam laporan bulanannya yang dirilis Jumat (11/9/2026), IEA memperkirakan pasokan minyak dunia pada 2026 akan turun sekitar 5,7 juta barel per hari (bph) atau sekitar 6%.

Baca Juga: India Makin Dekat dengan Rusia, Modi dan Putin Bahas Energi hingga Perdagangan

Perkiraan tersebut lebih besar dibandingkan proyeksi sebelumnya yang memperkirakan penurunan pasokan sekitar 4%.

Gangguan pasokan terjadi ketika konflik di Timur Tengah belum menunjukkan tanda-tanda berakhir.

Serangan terhadap kapal tanker di sejumlah jalur pelayaran kawasan tersebut turut mendorong harga minyak mentah mendekati US$110 per barel pada pekan ini, level tertinggi sejak Mei.

Harga produk olahan minyak bahkan mengalami kenaikan lebih tajam. Harga bahan bakar seperti diesel mencatat rekor tertinggi di tengah gangguan terhadap kilang minyak akibat konflik di Timur Tengah dan perang Rusia-Ukraina.

Kenaikan harga bahan bakar mulai menekan permintaan. IEA memperkirakan permintaan minyak dunia pada 2026 akan turun 2,5 juta bph, lebih dalam dibandingkan proyeksi sebelumnya yang memperkirakan penurunan 1,6 juta bph.

Namun, penurunan pasokan diperkirakan berlangsung lebih cepat dibandingkan pelemahan permintaan.

Kondisi tersebut memaksa pasar menguras persediaan minyak pada laju yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Baca Juga: Pasokan Minyak Arab Saudi Capai Titik Terendah Dalam Lebih dari 3 Dekade

Persediaan minyak global turun sekitar 3,1 juta bph pada Agustus, sehingga berada di level terendah sejak 2023.

"Persediaan sejauh ini memainkan peran penting dalam menyeimbangkan pasar," kata IEA dalam laporannya.

IEA memperingatkan bahwa ruang penyangga pasar semakin menyusut, sementara sistem pengolahan minyak global telah beroperasi mendekati batas kapasitas.

"Seiring menyusutnya penyangga dan sistem penyulingan global yang berada di bawah tekanan maksimum, kebutuhan untuk mencapai kemajuan dalam penyelesaian konflik di Timur Tengah dan perang Rusia-Ukraina kini semakin besar untuk menghindari pengetatan pasar lebih lanjut," kata IEA.

Produksi Arab Saudi Anjlok

Gangguan pasokan juga semakin terasa setelah serangan terhadap fasilitas energi Arab Saudi dan blokade Amerika Serikat terhadap Iran menekan produksi kelompok OPEC+.

IEA mencatat produksi OPEC+ turun 1,8 juta bph menjadi 38,8 juta bph pada Agustus.

Produksi minyak mentah Arab Saudi mengalami penurunan paling tajam. Pasokan minyak negara tersebut turun 2,3 juta bph menjadi 6 juta bph pada Agustus, level terendah dalam lebih dari tiga dekade setelah serangan mengganggu fasilitas produksi dan jalur pengiriman.

Baca Juga: Harga Minyak Diproyeksi Tembus US$100, Harga Solar AS Cetak Rekor

Sejumlah serangan juga menyasar kapal yang melintasi Bab el-Mandeb, kilang Jazan dan jalur pelayaran di sekitar Yanbu.

Sementara itu, kelompok milisi yang didukung Iran di Irak melancarkan serangan drone terhadap kompleks pengolahan minyak Abqaiq.

Ancaman terhadap jalur perdagangan minyak kembali meningkat setelah kelompok Houthi yang berafiliasi dengan Iran mengambil alih pelabuhan Mocha di Yaman pada Kamis. Kondisi tersebut berpotensi semakin mengganggu lalu lintas pelayaran di Laut Merah.

Permintaan Diprediksi Pulih pada 2027

Di tengah tekanan harga energi, IEA memperkirakan permintaan minyak global akan kembali meningkat pada 2027.

IEA memproyeksikan, konsumsi minyak dunia tumbuh sekitar 2,6 juta bph pada 2027. Kenaikan tersebut diperkirakan terjadi setelah konsumsi minyak pada tahun ini tertekan oleh lonjakan harga bahan bakar.

Baca Juga: Kebangkrutan Perusahaan di Jerman Capai Level Tertinggi dalam 13 Tahun

Proyeksi IEA berbeda dengan OPEC. Kelompok produsen minyak tersebut masih memperkirakan permintaan minyak global tumbuh pada 2026, meskipun telah memangkas proyeksinya untuk bulan kelima berturut-turut.

OPEC memperkirakan permintaan minyak dunia pada 2026 meningkat sekitar 380.000 bph.

Untuk 2027, baik IEA maupun OPEC sama-sama memperkirakan konsumsi minyak global kembali meningkat.

OPEC memproyeksikan pertumbuhan permintaan sekitar 2,36 juta bph, relatif sejalan dengan perkiraan IEA.




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×